Sep 14, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Pakar Gizi Bedah Dampak Melewatkan Sarapan dan Makan Malam Saat Diet

JAKARTA — Tren diet pembatasan waktu makan atau intermittent fasting kian menjamur di tengah masyarakat urban yang berupaya memangkas berat badan secara in

Pakar Gizi Bedah Dampak Melewatkan Sarapan dan Makan Malam Saat Diet

JAKARTA — Tren diet pembatasan waktu makan atau intermittent fasting kian menjamur di tengah masyarakat urban yang berupaya memangkas berat badan secara instan. Namun, perdebatan krusial muncul di kalangan pelaku diet mengenai jendela makan yang paling optimal: apakah lebih efektif melewatkan sarapan pagi atau memangkas porsi makan malam?

Investigasi berbasis data metabolik menunjukkan bahwa kedua opsi tersebut memiliki dampak fisiologis yang bertolak belakang terhadap ritme sirkadian tubuh dan pembakaran kalori.

Kronologi Respons Metabolisme Sepanjang Siklus 24 Jam

Tubuh manusia bekerja mengikuti jam biologis internal yang mengatur sekresi hormon, pencernaan, dan pembakaran energi. Berikut rekam jejak biologis tubuh dalam merespons asupan nutrisi dari pagi hingga malam hari:

  1. Pukul 07.00 – 09.00 WIB (Puncak Sensitivitas Insulin): Pada fase ini, tubuh berada pada tingkat sensitivitas insulin tertinggi. Kalori yang masuk lebih cepat diolah menjadi energi alih-alih disimpan sebagai jaringan adiposa (lemak).
  2. Pukul 12.00 – 14.00 WIB (Fase Pembakaran Aktif): Enzim pencernaan bekerja optimal seiring dengan tingginya aktivitas fisik harian, mendukung metabolisme makronutrien kompleks.
  3. Pukul 19.00 WIB ke Atas (Penurunan Laju Metabolisme): Produksi hormon melatonin mulai meningkat untuk mempersiapkan tidur, sementara sensitivitas insulin menurun tajam. Makanan berat pada fase ini berisiko tinggi dikonversi menjadi cadangan lemak viseral.

Uji Perbandingan: Melewatkan Sarapan vs Makan Malam

Berdasarkan laporan klinis yang meneliti efektivitas time-restricted eating (TRE), melewatkan makan malam (early intermittent fasting) terbukti secara signifikan memberikan parameter kesehatan yang lebih unggul dibandingkan melewatkan sarapan pagi.

"Secara evolusioner dan metabolik, tubuh manusia dirancang untuk memproses kalori di siang hari saat matahari bersinar. Melewatkan makan malam jauh lebih sinkron dengan ritme sirkadian daripada membiarkan tubuh kelaparan di pagi hari saat kebutuhan energi otak memuncak," ungkap laporan tinjauan klinis gizi klinis.

Secara rinci, berikut adalah konsekuensi fisiologis dari kedua metode tersebut:

  • Dampak Melewatkan Sarapan (Skip Breakfast): Pelaku diet kerap mengalami lonjakan hormon ghrelin (hormon pemicu lapar) menjelang siang hari. Hal ini sering memicu binge eating atau makan berlebih saat siang dan sore, serta meningkatkan risiko resistensi insulin jangka panjang.
  • Dampak Melewatkan Makan Malam (Skip Dinner): Kadar gula darah puasa menjadi jauh lebih stabil, peradangan sistemik menurun, dan kualitas tidur meningkat drastis karena sistem pencernaan tidak bekerja keras saat fase istirahat malam.

Rekomendasi Penerapan Pola Makan Terstruktur

Meskipun melewatkan makan malam menawarkan keunggulan metabolisme yang lebih solid, praktisi medis menekankan bahwa faktor keberlanjutan (sustainability) sosial tetap harus diperhitungkan. Banyak individu kesulitan melewatkan makan malam karena agenda sosial atau waktu berkumpul bersama keluarga.

Sebagai kompromi klinis, para pakar menyarankan untuk memajukan jam makan malam terakhir maksimal pukul 18.00 atau 19.00 WIB dengan porsi rendah karbohidrat sederhana, ketimbang menghilangkannya sama sekali jika dirasa terlalu memberatkan secara psikologis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User