Pantai Parangkusumo Gelar Festival Layang-Layang Internasional

Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta – Langit Pantai Parangkusumo pada akhir pekan lalu berubah menjadi kanvas raksasa berhiaskan warna-warni dari ratus

Jul 13, 2026 - 13:45
0 0
Pantai Parangkusumo Gelar Festival Layang-Layang Internasional

Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta – Langit Pantai Parangkusumo pada akhir pekan lalu berubah menjadi kanvas raksasa berhiaskan warna-warni dari ratusan layang-layang yang berlomba di udara. Festival Layang-Layang Internasional tahun ini sukses menyedot perhatian publik dengan kehadiran ratusan penggemar layang-layang dan peserta dari 17 negara. Acara yang telah menjadi agenda tahunan ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas tetapi juga perayaan persahabatan antarbangsa di pesisir selatan Yogyakarta.

Peserta dan Kategori yang Dilombakan

Festival yang digelar selama dua hari penuh ini diikuti oleh delegasi dari 17 negara, termasuk Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand, India, Australia, dan sejumlah negara Eropa. Masing-masing negara membawa layang-layang tradisional khasnya, mulai dari layang-layang pertempuran (fighter kite) dari India, wau bulan dari Malaysia, hingga layang-layang naga bermata tajam dari Tiongkok. Panitia juga membuka kategori untuk peserta lokal, khususnya dari komunitas layang-layang se-DIY dan Jawa Tengah, yang menampilkan layang-layang kreasi baru berbahan daur ulang.

Kronologi Festival: Dari Pembukaan Hingga Puncak Acara

Rangkaian acara disusun sedemikian rupa agar pengunjung dapat menikmati seluruh sajian langit secara bertahap. Berikut urutan kejadian utama selama festival berlangsung:

  1. Pembukaan dan Parade Bendera (Pukul 08.00 – 09.00)
    Upacara pembukaan ditandai dengan pelepasan layang-layang bergambar bendera 17 negara peserta sebagai simbol persahabatan. Bupati Bantul dan perwakilan Kementerian Pariwisata turut menerbangkan layang-layang perdana.
  2. Kompetisi Layang-Layang Tradisional (09.30 – 12.30)
    Juri menilai dari aspek desain, stabilitas terbang, dan kemiripan dengan pakem budaya asal. Tim dari Malaysia dengan wau bulan berukuran tiga meter berhasil mencuri perhatian karena mampu bertahan di ketinggian tanpa terputus angin.
  3. Pertunjukan Layang-Layang Raksasa (13.00 – 15.00)
    Empat layang-layang raksasa berbentuk gurita, paus, naga, dan wayang Gatotkaca diterbangkan bergantian. Masing-masing membutuhkan tim minimal lima orang untuk mengendalikan tali penariknya. Layang naga sepanjang 30 meter menjadi primadona yang paling dinanti.
  4. Workshop dan Pameran (sepanjang acara)
    Di area khusus, pengunjung bisa belajar membuat layang-layang mini dari bambu dan kertas minyak. Terdapat pula pameran layang-layang antik koleksi komunitas yang sebagian berusia lebih dari 50 tahun.
  5. Pengumuman Pemenang dan Penutupan (16.00 – 17.00)
    Juara umum diberikan kepada kontingen Jepang untuk kategori layang-layang artistik, sementara Indonesia meraih juara favorit penonton berkat kreasi layang-layang berbentuk garuda. Acara ditutup dengan fly-pass massal ratusan layang-layang kecil yang diterbangkan serentak oleh pengunjung.

Dampak Ekonomi dan Antusiasme Warga

Pantauan Lurusin.com di lokasi, ribuan pengunjung memadati pantai sejak pagi hari. Pedagang makanan, suvenir, dan penyewaan tikar meraup omzet hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. Salah seorang penjual sate keliling, Sugeng (52), mengaku mampu menjual lebih dari 500 tusuk dalam sehari. "Festival ini selalu membawa berkah. Kami berharap pemerintah daerah terus mendukung acara semacam ini," ujarnya. Di sisi lain, panitia memperkirakan nilai transaksi ekonomi kreatif selama dua hari festival mencapai Rp2,1 miliar, termasuk sektor perhotelan dan transportasi di sekitar Bantul.

Pesan Pelestarian dan Harapan ke Depan

Ketua panitia penyelenggara, Rudi Hartono, menyatakan bahwa festival ini bertujuan melestarikan budaya layang-layang yang mulai tergerus gawai. "Layang-layang bukan sekadar mainan, tapi bagian dari diplomasi budaya dan pendidikan karakter. Kami ingin generasi muda tetap mengenal angin, koordinasi tangan-mata, dan ketekunan," jelasnya. Ia berharap keikutsertaan 17 negara bisa bertambah menjadi 25 negara pada tahun depan, seiring rencana pengembangan infrastruktur area parkir dan panggung permanen di Pantai Parangkusumo.

Berikut adalah tiga pertanyaan esensial yang sering muncul seputar Festival Layang-Layang Internasional Parangkusumo:

1. Kapan festival ini diselenggarakan? Festival digelar setiap tahun, biasanya pada pertengahan tahun saat musim angin timur sedang stabil. Tanggal pasti diumumkan melalui akun resmi Dinas Pariwisata Bantul.

2. Apakah pengunjung bisa ikut menerbangkan layang-layang? Ya, panitia menyediakan sesi fly-pass massal dan workshop, tetapi untuk mengikuti kompetisi resmi harus melalui pendaftaran komunitas terlebih dahulu.

3. Berapa tiket masuk ke lokasi festival? Festival ini tidak memungut biaya tiket khusus di luar retribusi masuk kawasan Pantai Parangkusumo sebesar Rp5.000 per orang.

[SOCIAL_TWEET]: 🪁 Langit Pantai Parangkusumo dihiasi ratusan layang-layang dari 17 negara! Festival Layang-Layang Internasional kembali memukau warga. Dari naga raksasa hingga wau bulan, semua hadir. Baca reportase lengkapnya di Lurusin.com. #FestivalLayangLayang #Parangkusumo #Yogyakarta [SOCIAL_TG]: 🪁 Pantai Parangkusumo baru saja menjadi panggung internasional! Festival Layang-Layang 2024 sukses digelar dengan peserta dari 17 negara. Ada layang naga 30 meter, wau bulan dari Malaysia, dan garuda juara favorit. Baca kronologi dan fakta menarik lainnya di Lurusin.com. Selengkapnya: [link]

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User