Sep 10, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Laut China Selatan Memanas, Filipina dan China Saling Lontarkan Kecaman

Ketegangan geopolitik di kawasan Laut China Selatan kembali mencapai titik kritis menyusul saling lempar kecaman terbuka antara otoritas Filipina dan pemer

Laut China Selatan Memanas, Filipina dan China Saling Lontarkan Kecaman

Ketegangan geopolitik di kawasan Laut China Selatan kembali mencapai titik kritis menyusul saling lempar kecaman terbuka antara otoritas Filipina dan pemerintah China. Perselisihan diplomatik ini kian meruncing setelah Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro Jr., melontarkan respons keras terhadap pernyataan Kementerian Luar Negeri China yang terus menolak putusan hukum internasional terkait sengketa perairan strategis tersebut.

Kronologi Eskalasi: Dari Gesekan Lapangan ke Perang Diplomatik

Hubungan bilateral Manila dan Beijing terus tergerus dalam beberapa bulan terakhir akibat serangkaian insiden di perairan yang masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina. Berikut adalah urutan kronologis yang memicu eskalasi terbaru:

  1. Manuver Penjaga Pantai: Kapal Penjaga Pantai China (CCG) terpantau berulang kali mencegat, menembakkan meriam air, dan melakukan manuver berbahaya terhadap kapal-kapal logistik Filipina di sekitar Beting Scarborough dan Thomas Shoal Kedua.
  2. Pernyataan Keras Beijing: Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan kembali klaim kedaulatan historis sepihak Beijing dan menuduh Manila memicu provokasi atas dorongan kekuatan eksternal.
  3. Respons Balasan Manila: Menhan Filipina Gilberto Teodoro secara tegas membalas narasi Beijing, menegaskan bahwa China sengaja memutarbalikkan hukum internasional dan mengabaikan kedaulatan negara tetangganya.

Gugatan Putusan Arbitrase 2016 yang Terus Diabaikan

Inti perdebatan sengit kali ini berpusat pada kepatuhan terhadap putusan Permanent Court of Arbitration (PCA) di Den Haag pada 12 Juli 2016. Pengadilan arbitrase internasional tersebut secara bulat memenangkan Filipina dan menyatakan bahwa klaim historis nine-dash line (kini sepuluh garis putus-putus) milik China tidak memiliki dasar hukum di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS 1982).

"Hanya China yang percaya pada narasinya sendiri. Komunitas internasional sudah jelas mendukung tatanan berbasis aturan dan mengakui putusan arbitrase 2016 yang berkekuatan hukum tetap," tegas Gilberto Teodoro dalam pernyataan resminya.

Sebaliknya, Beijing bersikeras menganggap putusan arbitrase tersebut ilegal, batal, dan tidak memiliki kekuatan mengikat. Sikap tidak kompromistis China ini dinilai para pengamat menjadi ganjalan utama dalam proses perundingan Code of Conduct (CoC) ASEAN-China yang telah berlarut-larut selama lebih dari dua dekade.

Implikasi Geopolitik dan Pergeseran Aliansi Kawasan

Eskalasi terbaru ini memperkuat komitmen Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. untuk mempererat kerja sama pertahanan dengan sekutu tradisionalnya, Amerika Serikat, serta mitra regional seperti Jepang dan Australia. Berdasarkan investigasi lapangan, intensitas patroli maritim bersama di kawasan Indo-Pasifik meningkat hingga 40% sepanjang tahun terakhir guna mengimbangi dominasi militer China.

Kondisi Laut China Selatan saat ini berada di ambang ketidakpastian tinggi. Jika kedua pihak tidak segera membuka kanal de-eskalasi yang konstruktif, gesekan taktis di laut lepas berisiko tinggi memicu konfrontasi militer terbuka yang dapat menyeret kekuatan global ke dalam konflik maritim regional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User