Presiden Prabowo Subianto mendorong agar inovasi tepung pemadam kebakaran yang terbuat dari ubi segera diproduksi secara massal. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan, atau karhutla, yang kerap menjadi persoalan nasional setiap musim kemarau. Kehadiran alternatif bahan pemadam berbasis komoditas lokal diharapkan mampu memangkas ketergantungan pada metode konvensional yang selama ini digunakan di lapangan.
Temuan Anggota Babinsa di Lubuklinggau
Berdasarkan informasi yang dihimpun, inovasi tepung pemadam dari ubi ini disebut merupakan hasil temuan anggota Babinsa di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Babinsa, atau Bintara Pembina Desa, adalah aparat teritorial TNI yang bertugas mendampingi masyarakat di tingkat desa dan kelurahan. Kedekatan mereka dengan warga menjadikan anggota Babinsa kerap berada di garda terdepan saat karhutla melanda, baik dalam pemadaman awal maupun sosialisasi pencegahan kepada masyarakat.
Temuan tersebut muncul dari pengalaman lapangan yang berulang, ketika upaya pemadaman dengan peralatan seadanya sering kali menemui kendala, terutama di lahan gambut yang sulit dijangkau. Dari situlah gagasan memanfaatkan tepung ubi sebagai media pemadam lahir, dengan harapan memberikan solusi yang lebih praktis, murah, dan mudah didapat oleh masyarakat sekitar.
Konteks Karhutla di Sumatera Selatan
Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi yang kerap menjadi pusat perhatian nasional saat musim karhutla tiba. Luasnya hamparan lahan gambut dan praktik penyiapan lahan yang kurang terkendali menjadi faktor yang memperbesar risiko kebakaran di wilayah tersebut. Kabut asap yang dihasilkan bahkan pernah berdampak lintas batas, sehingga penanganan yang cepat dan tepat menjadi kebutuhan mendesak.
Di tengah kondisi tersebut, kehadiran inovasi dari unsur teritorial seperti Babinsa menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus datang dari teknologi besar. Pendekatan berbasis kearifan lokal dan bahan baku setempat justru dapat menjawab kebutuhan di lapangan secara lebih realistis. Sosialisasi penggunaan tepung ubi sebagai pemadam juga dinilai lebih mudah diterima warga karena bahan bakunya akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Mengapa Tepung Ubi Dianggap Potensial
Secara teknis, tepung ubi dinilai memiliki karakteristik yang dapat membantu proses pemadaman, antara lain kemampuannya menyerap kelembapan dan membentuk lapisan yang menghambat pasokan oksigen ke titik api. Ubi kayu sendiri merupakan komoditas yang melimpah di sejumlah daerah, termasuk Sumatera Selatan, sehingga bahan bakunya relatif mudah diperoleh dengan biaya terjangkau. Hal ini menjadikan inovasi tersebut menarik tidak hanya dari sisi efektivitas, tetapi juga dari sisi ketersediaan bahan baku di lapangan.
Produksi Massal dan Dampaknya bagi Masyarakat
Arahan untuk memproduksi tepung pemadam ini secara massal membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi berbasis komoditas lokal. Petani ubi dapat memperoleh nilai tambah, sementara industri pengolahan tepung berpotensi tumbuh di daerah-daerah penghasil ubi. Jika berjalan sesuai rencana, inovasi ini tidak hanya menjadi solusi teknis penanganan karhutla, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Selain itu, produksi massal akan memastikan ketersediaan stok yang memadai ketika musim kemarau tiba. Selama ini, salah satu kendala utama dalam penanggulangan karhutla adalah keterbatasan peralatan dan bahan pemadam di lapangan. Dengan adanya stok tepung pemadam yang diproduksi secara masif, kesiapsiagaan daerah rawan karhutla diharapkan meningkat secara signifikan.
Harapan bagi Penanganan Karhutla Nasional
Inovasi ini menambah daftar upaya pemerintah dalam menekan luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Karhutla tidak hanya merugikan dari sisi lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat akibat kabut asap, gangguan transportasi, hingga kerugian ekonomi yang besar. Oleh karena itu, setiap terobosan yang mampu mempercepat dan mempermudah proses pemadaman patut mendapat dukungan.
Namun demikian, efektivitas dan keamanan penggunaan tepung ubi sebagai bahan pemadam tetap perlu diuji lebih lanjut melalui serangkaian kajian ilmiah sebelum diterapkan secara luas. Hasil uji tersebut nantinya dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun standar penggunaan, termasuk takaran dan teknik aplikasi yang tepat di berbagai jenis lahan, baik mineral maupun gambut.
Ke depannya, dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga akademisi, diperlukan untuk menyempurnakan formulasi dan memastikan standar keamanannya. Dengan begitu, inovasi yang berawal dari temuan anggota Babinsa di Lubuklinggau ini dapat benar-benar dimanfaatkan secara luas dan memberi manfaat nyata bagi upaya perlindungan hutan dan lahan di tanah air.
Comments (0)