Misi kemanusiaan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan warga pedalaman kembali berujung duka di tanah Papua. Perjalanan delapan pegawai Pemerintah Kabupaten Jayawijaya usai menyalurkan bantuan pangan berakhir tragis saat melintasi jalur sunyi Distrik Muliama. Niat tulus mengantarkan bibit ternak babi bagi warga lokal justru disambut letusan senjata api yang merenggut nyawa tiga Aparatur Sipil Negara (ASN).
Peristiwa berdarah ini menunjukkan betapa tingginya risiko yang harus dihadapi oleh para pekerja pelayan publik di wilayah konflik. Tugas lapangan yang semestinya menjadi penggerak roda ekonomi warga pedesaan justru berubah menjadi medan maut akibat aksi keji kelompok bersenjata.
Penyergapan Maut dan Pemisahan Identitas Korban
Insiden penembakan ini terjadi sekitar pukul 15.45 WIT. Rombongan yang terdiri dari delapan orang tersebut baru saja menyelesaikan tugas penyaluran bantuan bibit babi kepada masyarakat di Kampung Kimbim, Distrik Asologaima. Namun, ketika kendaraan mereka bergerak kembali menuju ibu kota kabupaten di Wamena, milisi bersenjata mendadak menghentikan laju mereka di Distrik Muliama.
Para pelaku menghentikan rombongan secara paksa dan melakukan tindakan selektif yang mengerikan. Anggota kelompok tersebut memisahkan para pekerja berdasarkan latar belakang etnis, yakni antara Orang Asli Papua (OAP) dan non-OAP. Setelah pemisahan dilakukan, tiga ASN yang berstatus non-OAP langsung dieksekusi secara kejam di tempat kejadian.
Tiga korban yang gugur dalam tugas tersebut adalah Aprida Rapi (49), Alfonsius Albinus Meha (35), dan Willi Mbuik (25). Jenazah ketiganya kini telah dievakuasi ke RSUD Wamena untuk proses penanganan medis lebih lanjut.
“Para korban bersama lima rekan sebelumnya dihadang KKB dan dipisah antara orang asli Papua (OAP) dan non-OAP,” tegas Komandan Kodim 1702/Jayawijaya, Letkol Inf Ilham Datu Ramang.
Sementara itu, lima rekan korban yang merupakan warga lokal berhasil selamat dari maut. Saat ini, seluruh korban selamat berada di Polres Jayawijaya untuk menjalani pemeriksaan intensif guna mengumpulkan bukti kronologi kejadian serta mengidentifikasi para pelaku penyerangan.
Jejak Pelaku: Dugaan Kuat Kelompok Kodap III Ndugama
Aparat keamanan gabungan dari TNI dan Polri langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. Kepala Operasi Damai Cartenz, Irjen Pol Faizal Ramadhani, menyampaikan bahwa indikasi awal mengarah pada kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah Ndugama.
“Dari hasil penyelidikan sementara, diduga pelaku penembakan adalah anggota KKB Kodap III Ndugama, namun siapa pelakunya secara pasti masih terus kami dalami,” ujar Irjen Pol Faizal Ramadhani.
Sebelum identitas kelompok pengacau keamanan ini terungkap, pihak kepolisian sempat berhati-hati dalam memberikan rilis awal. Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, membenarkan adanya peristiwa penembakan terhadap jajaran ASN Pemkab Jayawijaya tersebut, meski saat itu status pelaku masih dicatat sebagai orang tidak dikenal (OTK) demi kepentingan olah TKP awal.
Implikasi Keamanan dan Dampak Layanan Publik
Aksi kekerasan ini menambah daftar panjang kasus penyerangan terhadap pekerja sipil dan tenaga kemanusiaan di wilayah pegunungan Papua. Penembakan ini dinilai akan berdampak serius terhadap keberlanjutan program pembangunan serta distribusi bantuan sosial ke distrik-distrik terpencil.
| Parameter Kejadian | Detail Informasi |
|---|---|
| Lokasi Penyergapan | Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan |
| Waktu Kejadian | Pukul 15.45 WIT |
| Misi Kegiatan | Penyaluran bantuan pangan bibit babi di Kampung Kimbim |
| Jumlah Korban Meninggal | 3 Orang ASN (Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Meha, Willi Mbuik) |
| Jumlah Korban Selamat | 5 Orang (Pekerja OAP) |
| Terduga Pelaku | Anggota KKB Kodap III Ndugama |
Para pengamat keamanan menilai bahwa penargetan ASN non-OAP secara spesifik menciptakan atmosfer ketakutan yang mendalam bagi para pegawai negeri yang ditugaskan di daerah terdepan. Jika kondisi pengamanan jalur logistik dan perlindungan aparat sipil tidak segera ditingkatkan, ketakutan akan terhentinya pelayanan publik dan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat pedalaman Papua akan menjadi kenyataan pahit yang tak terhindarkan.
Comments (0)