Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Laksamana Sukardi: Sosok di Balik Reformasi BUMN Era Megawati

Laksamana Sukardi dikenal luas sebagai salah satu nama yang lekat dengan sejarah tata kelola badan usaha milik negara di Indonesia. Sosoknya mencuat ketika dipercaya memimpin Kementerian Negara BUMN p...

Laksamana Sukardi: Sosok di Balik Reformasi BUMN Era Megawati

Laksamana Sukardi dikenal luas sebagai salah satu nama yang lekat dengan sejarah tata kelola badan usaha milik negara di Indonesia. Sosoknya mencuat ketika dipercaya memimpin Kementerian Negara BUMN pada era pemerintahan Presiden Megawati Sukarnoputri. Sebelum itu, ia sudah lama berkecimpung di dunia politik dan perbankan, sehingga pengangkatannya ke posisi tersebut dinilai membawa harapan baru bagi pembenahan perusahaan-perusahaan negara.

Artikel ini menyajikan profil dan jejak rekam karier Laksamana Sukardi berdasarkan catatan publik yang tersebar luas, mulai dari latar belakang pendidikan, karier di sektor keuangan, hingga kebijakan yang ia ambil selama menjabat sebagai menteri.

Perjalanan Karier Sebelum Memimpin Kementerian

Laksamana Sukardi merupakan alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sejak muda, ia tercatat aktif dalam gerakan mahasiswa pada era 1970-an, sebuah pengalaman yang kerap disebut sebagai fondasi keterlibatannya di dunia politik. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia menggeluti dunia perbankan dan membangun reputasi sebagai praktisi keuangan sebelum akhirnya masuk ke panggung politik nasional.

Karier politiknya melejit bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Pada pemilu 1999, ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Dari kursi parlemen itulah ia kemudian dipanggil masuk ke pemerintahan. Pada 2001, ketika Megawati Sukarnoputri naik menjadi presiden, Laksamana ditunjuk sebagai Menteri Negara BUMN dalam Kabinet Gotong Royong.

Kebijakan Pembenahan BUMN yang Kontroversial

Selama menjabat, Laksamana membawa sejumlah gagasan yang tergolong berani untuk zamannya. Ia mendorong restrukturisasi perusahaan-perusahaan negara, menuntut transparansi laporan keuangan, serta menekankan pentingnya efisiensi dan profesionalisme pengelolaan. Salah satu jejak yang paling banyak diingat adalah langkah pemerintah saat itu melepas sebagian kepemilikan saham di sejumlah BUMN besar kepada investor strategis.

Dua transaksi yang menandai era kepemimpinannya adalah divestasi saham Bank Central Asia (BCA) serta penjualan mayoritas saham Indosat kepada Singapore Technologies Telemedia pada 2002. Kedua kebijakan itu menuai pujian sekaligus kritik. Di satu sisi, langkah tersebut dipandang sebagai upaya memperbaiki kinerja BUMN dan menarik investasi. Di sisi lain, banyak pihak menilai penjualan aset negara terlalu tergesa-gesa dan merugikan kepentingan nasional dalam jangka panjang. Polemik ini menjadikan Laksamana salah satu menteri yang paling sering disorot pada masa itu.

Selain urusan privatisasi, ia juga gencar menyuarakan perbaikan tata kelola internal BUMN. Ia dikenal kerap mendorong pergantian direksi yang dinilai tidak kompeten serta menuntut kinerja yang terukur dari badan usaha milik negara.

Pemicu Berakhirnya Masa Jabatan

Babak akhir masa jabatannya datang dari persoalan yang berbeda, yakni kebijakan energi. Pada awal 2000-an, pemerintah menghadapi tekanan untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak yang membebani anggaran negara. Rencana kenaikan harga BBM pun digulirkan. Namun, Laksamana justru tampil sebagai salah satu pejabat yang paling vokal menolak rencana tersebut.

Sikapnya dinilai berseberangan dengan garis kebijakan pemerintah. Pada perombakan Kabinet Gotong Royong tahun 2004, posisinya dicabut dan digantikan oleh menteri baru. Penolakannya terhadap kenaikan harga BBM menjadi salah satu faktor yang paling sering disebut sebagai penyebab pencopotannya. Peristiwa itu sekaligus menutup babaknya sebagai menteri setelah sebelumnya dianggap sebagai salah satu tokoh kunci dalam kabinet.

Kiprah Setelah Tidak Lagi Menjabat

Setelah meninggalkan kabinet, Laksamana tidak sepenuhnya hilang dari panggung politik. Ia tetap menjadi tokoh penting di lingkungan PDI-P dan kerap dilibatkan dalam tim pemenangan partai pada berbagai agenda pemilu. Dari luar pemerintahan, ia juga kerap menyuarakan kritik terhadap kebijakan ekonomi, khususnya yang menyangkut pengelolaan aset dan badan usaha milik negara.

Kritik-kritiknya terhadap privatisasi yang dianggap tidak transparan membuat namanya tetap relevan dalam diskursus ekonomi politik nasional. Beberapa pengamat menilai pengalamannya sebagai menteri memberikan bobot tersendiri pada setiap pernyataannya soal BUMN.

Penutup

Perjalanan Laksamana Sukardi mencerminkan dinamika politik dan ekonomi Indonesia pada awal era reformasi. Ia masuk ke pemerintahan dengan reputasi sebagai teknokrat dan politisi, membawa agenda pembenahan BUMN yang ambisius, namun akhirnya tersandung pada persoalan kebijakan yang lebih besar, yaitu subsidi energi. Meski masa jabatannya berakhir, namanya tetap tercatat dalam sejarah pengelolaan perusahaan negara di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User