PM Modi di Candi Prambanan: Restorasi dan Kerja Sama Indonesia-India Dimatangkan

Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Kompleks Candi Prambanan di Yogyakarta menandai babak baru dalam hubungan bilateral Indonesia-India di bidang pelestarian warisan budaya. Kehadiran pem...

Jul 13, 2026 - 08:22
0 0
PM Modi di Candi Prambanan: Restorasi dan Kerja Sama Indonesia-India Dimatangkan

Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Kompleks Candi Prambanan di Yogyakarta menandai babak baru dalam hubungan bilateral Indonesia-India di bidang pelestarian warisan budaya. Kehadiran pemimpin negara Asia Selatan itu bukan sekadar wisata sejarah, melainkan juga misi budaya untuk meninjau langsung rencana revitalisasi candi Hindu terbesar di Indonesia tersebut. Pemerintah Indonesia dan India sedang merancang mekanisme teknis dan pendanaan bersama guna mengembalikan kemegahan situs yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO itu.

Rencana Besar di Balik Kunjungan Kenegaraan

Berdasarkan keterangan resmi yang dirilis oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, skema kerja sama restorasi Prambanan belum sepenuhnya final. Kedua negara masih menyusun detail teknis yang mencakup metode konservasi batu candi, pengembangan sistem drainase kawasan, serta perawatan struktur yang terdampak pelapukan dan aktivitas seismik. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa aspek keahlian dan teknologi dari India menjadi salah satu pilar penting dalam rencana ini, mengingat Negeri Anak Benua itu memiliki pengalaman panjang dalam merestorasi candi-candi kuno serupa, seperti kompleks Khajuraho dan kuil-kuil di Hampi.

Prambanan sendiri menyimpan kompleksitas konservasi yang tidak sederhana. Candi yang dibangun pada abad ke-9 Masehi ini sempat mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi besar pada abad ke-16 dan kemudian letusan Gunung Merapi. Proyek rekonstruksi besar-besaran yang dimulai sejak era kolonial Belanda hingga rampungnya pemugaran Candi Siwa pada 1953 menunjukkan bahwa upaya pelestarian memerlukan pendanaan jangka panjang dan keahlian multidisiplin. Kerja sama Indonesia-India diharapkan mampu menjawab tantangan serupa di masa kini, khususnya menyangkut pemantapan struktur dan perlindungan terhadap risiko gempa di zona Cincin Api Pasifik.

Dimensi Diplomasi Budaya dan Sejarah

Hubungan historis Nusantara dengan anak benua India telah terjalin selama lebih dari satu milenium melalui jalur perdagangan dan penyebaran agama Hindu-Buddha. Prambanan adalah bukti arsitektural paling spektakuler dari pengaruh itu. Kunjungan Modi ke candi ini bukan hanya simbolis, tetapi juga menjadi pengakuan India atas warisan budaya bersama yang melampaui batas-batas geografis. Inisiatif restorasi yang ditawarkan dapat dibaca sebagai kelanjutan dari diplomasi budaya yang telah dibangun kedua negara melalui forum-forum seperti Konferensi Warisan Dunia dan pertukaran ahli arkeologi.

Pemerintah Indonesia menyambut baik tawaran kerja sama teknis tersebut. Salah satu poin yang sedang dipertimbangkan adalah pengiriman tenaga ahli restorasi dari India untuk bekerja bersama tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta dan arkeolog Indonesia. Selain itu, rencana pengembangan pusat dokumentasi digital artefak Prambanan yang melibatkan teknologi pemindaian tiga dimensi buatan India juga muncul dalam pembahasan awal. Langkah ini selaras dengan upaya pemerintah untuk memperkuat basis data cagar budaya nasional yang terintegrasi sekaligus mendukung pariwisata edukatif berbasis realitas virtual.

Struktur dan Dampak Restorasi yang Diusulkan

Detail teknis yang masih digodok meliputi pemetaan ulang kerusakan mikro pada setiap blok batu candi, rekonstruksi sistem pengalihan air hujan di sekitar kompleks guna mengurangi risiko erosi pondasi, serta penanganan lumut dan mikroorganisme yang tumbuh di permukaan relief. India memiliki Laboratorium Riset Konservasi Nasional di Lucknow yang telah mengembangkan metode biologis ramah lingkungan untuk membersihkan lumut pada monumen bersejarah, sebuah pendekatan yang menarik untuk diadopsi di Prambanan meng mengingat iklim tropis Indonesia yang lembap.

Dari sisi pembiayaan, belum ada angka pasti yang disepakati. Namun model kemitraan yang diusulkan kemungkinan menggunakan skema co-funding antara pemerintah kedua negara, dengan porsi Indonesia sebagai pemilik aset budaya utama dan India sebagai mitra ahli. Skema ini mirip dengan proyek restorasi Candi Ta Prohm di Kamboja yang didanai oleh India pada 2000-an, yang dianggap sukses meskipun menuai beberapa kontroversi metodologis. Indonesia tentu akan lebih selektif dan menempatkan prinsip-prinsip Piagam Burra (Burra Charter) sebagai acuan, yaitu mengedepankan intervensi minimal dan reversibel pada warisan budaya.

Dukungan dari Sektor Akademis dan Masyarakat

Kalangan arkeolog Indonesia umumnya merespons positif rencana kerja sama ini, dengan catatan bahwa setiap tindakan restorasi harus didasarkan pada rekomendasi ilmiah yang ketat dan melibatkan banyak pemangku kepentingan. Profesor dari Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada telah beberapa kali mengingatkan bahwa keaslian material dan filosofi bangunan harus tetap dipertahankan. Restorasi tidak boleh menjadi rekonstruksi yang menghilangkan jejak autentisitas, karena justru autentisitas itulah yang menjadi nilai utama Prambanan sebagai warisan dunia.

Sementara itu, komunitas lokal di sekitar Prambanan antusias dengan potensi peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari India. Selama ini, wisatawan India masuk dalam lima besar pengunjung Candi Borobudur dan Prambanan. Kunjungan Modi diyakini akan memperkuat citra Prambanan di mata publik India dan memicu gelombang baru wisata ziarah sejarah. Pemerintah desa setempat berharap program restorasi juga mencakup pemberdayaan ekonomi warga melalui pelatihan keterampilan konservasi dan pengelolaan homestay berkonsep budaya.

Langkah Selanjutnya dan Komitmen Bersama

Tahapan berikutnya adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Kebudayaan Indonesia dan Kementerian Kebudayaan India. Dokumen itu akan menjadi payung hukum bagi pertukaran ahli, transfer teknologi, dan alokasi anggaran. Pemerintah Indonesia menargetkan MoU tersebut dapat diteken pada akhir tahun ini, bersamaan dengan kunjungan balasan pejabat tinggi Indonesia ke New Delhi. Sebelum itu, tim teknis dari kedua negara akan melakukan survei lapangan bersama di Prambanan pada triwulan mendatang.

Keseriusan Modi mengunjungi Prambanan langsung di tengah jadwal kenegaraan yang padat menunjukkan bahwa India memandang proyek ini sebagai prioritas. Bagi Indonesia, momentum ini adalah kesempatan untuk memperkuat infrastruktur konservasi nasional tanpa sepenuhnya bergantung pada dana UNESCO atau lembaga donor Barat. Dengan sinergi yang tepat, restorasi Prambanan versi 2025 dapat menjadi model baru diplomasi budaya Selatan-Selatan yang konkret dan berdampak langsung pada pelestarian peradaban.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User