MPLS 2026 Tak Cukup Bebas Perpeloncoan, Wamendikdasmen Dorong Ruang Tumbuhkan Mimpi
Orientasi Siswa Baru Kini Lebih dari Sekadar AntikekerasanJakarta – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada tahun ajaran 2026 akan menghadapi tuntutan baru yang lebih substansial. Pemerintah ...
Orientasi Siswa Baru Kini Lebih dari Sekadar Antikekerasan
Jakarta – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada tahun ajaran 2026 akan menghadapi tuntutan baru yang lebih substansial. Pemerintah menekankan bahwa kegiatan orientasi siswa tidak cukup hanya sekadar terbebas dari praktik perpeloncoan atau perundungan, melainkan harus menjadi wahana strategis untuk menumbuhkan mimpi dan empati dalam diri setiap anak.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, mengemukakan pandangan tersebut sebagai arah kebijakan baru yang mengubah paradigma lama tentang MPLS. Selama bertahun-tahun, fokus publik dan regulator hanya tertuju pada penghapusan kekerasan fisik maupun verbal dalam kegiatan pengenalan sekolah. Kini, setelah standar keamanan dinilai mulai terbentuk, titik berat dialihkan pada pembangunan karakter dan visi hidup peserta didik sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan pendidikan formal.
Mimpi dan Empati sebagai Pilar Utama
Menurut Fajar Riza, masa orientasi seharusnya menjadi ruang inspiratif yang membuka wawasan siswa tentang potensi diri mereka. "Kita ingin MPLS bukan lagi seremonial basa-basi atau sekadar permainan tanpa makna," ujarnya dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta, Selasa (20/5). "Setiap aktivitas harus mampu menyentuh relung kesadaran anak terhadap cita-cita dan kepedulian sosial."
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa sekolah wajib merancang program MPLS yang mampu memantik imajinasi siswa tentang masa depan, sekaligus menanamkan rasa peduli terhadap sesama. Praktik-praktik seperti pengenalan profesi, sesi berbagi kisah sukses alumni, hingga kunjungan ke komunitas marginal disarankan masuk dalam agenda. Intinya, orientasi harus memberi pengalaman yang memperkaya batin, bukan sekadar adaptasi fisik terhadap lingkungan baru.
Kebijakan ini digulirkan menyusul evaluasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang menemukan bahwa sejumlah implementasi MPLS Ramah tahun sebelumnya masih terlalu fokus pada aspek kepatuhan siswa dan minim eksplorasi potensi individual. Beberapa sekolah bahkan hanya menggugurkan kewajiban dengan kegiatan monoton yang gagal menarik antusiasme peserta didik.
Transformasi dari Pelarangan ke Pemberdayaan
Ahli pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Dr. Sari Mulyani, menilai pergeseran fokus ini merupakan langkah maju yang penting. Selama ini, kata dia, regulasi MPLS cenderung bersifat reaktif dengan menekankan daftar larangan: tidak boleh ada kekerasan, tidak boleh ada senioritas berlebihan, tidak boleh ada atribut aneh, dan sebagainya. Pendekatan tersebut, meski berhasil menekan angka pelanggaran, belum menyentuh kebutuhan fundamental siswa baru: rasa percaya diri, rasa aman secara psikologis, dan arah tujuan belajar.
"Larangan hanya mencegah hal negatif, tetapi tidak otomatis menciptakan hal positif. Sekarang kita perlu desain yang proaktif, yang memberdayakan anak untuk berani bermimpi," jelas Sari. Ia menambahkan bahwa anak yang memiliki gambaran jelas tentang cita-citanya sejak dini cenderung lebih termotivasi menjalani proses belajar.
Data Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa pada 2025, lebih dari 90% sekolah telah mematuhi aturan bebas perpeloncoan. Namun, tingkat kepuasan siswa terhadap pengalaman MPLS hanya mencapai 67%, dengan keluhan utama pada kebosanan dan kurangnya makna kegiatan. Inilah yang menjadi dasar dorongan untuk memperkaya konten orientasi dengan unsur pengembangan aspirasi dan empati.
Implementasi di Lapangan: Model MPLS Impian
Beberapa sekolah di Jawa Tengah dan Yogyakarta telah mulai menerapkan model baru yang sejalan dengan arahan kementerian. SMPN 2 Kota Salatiga, misalnya, mengganti sesi pengenalan tata tertib sekolah dengan workshop bertajuk "Merancang Masa Depan". Dalam sesi itu, siswa baru diajak membuat peta cita-cita lima hingga sepuluh tahun ke depan, dilanjutkan diskusi tentang langkah-langkah kecil yang bisa dimulai di bangku sekolah menengah.
"Kami ingin anak-anak tidak sekadar tahu letak laboratorium, tetapi juga tahu ke mana laboratorium itu bisa membawa mereka," ujar Kepala Sekolah SMPN 2 Kota Salatiga, Budi Santoso. Sekolahnya juga mengundang tokoh penyandang disabilitas yang sukses sebagai pembicara, untuk menumbuhkan empati dan menunjukkan bahwa mimpi tidak mengenal batas fisik.
Sementara itu, SMA Negeri 3 Yogyakarta menyelenggarakan program "Jejak Langkah" di mana siswa baru mengunjungi panti asuhan dan komunitas pemulung sebagai bagian dari orientasi. Tujuannya bukan sekadar bakti sosial, melainkan menumbuhkan kepekaan terhadap realitas sosial dan memicu ide-ide solutif dari generasi muda. "Kami percaya, pemimpin masa depan harus memiliki empati yang dalam. Itu tidak bisa diajarkan dengan ceramah, tapi harus dialami," jelas Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Ratna Dewi.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Wamendikdasmen Fajar Riza menegaskan bahwa pihaknya akan menyusun panduan teknis yang lebih rinci untuk membantu sekolah merancang MPLS Ramah edisi 2026 agar sesuai dengan visi penumbuhan mimpi dan empati. Panduan tersebut akan menyertakan contoh modul kegiatan, metode fasilitasi yang efektif, serta indikator keberhasilan yang tidak lagi berupa nihil insiden, melainkan skor keterlibatan emosional dan inspirasi siswa.
Di sisi lain, tantangan terbesar adalah kesiapan guru dan tenaga kependidikan dalam merancang kegiatan yang benar-benar inspiratif. Banyak guru masih terbiasa dengan format orientasi yang bersifat instruktif dan satu arah. Oleh karena itu, pelatihan khusus bagi guru pembimbing MPLS akan digelar secara masif mulai Juni 2026, bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah (LP2KSPS).
Dengan perubahan paradigma ini, MPLS 2026 diharapkan menjadi titik awal perubahan yang lebih besar dalam dunia pendidikan Indonesia: dari panggung penerimaan siswa baru yang pasif menjadi landasan kokoh bagi lahirnya generasi penuh empati dan bermimpi tinggi. Sebagaimana diungkapkan Fajar Riza, "MPLS Ramah bukan sekadar tanpa kekerasan; ia adalah rumah pertama bagi cita-cita anak bangsa."
Baca juga:
Comments (0)