Sep 13, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

KTT BRICS 2026 — Prabowo Subianto Suarakan Pertumbuhan Ekonomi Global Inklusif

Di tengah hembusan angin perpolitikan global yang kian dinamis dan penuh ketidakpastian, panggung diplomatik dunia kembali tertuju pada gelaran Konferensi

KTT BRICS 2026 — Prabowo Subianto Suarakan Pertumbuhan Ekonomi Global Inklusif

Di tengah hembusan angin perpolitikan global yang kian dinamis dan penuh ketidakpastian, panggung diplomatik dunia kembali tertuju pada gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026. Memasuki hari kedua pelaksanaannya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan penyeimbang yang menuntut perubahan arsitektur ekonomi dunia agar lebih berkeadilan dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat global.

Hadir secara langsung dalam forum tingkat tinggi tersebut, Presiden Prabowo mengikuti sesi krusial yang mengusung tema besar "Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth". Sesi ini menjadi arena krusial bagi para pemimpin dunia untuk merumuskan ulang navigasi pembangunan di tengah ancaman krisis iklim, ketegangan rantai pasok, dan fragmentasi geopolitik yang terus meluas.

Navigasi Diplomatik dan Ketahanan Ekonomi Global

Langkah Presiden Prabowo di forum ini bukan sekadar menghadiri agenda formal bilateral. Penampilan Indonesia di forum BRICS 2026 memancarkan pesan kuat bahwa negara-negara berkembang—termasuk Indonesia—tidak lagi mau sekadar menjadi penonton dalam pembuatan keputusan tingkat dunia. Dalam intervensinya, Indonesia mendorong penguatan ketahanan (resilience) ekonomi nasional dan regional sebagai benteng utama menghadapi gejolak eksternal.

"Pertumbuhan global tidak boleh lagi menyisakan negara-negara berkembang di pinggiran. Inklusivitas bukan sekadar jargon, melainkan kunci stabilitas dan keadilan jangka panjang bagi seluruh umat manusia," ujar Presiden Prabowo di hadapan para kepala negara anggota dan mitra BRICS.

Penekanan pada keadilan ekonomi global menjadi benang merah dari pernyataan Indonesia. Pemerintahan Prabowo menyoroti perlunya akses yang lebih setara terhadap pasar internasional, keterbukaan transfer teknologi, serta perlindungan terhadap komoditas unggulan negara berkembang dari praktik proteksionisme terselubung.

Inovasi dan Keberlanjutan di Tengah Dominasi Hegemoni

KTT BRICS 2026 juga menjadi panggung penting untuk menantang dominasi lama dalam sistem keuangan dan teknologi global. Indonesia memandang bahwa kombinasi antara inovasi digital dan pembangunan berkelanjutan merupakan pilar utama untuk melompati ketimpangan ekonomi.

Pilar Utama Fokus Pembahasan KTT Target Strategis Indonesia
Resilience Ketahanan pangan dan kemandirian energi Penguatan stok logistik dan kedaulatan pangan nasional
Innovation Alih teknologi & ekosistem digital Percepatan digitalisasi UMKM dan industri manufaktur
Sustainability Transisi energi hijau & pembiayaan iklim Hilirisasi komoditas hijau dan investasi energi terbarukan

Melalui skema kerja sama BRICS yang kini menguasai lebih dari 37 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia dan mencakup hampir 41 persen populasi global, Indonesia mengonsolidasikan potensi kerja sama konkret. Fokus utama diarahkan pada pendanaan proyek infrastruktur hijau dan penguatan rantai pasok komoditas penting tanpa harus mengorbankan prinsip kelestarian lingkungan.

Arah Baru Politik Luar Negeri Indonesia

Kehadiran dan keaktifan Prabowo pada hari kedua KTT BRICS ini menegaskan kembali prinsip politik luar negeri bebas aktif yang diadaptasi secara pragmatis dan bernilai tambah ekonomi tinggi. Indonesia menunjukkan kemampuannya untuk merangkul berbagai blok kekuatan dunia demi mengamankan kepentingan nasional.

Analisis dari berbagai pengamat mengindikasikan bahwa dorongan Indonesia atas pertumbuhan global yang inklusif akan memicu momentum baru dalam diplomasi Selatan-Selatan (Global South). Dengan menyuarakan pentingnya kolaborasi multisektoral yang berlanjut, Indonesia memosisikan diri sebagai jembatan strategis antara kekuatan ekonomi berkembang dan negara maju dalam menghadapi ketidakpastian abad ke-21.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User