Persembahyangan Hari Raya Kuningan di Pura Jambi
Umat Hindu di Provinsi Jambi kembali melaksanakan persembahyangan khidmat dalam rangka memperingati Hari Raya Kuningan. Perayaan yang jatuh tepat sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan ini menjadi m
Umat Hindu di Provinsi Jambi kembali melaksanakan persembahyangan khidmat dalam rangka memperingati Hari Raya Kuningan. Perayaan yang jatuh tepat sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan ini menjadi momen sakral bagi umat untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan keseimbangan hidup kepada Sang Hyang Widi Wasa serta para leluhur. Suasana spiritual yang kental terasa di berbagai pura yang tersebar di wilayah Jambi, mengingatkan akan warisan kebudayaan dan kearifan lokal yang tetap lestari.
Dari laporan yang dihimpun media kami, ribuan umat memadati area tempat ibadah sejak pagi hari. Mereka hadir mengenakan pakaian adat putih, membawa canang sari, dupa, serta aneka bunga sebagai bentuk ungkapan syukur. Ritual diawali dengan sembahyang bersama yang dipimpin oleh para pemangku dan tokoh agama setempat. Deru gamelan dan asap dupa yang mengepul membangkitkan aura religius, menciptakan suasana tenang yang menyentuh hati setiap peserta ibadah.
Secara spiritual, Hari Raya Kuningan diyakini sebagai momentum turunnya berkah dari para dewata dan arwah leluhur ke dunia manusia. Berbeda dengan Galungan yang lebih mengokohkan kemenangan dharma melawan adharma, Kuningan menjadi hari pamitan sekaligus memohon restu agar kehidupan ke depan senantiasa dilimpahi keberkahan. Masyarakat Hindu meyakini bahwa pada hari ini vibrasi positif sangat kuat, sehingga setiap doa dan persembahan dilakukan dengan penuh konsentrasi serta kesungguhan hati.
"Kuningan adalah hari yang sangat suci bagi kami. Ini adalah waktu untuk memohon agar keluarga dan masyarakat selalu berada dalam lindungan Tuhan. Kami bersyukur tahun ini kegiatan berjalan lancar dan khidmat," ujar Made Suardana, perwakilan umat Hindu di salah satu pura di Kota Jambi.
Selain ritual keagamaan, perayaan ini juga menjadi ajang mempererat tali persaudaraan antarumat. Sesajen hasil bumi seperti nasi kuning, buah-buahan, dan kue tradisional disusun rapi di depan pelinggih, kemudian didoakan bersama sebelum dibagikan kepada warga sebagai bentuk tanda kasih. Prosesi ini dikenal dengan istilah banten yang memiliki makna filosofis mendalam tentang keterikatan manusia dengan alam semesta serta rasa syukur atas karunia yang diterima.
Laporan media kami mencatat, kehadiran umat dari berbagai penjuru daerah di Jambi menunjukkan semangat kebhinekaan yang tetap terjaga. Tidak hanya umat Hindu, masyarakat dari berbagai latar belakang agama juga turut menghormati prosesi dengan menjaga ketertiban dan kekhusyukan di sekitar area pura. Keharmonisan ini menjadi bukti nyata bahwa toleransi beragama masih menjadi perekat sosial yang kuat di Bumi Melayu ini.
Dengan berakhirnya rangkaian persembahyangan Kuningan, umat Hindu berharap segala cita-cita dan harapan yang dipanjatkan dapat terkabul. Semangat dari perayaan ini diharapkan tidak hanya berhenti pada ritual semata, melainkan juga membawa dampak positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di masa mendatang.
Comments (0)