Peringkat Literasi PISA: Prabowo Serukan Pembenahan Mendesak

Jakarta – Menteri Pertahanan sekaligus Presiden terpilih periode 2024-2029, Prabowo Subianto, menyoroti rendahnya peringkat kemampuan membaca masyarakat Indonesia berdasarkan hasil Programme for Int...

Peringkat Literasi PISA: Prabowo Serukan Pembenahan Mendesak

Jakarta – Menteri Pertahanan sekaligus Presiden terpilih periode 2024-2029, Prabowo Subianto, menyoroti rendahnya peringkat kemampuan membaca masyarakat Indonesia berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA). Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah harus menerima hasil PISA sebagai peringatan serius untuk melakukan pembenahan menyeluruh guna meningkatkan kapasitas literasi nasional.

Klaim Prabowo Soal PISA

Prabowo mengemukakan bahwa data PISA menunjukkan posisi Indonesia yang masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara lain dalam hal kemampuan membaca. Ia menyebutkan bahwa hasil tersebut bukan sekadar angka, melainkan cerminan kualitas sumber daya manusia yang akan menentukan daya saing bangsa di masa depan. Pernyataan ini disampaikan dalam forum diskusi terbatas yang membahas arah kebijakan pendidikan nasional.

Berdasarkan verifikasi, klaim bahwa peringkat literasi Indonesia rendah memang didukung oleh data resmi. Hasil PISA 2022 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan skor membaca Indonesia berada di angka 359, jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 476. Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-71 dari 81 negara yang berpartisipasi. Faktanya adalah, sejak PISA pertama kali diikuti Indonesia pada tahun 2000, skor membaca tidak pernah mengalami peningkatan signifikan, bahkan cenderung stagnan.

Pernyataan Prabowo vs Data Resmi

Prabowo menekankan bahwa pemerintah tidak boleh mengabaikan hasil PISA. Ia menyebutkan bahwa pembenahan harus dimulai dari kurikulum, pelatihan guru, hingga akses bahan bacaan yang merata. Sumber resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa proporsi siswa Indonesia yang mencapai level kompetensi minimum dalam membaca hanya sekitar 40 persen. Ini berarti mayoritas siswa belum mampu memahami teks secara mendalam, menarik inferensi, atau mengevaluasi informasi.

Data menunjukkan bahwa pernyataan Prabowo sejalan dengan temuan PISA. Namun, terdapat nuansa yang perlu diperjelas. Meskipun skor membaca Indonesia rendah, PISA juga mencatat bahwa Indonesia mengalami peningkatan partisipasi sekolah, terutama di tingkat menengah pertama. Hal ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya akses, melainkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, pernyataan Prabowo yang menyebut perlunya pembenahan menyeluruh dapat dikategorikan sebagai respons yang tepat terhadap kondisi faktual.

Implikasi Kebijakan dan Tantangan

Pernyataan Prabowo mengindikasikan bahwa pemerintah yang akan datang akan menjadikan literasi sebagai prioritas. Namun, tantangan di lapangan sangat kompleks. Berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2023, Indonesia menghadapi kesenjangan kualitas guru yang signifikan, terutama di daerah terpencil. Selain itu, distribusi buku dan infrastruktur digital masih belum merata, dengan banyak sekolah di wilayah timur yang kekurangan perpustakaan dan akses internet.

Prabowo juga menyinggung bahwa hasil PISA harus menjadi bahan introspeksi, bukan pembenaran untuk saling menyalahkan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat sipil. Faktanya adalah, beberapa inisiatif seperti Asesmen Nasional yang diluncurkan Kemendikbudristek telah dirancang untuk memetakan kompetensi siswa secara lebih akurat. Namun, efektivitas program tersebut masih memerlukan evaluasi berkelanjutan.

Kesimpulan

Berdasarkan verifikasi terhadap pernyataan Prabowo Subianto terkait peringkat baca Indonesia versi PISA, dapat disimpulkan bahwa klaim tersebut adalah BENAR. Data resmi dari OECD dan Kemendikbudristek mengonfirmasi bahwa kemampuan membaca pelajar Indonesia masih jauh di bawah rata-rata global. Pernyataan Prabowo yang menyerukan pembenahan adalah langkah yang tepat, namun perlu diingat bahwa perbaikan tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan komitmen jangka panjang, anggaran yang memadai, dan reformasi struktural dalam sistem pendidikan. Jika tidak, Indonesia berisiko terus tertinggal dalam kompetisi global yang semakin berbasis pengetahuan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User