Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Pengelolaan Pendakian Gunung Bawakaraeng Harus Diperketat agar Insiden Tak Terulang

Peristiwa yang menimpa para pendaki di Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menjadi pengingat atas lemahnya tata kelola aktivitas pendakian di kawasan tersebut. Kejadian ini memberi i...

Pengelolaan Pendakian Gunung Bawakaraeng Harus Diperketat agar Insiden Tak Terulang

Peristiwa yang menimpa para pendaki di Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menjadi pengingat atas lemahnya tata kelola aktivitas pendakian di kawasan tersebut. Kejadian ini memberi isyarat tegas bagi pengelola kawasan untuk segera menyusun sistem pengaturan kegiatan pendakian yang lebih ketat dan terukur, dengan keselamatan sebagai prioritas utama, agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

Insiden yang Menjadi Peringatan Dini

Gunung Bawakaraeng merupakan salah satu destinasi pendakian yang paling digemari di Sulawesi Selatan. Setiap musim libur, ratusan pendaki memadati jalur menuju puncaknya. Namun, tingginya minat pendaki tidak sejalan dengan kesiapan pengelola dalam mengatur pergerakan mereka di lapangan. Jalur yang ramai tanpa pengawasan yang memadai berpotensi mengubah petualangan menjadi bencana ketika keadaan darurat muncul.

Insiden yang dialami pendaki di gunung ini menjadi bukti bahwa prosedur keselamatan yang berjalan selama ini masih menyisakan celah. Dalam situasi darurat, keterlambatan respons dan minimnya koordinasi antara pendaki, pemandu, dan petugas kawasan dapat memperbesar risiko korban. Berdasarkan kejadian tersebut, evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pendakian menjadi sebuah keharusan, bukan lagi pilihan. Kejadian serupa di masa lalu seharusnya menjadi rujukan agar langkah antisipasi disiapkan sejak dini, bukan setelah korban berjatuhan.

Kondisi Geologis yang Tidak Bisa Diabaikan

Faktor yang memperkuat urgensi pengaturan ini adalah kondisi geologis Gunung Bawakaraeng yang dikenal rapuh. Kawasan ini pernah mengalami longsoran besar pada 2004 yang menggelontorkan material dalam jumlah masif ke daerah aliran Sungai Jeneberang dan berdampak pada waduk Bili-Bili di hilirnya. Peristiwa itu menunjukkan bahwa lereng gunung ini memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap pergerakan tanah, terutama ketika curah hujan meningkat.

Rute pendakian yang melintasi medan berbatu dan berlereng curam semakin menambah tingkat risiko. Cuaca di puncak yang berubah cepat, kabut tebal, serta potensi hujan deras merupakan kombinasi berbahaya bagi pendaki yang tidak dibekali informasi memadai. Dalam konteks inilah peran pengelola menjadi krusial untuk menilai kelayakan kondisi sebelum pendakian diizinkan.

Regulasi dan Pengawasan yang Diperlukan

Berbagai langkah dapat ditempuh pengelola untuk mencegah terulangnya insiden. Pertama, penerapan sistem perizinan pendakian yang wajib diikuti seluruh calon pendaki, lengkap dengan pendataan identitas, jumlah anggota, rencana jalur, dan perkiraan waktu turun. Kedua, pembatasan kuota pendaki harian untuk menghindari penumpukan di titik-titik rawan. Ketiga, pendirian pos pemantauan di sepanjang jalur yang dilengkapi alat komunikasi dan petugas terlatih. Keempat, penguatan koordinasi dengan tim penyelamat dan instansi terkait agar respons terhadap kondisi darurat dapat berjalan cepat dan terpadu.

Selain itu, pengelola perlu menetapkan aturan penghentian sementara aktivitas pendakian ketika kondisi cuaca atau geologi dinyatakan tidak aman. Penutupan jalur yang dilakukan berdasarkan data dan pemantauan lapangan harus menjadi kebijakan yang dipatuhi, bukan sekadar imbauan. Informasi terkini mengenai kondisi gunung juga wajib disampaikan secara transparan kepada publik agar pendaki dapat mengambil keputusan secara sadar sebelum memulai perjalanan.

Edukasi dan Kesadaran Pendaki

Pengaturan dari sisi pengelola tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan kesadaran pendaki itu sendiri. Setiap pendaki seharusnya mempersiapkan diri secara fisik dan mental, membawa perlengkapan yang memadai, serta memahami prosedur penyelamatan dasar. Pendaki juga dituntut mematuhi instruksi petugas dan tidak memaksakan diri melanjutkan perjalanan ketika kondisi tidak mendukung.

Edukasi keselamatan pendakian perlu diperluas, tidak hanya melalui sosialisasi di pos pendaftaran, tetapi juga lewat kanal digital dan pelatihan rutin yang melibatkan komunitas pendaki. Semakin tinggi pemahaman pendaki terhadap risiko, semakin kecil kemungkinan mereka mengambil tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Menjadikan Insiden sebagai Pelajaran

Setiap insiden yang menimpa pendaki sejatinya meninggalkan pelajaran berharga. Alih-alih dibiarkan berlalu, kejadian di Gunung Bawakaraeng ini harus dijadikan dasar untuk memperbaiki seluruh rantai pengelolaan pendakian, mulai dari pendataan, pemantauan, hingga tanggap darurat. Kolaborasi antara pengelola kawasan, pemerintah daerah, aparat, dan komunitas pendaki menjadi kunci agar langkah-langkah tersebut dijalankan secara konsisten.

Keselamatan di gunung bukanlah tanggung jawab satu pihak. Dengan regulasi yang tegas, pengawasan yang berkelanjutan, dan kesadaran yang tumbuh dari setiap pendaki, risiko tragedi dapat ditekan seminimal mungkin. Harapannya, pengalaman pahit kali ini melahirkan tata kelola yang lebih baik, sehingga Gunung Bawakaraeng tetap menjadi ruang petualangan yang aman bagi siapa pun yang menapakinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User