Karding: Karantina Kuat Kunci Indonesia Kuasai Pasar Udang Dunia

JAKARTA — Optimisme besar disampaikan Karding terhadap masa depan industri udang nasional. Ia menilai Indonesia memiliki peluang nyata untuk menjadi pemain utama, bahkan penguasa, di pasar udang dun...

Karding: Karantina Kuat Kunci Indonesia Kuasai Pasar Udang Dunia

JAKARTA — Optimisme besar disampaikan Karding terhadap masa depan industri udang nasional. Ia menilai Indonesia memiliki peluang nyata untuk menjadi pemain utama, bahkan penguasa, di pasar udang dunia. Namun menurutnya, ambisi tersebut tidak bisa dicapai hanya dengan mengandalkan mutu produk semata. Sistem karantina yang kuat dan berjalan optimal disebutnya sebagai faktor penentu yang tidak kalah penting dalam menembus pasar global.

Dalam pandangannya, karantina berfungsi sebagai garda terdepan yang memastikan setiap ekor udang yang diekspor bebas dari penyakit, aman dikonsumsi, dan memenuhi standar negara tujuan. Tanpa jaminan tersebut, sebaik apa pun kualitas udang yang dihasilkan tambak-tambak Indonesia akan sulit diterima pasar internasional yang menerapkan standar ketat.

Karantina sebagai Tiket Masuk Pasar Global

Karding menjelaskan bahwa negara-negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, dan negara-negara Uni Eropa memberlakukan persyaratan sanitasi dan keamanan pangan yang sangat rinci. Setiap kontainer udang asal Indonesia harus disertai sertifikat kesehatan, bebas residu antibiotik berbahaya, serta lolos pemeriksaan mutu sebelum diberangkatkan.

Di sinilah peran Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) menjadi krusial. Lembaga di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan ini bertugas memeriksa, menguji, dan menerbitkan sertifikat bagi produk perikanan yang keluar masuk wilayah Indonesia. Semakin cepat, akurat, dan kredibel layanan karantina, semakin besar kepercayaan pasar dunia terhadap produk dalam negeri.

Sebaliknya, satu kasus penolakan di negara tujuan — misalnya karena temuan residu atau patogen — dapat merusak reputasi seluruh industri. Karding menegaskan penguatan karantina bukan sekadar urusan teknis di pelabuhan, melainkan investasi reputasi jangka panjang bagi produk perikanan nasional.

Modal Indonesia di Peta Udang Dunia

Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar untuk berbicara banyak di kancah global. Garis pantai yang panjang, iklim tropis yang mendukung budidaya sepanjang tahun, serta pengalaman petambak yang turun-temurun menjadikan negeri ini salah satu produsen udang terbesar dunia. Komoditas unggulan seperti udang vaname dan udang windu telah lama menjadi primadona ekspor dengan nilai mencapai miliaran dolar Amerika Serikat setiap tahun.

Pemerintah juga telah menjalankan sejumlah program untuk mengerek produksi, mulai dari revitalisasi tambak tradisional, pengembangan kawasan budidaya berbasis klaster, hingga penerapan teknologi budidaya intensif yang lebih ramah lingkungan. Sejumlah daerah seperti Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat menjadi kantong produksi utama yang terus didorong naik kelas.

Meski demikian, posisi Indonesia masih berada di bawah sejumlah pesaing berat. Ekuador kini tercatat sebagai eksportir udang terbesar dunia berkat produksi masif dan efisiensi biaya. India dan Vietnam juga terus menggenjot volume serta hilirisasi produk. Persaingan ini membuat aspek nonteknis seperti kecepatan layanan karantina dan jaminan keamanan pangan menjadi pembeda yang menentukan.

Tantangan yang Harus Dijawab

Ambisi merajai pasar dunia menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Serangan penyakit seperti white spot syndrome virus (WSSV), infectious myonecrosis virus (IMNV), hingga acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) masih menjadi momok bagi petambak. Wabah penyakit tidak hanya memangkas produksi, tetapi juga berpotensi memicu pembatasan impor dari negara lain.

Selain itu, praktik budidaya yang belum sepenuhnya disiplin — mulai dari penggunaan benur tidak bersertifikat hingga penyalahgunaan antibiotik — berisiko menimbulkan temuan residu pada produk ekspor. Karding menilai karantina yang optimal harus bergerak dari hulu ke hilir: mengawal pergerakan benih, memantau proses budidaya, hingga memastikan produk akhir layak ekspor.

Di sisi lain, kebutuhan pasar dunia terus berubah. Konsumen global kini menuntut produk yang tidak hanya aman, tetapi juga diproduksi secara berkelanjutan dan dapat ditelusuri asal-usulnya. Sistem ketertelusuran dari tambak hingga meja konsumen menjadi nilai tambah yang tidak bisa lagi dianggap remeh.

Langkah ke Depan

Untuk mewujudkan target tersebut, Karding mendorong peningkatan kapasitas laboratorium pengujian, percepatan layanan sertifikasi di pintu-pintu ekspor, serta penguatan pengawasan terhadap lalu lintas media pembawa penyakit. Kolaborasi antara pemerintah, pembudidaya, dan eksportir dinilai menjadi syarat agar seluruh sistem berjalan selaras.

Ia meyakini, apabila seluruh rantai itu diperkuat, udang Indonesia bukan hanya mampu mempertahankan pasar tradisional, tetapi juga membuka pasar-pasar baru yang selama ini sulit ditembus. Bagi Karding, jalan menuju takhta pasar udang dunia sudah terbentang — tinggal bagaimana bangsa ini memastikan gerbang karantinanya benar-benar kokoh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User