Lurusin.com, Bengkayang — Masyarakat Dayak Bidayuh di Kabupaten Bengkayang kembali menggelar tradisi adat Gawai Nyoben

Prosesi Gawai Nyobeng berlangsung khidmat, dipimpin oleh para tetua adat yang mengenakan pakaian tradisional lengkap dengan aksesori khas Dayak Bidayuh. Masyarakat berkumpul di rumah adat atau balai

Jul 08, 2026 - 06:22
0 0
Lurusin.com, Bengkayang — Masyarakat Dayak Bidayuh di Kabupaten Bengkayang kembali menggelar tradisi adat Gawai Nyoben

Prosesi Gawai Nyobeng berlangsung khidmat, dipimpin oleh para tetua adat yang mengenakan pakaian tradisional lengkap dengan aksesori khas Dayak Bidayuh. Masyarakat berkumpul di rumah adat atau balai pertemuan, membawa hasil bumi seperti padi, buah-buahan, dan hewan ternak sebagai simbol rasa terima kasih kepada leluhur dan Sang Pencipta.

Salah satu ritual inti dalam Gawai Nyobeng adalah penyembelihan hewan kurban, biasanya babi atau ayam, yang darahnya digunakan sebagai tanda restu dan perlindungan. Darah tersebut dioleskan pada alat-alat pertanian, bibit tanaman, serta anggota masyarakat sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan sebelum musim tanam dimulai.

"Ini adalah momentum penting bagi kami. Gawai Nyobeng bukan sekadar seremoni, melainkan ikatan spiritual yang mengingatkan kami untuk selalu menjaga harmoni dengan alam dan sesama," ungkap seorang tetua adat dalam laporan yang diterima media kami, Senin (19/5/2025).

Rangkaian kegiatan semakin semarak dengan tarian tradisional, musik dari alat-alat seperti gong dan sape, serta jamuan makan bersama. Makanan khas seperti nasi bambu (lemang), tuak (minuman fermentasi beras), dan berbagai olahan daging disajikan untuk seluruh warga yang hadir. Suasana gotong-royong begitu terasa, di mana seluruh elemen masyarakat—dari anak-anak hingga orang tua—terlibat aktif dalam persiapan maupun pelaksanaan acara.

Selain sebagai ungkapan syukur, Gawai Nyobeng juga menjadi media untuk mempererat solidaritas dan memperkenalkan identitas budaya kepada generasi muda. Banyak remaja yang ikut berpartisipasi, baik sebagai penari maupun dalam mempersiapkan sesaji, sehingga pemahaman tentang warisan leluhur ini terus lestari di tengah arus modernisasi.

Pemerintah daerah setempat turut memberikan perhatian terhadap pelaksanaan tradisi ini. Kehadiran para pemangku kepentingan dari dinas kebudayaan dan pariwisata menunjukkan dukungan agar Gawai Nyobeng dapat menjadi bagian dari kalender wisata budaya tahunan. Potensi ini dinilai mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menyaksikan secara langsung kekayaan tradisi Kalimantan Barat.

Gawai Nyobeng sendiri memiliki filosofi mendalam tentang keseimbangan hidup, rasa syukur, dan penghormatan kepada alam. Masyarakat percaya bahwa keberhasilan panen tidak terlepas dari campur tangan leluhur serta kebaikan tanah yang mereka huni. Oleh karena itu, ritual ini bukan sekadar perayaan, melainkan juga bentuk kebaktian dan doa agar musim tanam mendatang kembali menghasilkan panen yang memuaskan.

Laporan lapangan menyebutkan bahwa acara berlangsung selama beberapa hari, dengan puncak ritual yang digelar pada akhir pekan. Antusiasme masyarakat sangat tinggi, terlihat dari jumlah peserta yang mencapai ratusan orang, baik dari desa setempat maupun daerah tetangga yang turut meramaikan.

Dengan terus digelarnya Gawai Nyobeng, masyarakat Dayak Bidayuh berharap identitas budaya mereka tetap hidup dan dihargai. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, akar budaya yang kuat tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang harmonis dan sejahtera.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Investigasi. Reporter menelusuri klaim publik secara mendalam.

Comments (0)

User