Pengamat HI Subhan Yusuf: Saatnya Indonesia Aktif di Mediasi Eropa

Jakarta – Dinamika geopolitik di Eropa Timur terus memicu kecemasan global, termasuk di Indonesia. Subhan Yusuf, pengamat hubungan internasional yang menempuh pendidikan magister di Civitas Universi...

Jul 12, 2026 - 18:37
0 1
Pengamat HI Subhan Yusuf: Saatnya Indonesia Aktif di Mediasi Eropa

Jakarta – Dinamika geopolitik di Eropa Timur terus memicu kecemasan global, termasuk di Indonesia. Subhan Yusuf, pengamat hubungan internasional yang menempuh pendidikan magister di Civitas University, Warsawa, Polandia, menekankan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis untuk berperan sebagai jembatan dialog dalam konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut. Menurutnya, kedekatan historis dengan Gerakan Non-Blok dan rekam jejak diplomatik Indonesia di berbagai forum internasional menjadi modal penting yang belum dimaksimalkan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta yang membahas implikasi perang Ukraina terhadap stabilitas Eropa dan perekonomian dunia. Subhan Yusuf, yang menghabiskan bertahun-tahun mempelajari dinamika politik Eropa dari pusat akademik di Warsawa, menilai bahwa keamanan Eropa tidak dapat dipisahkan dari keseimbangan kekuatan global. "Eropa Timur saat ini menjadi pusat gravitasi konflik yang melibatkan kekuatan besar. Indonesia, dengan jumlah penduduk Muslim terbesar dan demokrasi yang stabil, seharusnya tidak hanya menjadi penonton," ujarnya.

Memahami Kompleksitas Eropa Timur

Subhan Yusuf menjelaskan bahwa krisis di Ukraina tidak hanya berdimensi militer, tetapi juga menyentuh aspek energi, pangan, dan arus pengungsi yang berdampak langsung pada negara-negara berkembang. Berdasarkan pengamatannya, sanksi ekonomi yang diterapkan terhadap Rusia telah menciptakan disrupsi rantai pasok global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data dari Badan Energi Internasional menunjukkan lonjakan harga gas alam hingga 400% di beberapa negara Eropa pada puncak krisis, yang kemudian merembet ke harga pupuk dan bahan pangan di Asia dan Afrika.

"Sebagai lulusan universitas di Polandia, saya menyaksikan secara langsung bagaimana negara-negara Eropa Tengah dan Timur seperti Polandia dan negara Baltik menjadi garda terdepan dalam merespons ancaman keamanan baru. Namun, respons militer dan sanksi saja tidak cukup. Diperlukan arsitektur keamanan yang inklusif dan melibatkan kekuatan menengah dari kawasan lain," tambah Subhan Yusuf.

Ia juga menyoroti bahwa institusi-institusi tradisional seperti NATO dan Uni Eropa sedang mengalami tekanan internal untuk mendefinisikan ulang peran mereka. Di tengah kebuntuan tersebut, muncul peluang bagi negara seperti Indonesia untuk menawarkan perspektif baru yang menekankan pada diplomasi preventif dan penyelesaian damai.

Peran Indonesia: Bukan Sekadar Norma, tetapi Aksi

Subhan Yusuf menilai bahwa politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif selama ini cenderung reaktif dalam merespons krisis Eropa Timur. Padahal, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan komparatif yang dapat dikapitalisasi. Pertama, Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim yang menunjukkan bahwa Islam dan demokrasi dapat berjalan beriringan, sebuah narasi yang penting untuk mengimbangi pengaruh ideologi ekstrem di kawasan konflik. Kedua, Indonesia menjadi jembatan alami antara negara-negara berkembang dan maju melalui keanggotaannya di G20.

"Kita lihat bagaimana Turki berhasil memainkan peran kunci dalam perundingan koridor gandum Laut Hitam. Indonesia memiliki kapasitas serupa, bahkan dengan keunggulan bahwa kita tidak memiliki konflik kepentingan langsung dengan pihak mana pun di Eropa," jelasnya. Menurut Subhan Yusuf, Indonesia dapat mempelopori inisiatif dialog lintas kawasan yang melibatkan ASEAN, Uni Afrika, dan negara-negara Amerika Latin untuk membangun konsensus global tentang penyelesaian konflik secara damai.

Ia menekankan, langkah tersebut membutuhkan diplomasi yang lebih agresif dan terencana, bukan sekadar pernyataan normatif di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. "Kementerian Luar Negeri perlu membentuk satuan tugas khusus yang fokus pada mediasi Eropa Timur, didukung oleh para ahli yang memahami konteks historis dan budaya kawasan tersebut," usulnya.

Pelajaran dari Warsawa

Pengalamannya tinggal dan belajar di Warsawa memberikan perspektif unik bagi Subhan Yusuf. Polandia, yang menjadi tuan rumah bagi jutaan pengungsi Ukraina, menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan dapat menjadi jembatan diplomasi. "Masyarakat Polandia membuka rumah mereka untuk para pengungsi, dan itu menciptakan hubungan emosional yang melampaui kepentingan politik. Indonesia juga dapat menunjukkan solidaritas serupa dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan tidak hanya ke Ukraina, tetapi juga ke negara-negara tetangga yang terdampak," katanya.

Menurutnya, keterlibatan Indonesia dalam isu kemanusiaan akan meningkatkan profil internasional sekaligus memperkuat legitimasi moral ketika berbicara tentang perdamaian. "Dunia tidak membutuhkan lebih banyak senjata; dunia membutuhkan lebih banyak jembatan. Indonesia bisa menjadi arsitek jembatan itu," pungkas Subhan Yusuf.

Dengan meningkatnya ketidakpastian global, pandangan Subhan Yusuf mengingatkan bahwa kekuatan menengah seperti Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk turut membentuk tatanan dunia yang lebih stabil. Apakah pemerintah akan mengambil langkah berani tersebut, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User