Kebakaran TPA Jatiwaringin Bangkitkan Trauma, Mak Saiyah Ingin Pindah

Kebakaran hebat kembali melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin pada Senin (7/4) dini hari. Api yang dengan cepat membesar menghasilkan gumpalan asap pekat berwarna hitam kecokelatan yang m...

Jul 13, 2026 - 08:27
0 0
Kebakaran TPA Jatiwaringin Bangkitkan Trauma, Mak Saiyah Ingin Pindah

Kebakaran hebat kembali melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin pada Senin (7/4) dini hari. Api yang dengan cepat membesar menghasilkan gumpalan asap pekat berwarna hitam kecokelatan yang menyelimuti puluhan permukiman di sekitarnya. Di tengah kepungan bau menyengat dan partikel abu yang beterbangan, seorang perempuan lanjut usia berjuang sendirian melawan ketakutan yang telah lama menghantuinya.

Asap Menyelimuti, Warga Lansia Terjebak

Mak Saiyah, yang tahun ini genap berusia 80 tahun, adalah salah satu warga yang rumahnya hanya berjarak kurang dari 500 meter dari lokasi penimbunan sampah. Kondisi fisiknya yang sudah renta membuat ia tidak bisa segera mengungsi ketika kepulan asap mulai memasuki celah-celah dinding kayu rumahnya. Berdasarkan pantauan di lokasi, konsentrasi partikel debu halus (PM2.5) di sekitar rumah Mak Saiyah mencapai lebih dari 300 mikrogram per meter kubik—jauh melampaui ambang batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 15 mikrogram per meter kubik. Beberapa tetangga yang lebih muda telah lebih dulu meninggalkan rumah mereka dengan membawa serta anggota keluarga yang sakit, namun Mak Saiyah tetap bertahan sambil menutup jendela dengan kain basah seadanya.

Rentetan Kebakaran yang Menorehkan Luka

Bagi Mak Saiyah, peristiwa ini bukan sekadar gangguan sesaat. Sejak tiga dekade lalu, ia telah menyaksikan berulang kali kebakaran di TPA yang sama. Catatan Dinas Lingkungan Hidup setempat menunjukkan bahwa TPA Jatiwaringin mengalami kebakaran skala besar setidaknya enam kali dalam sepuluh tahun terakhir, dengan kebakaran tahun 2019 dan 2022 sebagai yang paling parah. Pada tahun 2022, api tak terkendali selama hampir dua pekan dan memaksa lebih dari seribu warga di tiga kelurahan mengungsi. Mak Saiyah adalah salah satu dari mereka yang bertahan paling lama di tenda pengungsian. Trauma itu, katanya kepada seorang relawan kesehatan yang datang memeriksa kondisi paru-parunya, tak pernah benar-benar pergi.

Penyakit dan Ingatan yang Tak Padam

Dampak dari kebakaran sebelumnya tidak hanya meninggalkan bekas psikologis. Mak Saiyah kini hidup dengan gangguan pernapasan kronis yang membuatnya harus bergantung pada inhaler setiap dua hari sekali. Dokter Puskesmas setempat telah merekomendasikan agar ia menjauhi paparan asap, namun kenyataan berkata lain. Setiap kali TPA terbakar, ingatan tentang sesak napas yang hampir merenggut nyawanya di tahun 2022 kembali menyergap. “Bau asapnya seperti menempel di tenggorokan,” bisiknya pelan sambil menutupi hidung dengan selendang lusuh. Reaksi psikosomatis ini memperburuk kondisi fisiknya; tekanan darah ikut melonjak dan ia sering kali tidak mampu tidur selama berhari-hari karena cemas api akan merambat ke permukiman.

Harapan yang Kini Membulat

Setelah bertahun-tahun hanya menyimpan keinginan dalam hati, kebakaran kali ini mendorong Mak Saiyah untuk mengungkapkan tekadnya secara lantang: ia ingin pindah dari rumah yang telah ia tempati sejak suaminya masih hidup. Rumah kayu berukuran 4x6 meter itu tak lagi dirasa aman. Beberapa kali ia sudah mendengar janji relokasi dari perangkat kelurahan dan anggota dewan yang datang saat kampanye, tetapi tak satu pun yang terealisasi. Kini, sambil menunggu api benar-benar padam, Mak Saiyah mengumpulkan dokumen-dokumen penting—akta kelahiran cucunya, surat nikah, dan sertifikat tanah—dan menyimpannya dalam satu tas plastik, siap dibawa kapan saja ia harus pergi. Keputusan ini tidak mudah; rumah itu adalah satu-satunya warisan yang ia miliki untuk anak dan cucunya.

Respons Pihak Berwenang

Pemerintah kota melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengerahkan empat unit mobil pemadam dan dua helikopter water bombing untuk mengendalikan api. Kepala BPBD menyatakan bahwa proses pemadaman diperkirakan memakan waktu hingga lima hari ke depan, tergantung arah angin dan ketebalan gas metana di bawah tumpukan sampah. Terkait permukiman warga, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman mengakui bahwa rencana relokasi bagi 200 kepala keluarga di zona penyangga TPA memang sudah masuk dalam program jangka menengah. Namun, ia belum bisa memastikan kapan pembangunan hunian baru akan dimulai. Sementara itu, bantuan masker N95, makanan siap saji, dan layanan kesehatan keliling mulai didistribusikan ke titik-titik pengungsian, termasuk ke rumah Mak Saiyah yang masih bertahan.

Catatan dari Tepi TPA

Kisah Mak Saiyah adalah potret kecil dari ironi perkotaan yang berulang: mereka yang paling rentan menjadi pihak yang paling lama menanggung beban. TPA Jatiwaringin, yang seharusnya menjadi solusi pengelolaan sampah bagi lebih dari dua juta penduduk, justru menjelma sebagai sumber bencana berkala bagi warga di sekelilingnya. Sambil menunggu janji relokasi yang belum jelas waktunya, Mak Saiyah terus berharap bahwa suatu pagi ia bisa menghirup udara tanpa takut dadanya sesak, dan bahwa mimpi untuk tinggal di tempat yang jauh dari asap bukan hanya menjadi cerita yang ia bisikkan kepada cucunya sebelum tidur.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User