Mubasyier Fatah, Ahli Siber yang Pegang Keuangan PP ISNU

Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) kini memiliki figur kunci dengan keahlian ganda yang langka. Di tengah pesatnya transformasi digital organisasi kemasyarakatan, kehadiran Mubasyier Fat...

Jul 12, 2026 - 08:48
0 0
Mubasyier Fatah, Ahli Siber yang Pegang Keuangan PP ISNU

Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) kini memiliki figur kunci dengan keahlian ganda yang langka. Di tengah pesatnya transformasi digital organisasi kemasyarakatan, kehadiran Mubasyier Fatah sebagai Bendahara Umum sekaligus praktisi keamanan siber menjadi sorotan. Perpaduan dua disiplin itu dinilai sangat strategis untuk menjaga transparansi, akuntabilitas, dan keamanan aset organisasi di era digital.

Profil Singkat dan Jejak Karier

Mubasyier Fatah bukan nama baru di kalangan sarjana NU. Sebelum menduduki jabatan Bendahara Umum PP ISNU, ia telah membangun reputasi sebagai konsultan keamanan siber yang menangani berbagai lembaga pemerintah dan swasta. Keahliannya mencakup audit sistem informasi, manajemen risiko digital, dan forensik data. Latar belakang pendidikan formalnya di bidang teknik informatika dan sertifikasi internasional di bidang keamanan siber menjadikannya salah satu ahli yang diperhitungkan.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, ia dikenal aktif dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi berbasis teknologi. Sejak bergabung dengan ISNU, ia kerap menginisiasi pelatihan literasi digital bagi kader dan pelaku usaha kecil di bawah naungan NU. Ketika dipercaya mengelola keuangan organisasi, ia langsung menerapkan sistem pencatatan digital terintegrasi yang memudahkan audit dan pelaporan secara real-time.

Tantangan Keamanan Keuangan Digital di Ormas

Organisasi massa seperti NU memiliki jangkauan dan skala transaksi yang sangat besar, mulai dari sumbangan umat, donasi bencana, hingga pengelolaan aset wakaf. Menurut Mubasyier, risiko kejahatan siber seperti peretasan rekening, pencurian data donatur, atau manipulasi laporan keuangan digital adalah ancaman nyata yang harus diantisipasi. "Digitalisasi keuangan memang memudahkan, tapi tanpa sistem keamanan berlapis, kita seperti membuka pintu lebar-lebar bagi penjahat," ujarnya dalam suatu forum internal.

Data Badan Siber dan Sandi Negara menunjukkan bahwa serangan siber terhadap lembaga non-pemerintah meningkat lebih dari 30% pada dua tahun terakhir. Banyak di antaranya menargetkan lembaga filantropi dan keagamaan yang dinilai memiliki pertahanan digital yang lemah. Berangkat dari fakta itu, Mubasyier mendorong PP ISNU untuk tidak hanya mengandalkan sistem manual, tetapi juga membangun infrastruktur keamanan yang ketat, termasuk enkripsi data, otentikasi dua faktor, dan pelatihan rutin bagi staf keuangan.

Inovasi yang Digulirkan di PP ISNU

Sejak menjabat, Mubasyier telah memperkenalkan sejumlah inovasi. Pertama, penerapan secure cloud accounting yang memungkinkan seluruh unit kerja di daerah melaporkan keuangan secara daring namun tetap terlindungi. Kedua, ia mewajibkan audit keamanan siber berkala yang dilakukan oleh pihak ketiga independen. Ketiga, ia membangun dashboard transparansi yang bisa diakses pengurus pusat untuk memantau arus kas organisasi setiap saat.

Langkah-langkah ini, menurutnya, tidak hanya demi keamanan, tetapi juga untuk memperkuat kepercayaan publik. "Kami ingin menunjukkan bahwa ISNU mengelola uang umat dengan profesional dan aman. Transparansi digital adalah wujud tanggung jawab kami," tegasnya. Inisiatif ini mendapat apresiasi dari banyak pihak, termasuk para pengurus cabang yang merasa lebih mudah menyusun laporan pertanggungjawaban.

Sisi Lain: Pendidikan dan Pemberdayaan

Di luar tugasnya sebagai bendahara, Mubasyier tetap aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keamanan digital. Ia sering menjadi pembicara di pesantren-pesantren, kampus, dan forum ekonomi NU, membawakan tema-tema seperti perlindungan data pribadi, anti-penipuan daring, dan etika bermedia sosial. Baginya, keamanan siber bukan hanya soal teknologi, melainkan juga tentang ketahanan sosial.

"Banyak kader NU yang menjadi korban kejahatan digital karena minimnya pemahaman. Kami hadir untuk memberi bekal agar mereka bisa memanfaatkan internet dengan aman," katanya. Program literasi digital ISNU yang ia inisiasi bahkan telah menjangkau ribuan santri dan guru madrasah di pelosok Jawa Tengah dan Jawa Timur. Program ini dijalankan bersama para ahli yang direkrut dari jaringan profesional ISNU.

Harapan ke Depan

Mubasyier berharap ke depan PP ISNU bisa menjadi contoh organisasi keagamaan yang modern dan tanggap terhadap perkembangan zaman. Ia membayangkan sebuah ekosistem keuangan NU yang sepenuhnya aman, transparan, dan efisien—di mana setiap rupiah yang dipercayakan umat bisa terlacak pemanfaatannya. Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada teknologi, melainkan pada konsistensi dan kemauan untuk berubah.

Dengan kombinasi keahlian yang dimilikinya, Mubasyier Fatah diharapkan mampu menjadi motor transformasi digital di tubuh ISNU dan, lebih luas lagi, di lingkungan Nahdlatul Ulama. Keberadaannya membuktikan bahwa kaum sarjana dan profesional NU siap mengambil peran strategis dalam memajukan organisasi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User