Asa Pedagang Buku Terminal Senen di Tengah Proyek Penataan
Di tengah bisingnya proyek revitalisasi yang mengubah wajah Terminal Senen, sebuah komunitas kecil masih setia menata tumpukan buku-buku lusuh bersampul kumal. Mereka adalah para pedagang buku bekas ...
Di tengah bisingnya proyek revitalisasi yang mengubah wajah Terminal Senen, sebuah komunitas kecil masih setia menata tumpukan buku-buku lusuh bersampul kumal. Mereka adalah para pedagang buku bekas yang telah berpuluh tahun menjadikan sudut terminal ini sebagai rumah kedua. Bisnis yang mereka jalani bukan sekadar mencari laba, melainkan juga merawat memori panjang tentang sejarah literasi di jantung ibu kota.
Sebelum kawasan Senen dikenal lekat dengan stereotip keras—sebelum label sebagai tempat peredaran narkoba dan arena perkelahian massal melekat—pasar buku lawas ini sudah menjadi destinasi intelektual. Pada era 1970-an hingga 1990-an, para mahasiswa, dosen, kolektor, dan pembaca setia dari berbagai penjuru Jakarta bahkan luar kota rela menyusuri gang-gang sempit demi memburu buku-buku langka dengan harga terjangkau. Saat itu, Terminal Senen adalah etalase pengetahuan bagi mereka yang haus akan bacaan.
Tradisi ini dimulai dari para pedagang kaki lima yang secara informal menggelar lapak di sekitar area keberangkatan bus. Tanpa izin resmi, mereka hanya berbekal tekad dan keyakinan bahwa buku adalah jendela dunia yang patut diakses oleh semua kalangan. Lambat laun, komunitas ini tumbuh dan membentuk ekosistem tersendiri: bukan cuma transaksi jual-beli, melainkan juga ruang bercerita, berdebat, dan berbagi wawasan. Bahkan, tidak sedikit penulis dan seniman yang mengaku menemukan inspirasi dari lorong-lorong buku ini.
Warisan Pengetahuan yang Terhimpit Proyek Modern
Namun, gempuran waktu dan kebijakan tata kota perlahan mengusik keberadaan mereka. Proyek penataan kawasan Senen yang bertujuan menciptakan pusat transportasi terintegrasi dan area komersial modern mengancam lapak-lapak buku yang telah mengakar puluhan tahun. Para pedagang dihadapkan pada kenyataan pahit: mereka harus bersiap angkat kaki dari lahan yang tidak pernah mereka miliki secara hukum, meski telah ditinggali selama tiga generasi.
Sugeng (62), salah satu pedagang senior yang memulai usaha ayahnya sejak 1985, mengaku gamang. “Waktu pertama kali jualan, saya masih muda. Bapak saya bilang, di sini kita tidak cuma jual kertas, tapi jual ilmu. Sekarang, tiba-tiba kami dianggap tidak punya hak,” ujarnya lirih. Sugeng dan puluhan rekan sesama pelapak hanya memegang surat keterangan usaha dari kelurahan setempat, yang kini tak lagi cukup untuk menahan laju buldoser. Pemerintah daerah, melalui program penertiban PKL, memang memberikan opsi relokasi ke tempat yang sudah disediakan, tetapi mayoritas menolak karena lokasi baru dinilai sepi pembeli dan jauh dari akses transportasi.
Kekhawatiran utama bukan hanya soal pindah tempat, melainkan putusnya rantai budaya. Pasar buku Senen memiliki ekosistem unik: para pelanggan setia yang sudah hafal letak buku dan koneksi emosional dengan pemilik lapak. Jika dipindahkan ke ruang seragam yang dingin, khawatir kehangatan interaksi itu akan lenyap. Seperti yang dikatakan Dina (35), penerus lapak ibunya, “Pembeli datang bukan cuma karena buku, tapi karena kami. Mereka cerita soal hidup, tanya kabar, bahkan kadang titip salam buat kawan sesama pencinta buku.”
Harapan yang Menyala di Balik Tumpukan Buku Tua
Meski terhimpit, asa para pelapak buku Terminal Senen belum padam. Mereka terus menyuarakan aspirasi melalui paguyuban dan menggandeng pegiat literasi serta akademisi untuk memperjuangkan ruang khusus dalam desain penataan kawasan. Sejumlah diskusi dengan pihak terkait telah dilakukan, dan kabar baiknya, ada sinyal dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta untuk mengakomodasi mereka dalam satu zona edukasi dan budaya di dalam konsep baru Terminal Senen. Rencana itu masih berupa draf, namun cukup menjadi napas lega.
“Kami tidak meminta istana. Cukup sudut kecil yang bisa dikenali orang sebagai tempat buku bekas. Biar sejarah ini tidak hilang,” ujar Ketua Paguyuban Pedagang Buku Senen, Harun, saat ditemui di sela-sela bongkar muat buku. Dukungan publik juga mengalir dari komunitas literasi digital yang membuat petisi daring dan mengumpulkan tanda tangan agar keberadaan pasar buku ini dipertahankan. Beberapa tahun terakhir, tren membaca buku fisik justru naik di kalangan anak muda, dan Pasar Senen menjadi salah satu lokasi favorit berburu novel klasik, komik lawas, hingga jurnal akademis dengan harga bersahabat.
Sementara menunggu keputusan final, para pelapak tak tinggal diam. Mereka beradaptasi dengan berjualan daring melalui media sosial dan marketplace. Namun, mereka tegaskan bahwa esensi berdagang buku bekas adalah pada interaksi tatap muka dan sensasi membalik-balik halaman. “Online itu tambahan. Ruhnya tetap di sini, di antara aroma kertas tua dan cerita di balik setiap sampul,” kata Harun.
Revitalisasi Terminal Senen memang tak terelakkan, tapi semoga ia tak melindas akar sejarah yang telah tumbuh jauh sebelum gedung-gedung pencakar langit berdiri. Di tengah riuh mesin konstruksi, tumpukan buku di bawah kolong jembatan penyeberangan itu masih bertahan, menyimpan berjuta kisah dan satu harapan: bahwa pengetahuan tidak boleh kalah oleh beton.
Baca juga:
Comments (0)