Maulana Wiga: Startup RI Harus Jadi Pencipta Bukan Sekadar Pengguna Teknologi
Dalam sebuah pernyataan yang menegaskan arah baru industri teknologi nasional, Ketua Umum Asosiasi Startup dan Fintech Indonesia (STARFINDO), Maulana Wiga, menyerukan perubahan mendasar pada peran startup di tanah air. Wiga memandang bahwa ketergantu
Dalam sebuah pernyataan yang menegaskan arah baru industri teknologi nasional, Ketua Umum Asosiasi Startup dan Fintech Indonesia (STARFINDO), Maulana Wiga, menyerukan perubahan mendasar pada peran startup di tanah air. Wiga memandang bahwa ketergantungan pada teknologi asing harus segera diakhiri, dan startup Indonesia harus bertransformasi menjadi pencipta inovasi yang berdikari dan memberi nilai tambah bagi perekonomian. Visi ini muncul di tengah geliat ekonomi digital yang terus tumbuh, di mana Indonesia diproyeksikan menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara, namun sering kali hanya menjadi konsumen, bukan produsen teknologi.
"Kami ingin startup Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi pencipta inovasi yang memberi nilai tambah bagi industri nasional dan mampu bersaing secara global," tegas Wiga dalam forum tertutup yang digelar akhir pekan lalu. Pernyataan ini bukan sekadar retorika; ia mencerminkan kegelisahan banyak pihak akan minimnya produk teknologi besutan lokal yang bisa menembus pasar internasional. Hingga saat ini, dari ribuan startup yang beroperasi di Indonesia, mayoritas masih mengandalkan model bisnis adopsi atau adaptasi teknologi dari luar, seperti aplikasi ride-hailing, e-commerce, dan layanan keuangan yang pada dasarnya membangun di atas fondasi platform yang sudah ada.
Latar belakang dorongan ini tak lepas dari realitas industri startup nasional. Meskipun Indonesia telah melahirkan sejumlah unicorn dan decacorn yang diakui secara global, kontribusi rill terhadap rantai pasok teknologi hulu masih terbatas. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen solusi teknologi inti yang digunakan oleh industri domestik masih diimpor. Kondisi ini menciptakan kerentanan, terutama di saat disrupsi rantai pasok global seperti yang terjadi pascapandemi. Wiga menilai bahwa startup lokal harus mampu mengisi celah itu dengan menciptakan produk-produk yang lahir dari riset dan pengembangan (R&D) yang mendalam, bukan sekadar menjadi perantara teknologi.
Untuk mewujudkan visi itu, STARFINDO di bawah kepemimpinan Wiga akan mendorong adopsi teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan otomasi ke dalam tiga sektor strategis: manufaktur, pertanian, dan logistik. Ketiga sektor ini dipilih karena menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus ladang persoalan yang menanti solusi teknologi. Di sektor manufaktur, misalnya, penerapan AI dan otomasi dapat meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja asing. Di pertanian, IoT mampu memantau kelembapan tanah, cuaca, dan hama secara real-time, memberdayakan petani kecil untuk bersaing. Sementara di logistik, otomasi dapat memangkas biaya distribusi yang selama ini menjadi salah satu penyebab mahalnya harga barang di pelosok negeri.
Hilirisasi inovasi menjadi kunci utama dalam strategi ini. Wiga menekankan bahwa penciptaan teknologi tidak boleh berhenti di tahap purwarupa atau lembah abstrak uji coba, melainkan harus menyentuh langsung proses produksi dan memberi dampak ekonomi terukur. "Kita harus memastikan setiap inovasi yang lahir dari startup bisa diimplementasikan di skala industri. Dengan begitu, kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi akan terlihat," ungkapnya. Pendekatan ini sejalan dengan agenda besar pemerintah dalam menggalakkan hilirisasi sumber daya alam, hanya saja diterjemahkan ke ranah digital—hilirisasi ide menjadi produk jadi yang siap komersial, membuka lapangan kerja, dan mendorong ekspor teknologi.
Wiga juga mengajak seluruh anggota STARFINDO untuk membangun organisasi yang lebih profesional, inklusif, dan berorientasi pada hasil. Ia menyadari bahwa kendala kultural dan manajerial sering kali menjadi batu sandungan bagi startup untuk naik kelas. Banyak pendiri startup yang masih berkutat pada gaya kepemimpinan informal, kurang memperhatikan tata kelola perusahaan, dan minim diversitas dalam tim. Padahal, untuk menghasilkan inovasi kelas dunia, diperlukan lingkungan kerja yang terbuka terhadap berbagai disiplin ilmu dan latar belakang. "Saatnya startup Indonesia naik kelas," pungkasnya, sebuah ajakan yang sarat makna untuk meninggalkan zona nyaman dan mulai membangun fondasi yang lebih kokoh.
Prospek ke depan dari pergeseran paradigma ini sangat menjanjikan sekaligus menantang. Di satu sisi, potensi pasar teknologi global, khususnya AI dan IoT, diprediksi mencapai triliunan dolar AS dalam dekade mendatang, dan Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi serta jumlah pengguna internet yang masif. Jika startup lokal mampu menciptakan solusi yang relevan untuk tantangan domestik, bukan tidak mungkin teknologi itu akan dicari oleh negara-negara dengan karakteristik serupa, seperti di Asia Selatan atau Afrika. Di sisi lain, tantangan permodalan, kesiapan SDM, dan ekosistem riset masih menjadi pekerjaan rumah yang berat. Investasi untuk R&D di Indonesia masih rendah, hanya sekitar 0,2 persen dari PDB, jauh di bawah Singapura atau Korea Selatan. Oleh karena itu, ajakan Wiga tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pelaku startup semata; butuh sinergi antara pemerintah, investor, akademisi, dan industri besar.
Jika sinergi itu tercipta, bukan sekadar mimpi untuk melihat startup Indonesia menjadi pencipta teknologi yang disegani di kancah global. Langkah STARFINDO di bawah komando Maulana Wiga bisa menjadi katalisator perubahan yang telah lama dinantikan, mengubah citra Indonesia dari sekadar pasar menjadi pabrik inovasi. Dengan komitmen pada hilirisasi dan profesionalisme, startup Indonesia dapat benar-benar "naik kelas", tidak hanya dalam hal valuasi, tetapi juga dalam hal kontribusi nyata terhadap kedaulatan teknologi bangsa.
Comments (0)