Oct 08, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Prabowo dorong pembinaan karier TNI berbasis prestasi

Jakarta — Menteri Pertahanan sekaligus pemegang tampuk kebijakan pertahanan negara, Prabowo Subianto, menyampaikan arah pembinaan sumber daya manusia di lingkungan Tentara Nasional Indonesia yang me...

Prabowo dorong pembinaan karier TNI berbasis prestasi

Jakarta — Menteri Pertahanan sekaligus pemegang tampuk kebijakan pertahanan negara, Prabowo Subianto, menyampaikan arah pembinaan sumber daya manusia di lingkungan Tentara Nasional Indonesia yang menekankan pada capaian nyata setiap prajurit. Dalam pandangannya, penilaian terhadap kinerja personel harus mengacu pada prestasi yang terukur, bukan sekadar lama masa dinas atau urutan usia.

Pernyataan itu menggambarkan perubahan pola pikir yang selama ini lazim ditemui di ruang-ruang kemiliteran, di mana hierarki kadang dijadikan patokan utama dalam menentukan jalur karier seseorang. Kebijakan semacam ini, bila diterapkan secara konsisten, diyakini mampu mempercepat regenerasi kepemimpinan di tubuh kekuatan pertahanan nasional.

Ukuran kemampuan, bukan panjang usia

Fokus utama dari arah kebijakan tersebut adalah pergeseran cara menilai. Selama ini, prajurit yang lebih lama berdinas kerap dianggap lebih layak menduduki posisi tertentu hanya karena telah melewati tahapan waktu yang panjang. Padahal, kebutuhan operasional modern menuntut kemampuan teknis, kecepatan pengambilan keputusan, serta penguasaan sistem senjata dan komunikasi digital yang terus berkembang.

Prajurit dengan catatan kinerja unggul harus mendapat ruang lebih luas untuk maju, terlepas dari siapa yang lebih dahulu bergabung dalam satuan. Pendekatan semacam ini dinilai mampu menumbuhkan iklim kompetisi sehat, di mana setiap personel berusaha membuktikan diri melalui hasil kerja, bukan melalui kedekatan personal atau asal-usul pendidikan.

Secara administratif, penilaian prestasi dapat diwujudkan melalui sistem evaluasi berkala yang mencakup aspek fisik, mental, profesionalisme, serta kontribusi dalam latihan maupun operasi nyata. Data capaian tersebut kemudian menjadi bahan pertimbangan utama saat promosi, penempatan, maupun penugusan khusus.

Menjawab tantangan pertahanan masa kini

Lanskap pertahanan global mengalami perubahan cepat. Perang informasi, ancaman siber, hingga teknologi nirawak menuntut personel militer yang adaptif dan cerdas. Dalam konteks ini, sistem pembinaan yang hanya mengandalkan senioritas berisiko menempatkan figur yang kurang siap pada posisi strategis.

Faktanya adalah, negara-negara dengan kekuatan militer modern sudah lama menerapkan pola penilaian berbasis kompetensi. Kinerja di lapangan menjadi indikator utama, sementara masa dinas hanya menjadi salah satu variabel pendukung. Indonesia, dengan jumlah personel dan wilayah operasi yang luas, dinilai perlu bergerak ke arah serupa agar daya saing tetap terjaga.

Selain itu, kebijakan berbasis prestasi diyakini mampu menjaga moralitas di dalam satuan. Prajurit yang merasa hasil kerjanya diakui cenderung lebih termotivasi, sementara mereka yang merasa tersisihkan karena faktor non-teknis dapat kehilangan semangat profesional. Kondisi tersebut, bila dibiarkan, pada akhirnya berdampak pada kesiapan operasional satuan secara keseluruhan.

Tantangan penerapan di lapangan

Meskipun arah kebijakan terdengar ideal, penerapannya tidak lepas dari sejumlah hambatan. Budaya lama yang masih melekat di sebagian kalangan dapat menimbulkan resistensi, terutama dari pihak yang merasa posisinya terancam oleh sistem baru. Karena itu, diperlukan payung aturan yang jelas sekaligus mekanisme pengawasan agar penilaian tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

Transparansi kriteria penilaian menjadi syarat mutlak agar sistem tidak berubah bentuk menjadi alat favoritisme yang baru. Setiap indikator prestasi harus didefinisikan secara terbuka, dilengkapi dengan dokumentasi yang dapat diverifikasi, serta memiliki jalur keberatan bagi prajurit yang merasa dinilai tidak adil.

Aspek pembekalan juga tidak bisa diabaikan. Personel yang hendak dinilai berdasarkan kompetensi perlu memperoleh akses pelatihan, pendidikan, dan pengalaman tugas yang setara. Tanpa pemerataan kesempatan, penilaian berbasis prestasi berpotensi menghasilkan kesenjangan baru antara satuan pusat dan daerah.

Langkah konkret ke depan

Untuk mewujudkan kebijakan tersebut, sejumlah langkah praktis dapat ditempuh. Pertama, penyusunan indikator kinerja yang objektif dan relevan dengan tugas pokok tiap korps. Kedua, pemanfaatan sistem informasi kepegawaian digital agar riwayat prestasi setiap prajurit tercatat rapi dan mudah diaudit. Ketiga, peninjauan berkala terhadap keputusan promosi guna memastikan tidak ada penyimpangan prosedur.

Di samping itu, pendidikan dan latihan perlu diarahkan pada pengembangan keterampilan yang diukur secara kuantitatif. Hasil latihan tempur, kemampuan teknis, serta kecakapan memimpin tim dapat dijadikan bahan evaluasi yang objektif. Dengan demikian, penilaian tidak lagi bersifat subjektif dan mudah dipengaruhi faktor hubungan interpersonal.

Berdasarkan arah kebijakan yang disampaikan, sistem pembinaan karier di lingkungan pertahanan ke depan diharapkan semakin meritokratis. Prinsipnya sederhana: mereka yang mampu membuktikan kualitasnya diberi ruang untuk bertugas pada posisi yang lebih tinggi, sementara proses seleksi tetap berjalan secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perubahan semacam ini bukan sekadar soal penentuan jabatan, melainkan juga menyangkut kesiapan menghadapi berbagai ancaman di masa mendatang. Kesiapan itu hanya bisa dibentuk apabila orang-orang terbaik ditempatkan pada posisi yang tepat, berdasarkan bukti kinerja yang nyata dan terdokumentasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User