Sep 17, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

Konglomerat Lokal Kuasai Privatisasi Argentina Saat Investor Global Hengkang

Ruang lelang privatisasi di Buenos Aires seharusnya dipenuhi bisik-bisik konglomerat multinasional yang membawa arus modal miliaran dolar AS. Namun, kenyat

Konglomerat Lokal Kuasai Privatisasi Argentina Saat Investor Global Hengkang

Ruang lelang privatisasi di Buenos Aires seharusnya dipenuhi bisik-bisik konglomerat multinasional yang membawa arus modal miliaran dolar AS. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan pemandangan yang jauh berbeda. Ketika Pemerintah Argentina di bawah kepemimpinan Presiden Javier Milei mengobral aset-aset strategis negara, raksasa finansial global justru memilih untuk berpaling. Yang tersisa di meja perundingan hanyalah wajah-wajah lama: para pemain oligarki lokal yang sudah sangat paham cara memanfaatkan kekacauan regulasi demi meraup keuntungan modal domestik.

Gelombang privatisasi dan konsesi kedua ini menargetkan penjualan aset-aset publik dengan nilai fantastis, yakni mencapai lebih dari US$ 2 miliar (sekitar Rp31,5 triliun). Sektor-sektor vital mulai dari jaringan jalan tol, sistem perkeretaapian, hingga konsesi energi dibuka seluas-luasnya. Namun, penelusuran terhadap daftar pemenang lelang memperlihatkan pola monopoli pemain lama. Nama-nama besar seperti Roggio, Cartellone, Relats, Cristóbal López, Laugero, Vila, Manzano, hingga Filiberti kembali memborong aset negara. Investor asing hanya sekadar mampir, memantau dokumen lelang, lalu hengkang tanpa menanamkan modal secara signifikan.

Trauma Regulasi: Enam Kali Berganti Skema dalam Tiga Dekade

Ketidakberanian modal asing untuk menanamkan investasi jangka panjang di Argentina bukan tanpa alasan mendasar. Para pemain global menaruh rasa curiga yang mendalam terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga kestabilan hukum. Sangat sulit untuk menjual aset infrastruktur berjangka waktu 20 hingga 30 tahun ketika negara yang bersangkutan memiliki rekam jejak berulang kali mengingkari janji manis yang telah ditandatangani.

Sektor infrastruktur jalan raya menjadi cermin paling telanjang dari trauma regulasi tersebut. Dalam rentang waktu 35 tahun terakhir, model pengelolaan jalan tol di Argentina telah berganti arah sebanyak enam kali:

  • 1991: Privatisasi gelombang pertama di bawah rezim deregulasi.
  • 2001: Semiestatisasi mendadak akibat krisis keuangan nasional.
  • 2003: Pengalihan menjadi skema manajemen campuran dengan kontrak gerenciamiento.
  • 2018: Pembukaan kembali privatisasi melalui skema Kemitraan Pemerintah Swasta (PPP).
  • 2020–2021: Nasionalisasi penuh dan pengambilalihan aset oleh negara.
  • 2026: Peluncuran ulang obral privatisasi di bawah rezim ekonomi Milei.

Setiap kali terjadi pergeseran rezim politik, kontrak yang sebelumnya ditandatangani secara iktikad baik langsung dibatalkan secara sepihak. Kondisi ini memicu gugatan hukum tak berkesudahan dan kebangkrutan bagi investor yang tidak memiliki perlindungan politik di dalam negeri.

Oligarki Lokal dan Strategi Memetik Keuntungan di Tengah Kekacauan

Berbeda dengan investor multinasional yang menghindari risiko hukum, konglomerat domestik Argentina justru berkembang pesat dalam situasi penuh ketidakpastian. Mereka telah terbiasa bertaruh dalam iklim bisnis yang ekstrem dan memiliki daya tahan politik untuk menegosiasikan kembali syarat-syarat kontrak saat situasi memburuk.

"Pemain global tidak pernah lupa pada kontrak yang dibatalkan sepihak. Mereka mencatat setiap wanprestasi negara dan memilih mundur. Sebaliknya, pemain lokal membeli aset-aset ini dengan harga murah karena tidak ada saingan asing, lalu menggunakan pengadilan domestik untuk menuntut ganti rugi ketika aturan diubah lagi," ujar seorang analis infrastruktur senior di Buenos Aires.

Pola sistemik ini menciptakan lingkaran setan. Negara gagal menarik modal segar dan teknologi mutakhir dari luar negeri, sementara aset-aset publik bernilai strategis terus berputar di tangan segelintir elite bisnis lokal. Obral privatisasi yang awalnya digadang-gadang sebagai penyelamat ekonomi Argentina kini berisiko hanya menjadi panggung konsolidasi kekayaan bagi para pengusaha yang dekat dengan lingkaran kekuasaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User