FCC Setujui Satelit Pemantul Matahari, Ilmuwan dan Astronom Protes
Izin peluncuran sebuah satelit berdesain unik yang mampu mengarahkan cahaya Matahari ke permukaan Bumi pada malam hari telah diberikan oleh otoritas telekomunikasi Amerika Serikat. Keputusan ini langs...
Izin peluncuran sebuah satelit berdesain unik yang mampu mengarahkan cahaya Matahari ke permukaan Bumi pada malam hari telah diberikan oleh otoritas telekomunikasi Amerika Serikat. Keputusan ini langsung memicu gelombang penolakan dari kalangan peneliti dan pengamat langit yang menilai proyek tersebut berisiko mengacaukan ekosistem malam global.
Satelit Cermin Raksasa yang Bakal Menyala di Orbit
Berdasarkan dokumen perizinan yang dirilis, satelit bernama Eärendil-1 milik perusahaan rintisan Reflect Orbital akan dilengkapi permukaan reflektif berukuran besar. Fungsinya bukan sekadar memantulkan sinyal komunikasi, melainkan mengonsentrasikan sinar Matahari langsung ke titik tertentu di Bumi saat wilayah tersebut berada dalam kegelapan. Secara teknis, wahana ini akan beroperasi di orbit rendah Bumi dan mampu mengarahkan pantulan cahayanya ke area yang telah dipesan oleh pelanggan. Perusahaan mengklaim teknologi ini bisa menyediakan penerangan darurat pascabencana, mendukung aktivitas konstruksi malam hari, hingga menciptakan pengalaman visual baru di industri hiburan.
Konsep satelit cermin ini sebenarnya bukan hal baru. Gagasan serupa pernah diusulkan puluhan tahun lalu dengan nama proyek Znamya oleh Rusia, meskipun akhirnya kandas karena keterbatasan teknologi. Kini, dengan kemajuan material ringan dan sistem kendali presisi, Reflect Orbital yakin mampu merealisasikan visi tersebut dalam skala komersial. Jika peluncuran perdana berhasil, perusahaan berencana menambah puluhan unit serupa untuk membentuk konstelasi pemantul cahaya global.
Kekhawatiran Muncul dari Berbagai Disiplin Ilmu
Persetujuan yang dikeluarkan oleh Federal Communications Commission (FCC) langsung menuai reaksi keras dari komunitas ilmiah. Para astronom menjadi pihak pertama yang menyuarakan protes. Mereka menilai keberadaan cermin raksasa yang memantulkan sinar Matahari ke langit malam akan menambah parah polusi cahaya yang sudah mengancam observasi astronomi berbasis darat. Cahaya tambahan dari luar angkasa, sekalipun hanya menyala beberapa menit, berpotensi merusak citra teleskop yang membutuhkan kegelapan mutlak untuk menangkap objek redup.
Ahli ekologi juga angkat bicara. Berbagai spesies nokturnal, mulai dari burung migran hingga penyu, sangat bergantung pada siklus gelap alami untuk navigasi dan reproduksi. Kehadiran kilatan cahaya buatan dari orbit bisa mengacaukan perilaku hewan-hewan tersebut dalam skala area yang luas. Peneliti lingkungan menekankan bahwa dampak kumulatif dari konstelasi satelit komersial, termasuk satelit komunikasi yang sudah menyebar, belum sepenuhnya dipahami, dan penambahan satelit pemantul cahaya hanya akan memperumit persoalan.
Regulasi yang Tertatih-tatih dan Celah Hukum
Banyak pihak mempertanyakan kewenangan FCC dalam menyetujui misi yang dampaknya jauh melampaui ranah telekomunikasi. Izin yang diberikan didasarkan pada aspek spektrum frekuensi dan potensi interferensi radio, bukan pada implikasi lingkungan atau astronomis. Tidak ada lembaga internasional yang memiliki otoritas penuh untuk mengevaluasi proyek penerangan global semacam ini. Kekosongan regulasi tersebut dikhawatirkan akan membuka pintu bagi perusahaan lain untuk meluncurkan satelit serupa tanpa pengawasan memadai.
Reflect Orbital, melalui pernyataan tidak langsung, mencoba meredam protes dengan mengklaim bahwa teknologi mereka akan digunakan secara bertanggung jawab. Mereka menyebutkan bahwa intensitas cahaya yang dipantulkan setara dengan cahaya Bulan purnama dan hanya diarahkan ke titik tertentu yang telah disetujui klien. Meski begitu, para pengkritik tetap skeptis karena klaim tersebut belum diverifikasi oleh pihak independen.
Rencana peluncuran Eärendil-1 dijadwalkan dalam uji coba terbatas tahun depan, menggunakan roket dari penyedia jasa peluncuran komersial. Sementara itu, petisi daring yang menuntut peninjauan kembali izin tersebut telah mengumpulkan ribuan tanda tangan. Perdebatan mengenai hak siapa yang lebih utama—inovasi teknologi atau perlindungan langit malam sebagai warisan bersama umat manusia—dipastikan akan terus memanas seiring mendekatnya tanggal peluncuran.
Baca juga:
Comments (0)