Sep 15, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

JATIM — Karhutla Landa 14 Gunung di Jawa Timur, 5 Titik Masih Menyala

SURABAYA — Gelombang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan dataran tinggi di Jawa Timur dengan eskalasi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan da

JATIM — Karhutla Landa 14 Gunung di Jawa Timur, 5 Titik Masih Menyala

SURABAYA — Gelombang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan dataran tinggi di Jawa Timur dengan eskalasi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data investigasi dan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, sedikitnya 14 kawasan pegunungan telah terkonfirmasi terbakar. Hingga laporan terbaru dihimpun, petugas gabungan masih berjibaku memadamkan kobaran api di 5 lokasi kritis yang belum berhasil dijinakkan.

Kombinasi cuaca kering ekstrem, hembusan angin kencang di ketinggian, serta vegetasi semak belukar yang mengering memicu percepatan perambatan api hingga melintasi batas-batas administratif kehutanan di berbagai kabupaten.

Eskalasi Titik Api di Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung

Berdasarkan penelusuran lapangan, kebakaran hutan tersebar di sejumlah bentang alam strategis Jawa Timur, mencakup kawasan Taman Nasional hingga Hutan Lindung di bawah pengelolaan Perhutani dan Tahura. Kondisi paling parah terpantau di lereng-lereng curam yang sulit dijangkau armada pemadam darat.

Dari total 14 gunung yang terimbas, lima titik prioritas pemadaman meliputi kawasan lereng Gunung Semeru (Lumajang), kompleks Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Argopuro, Gunung Lawu sisi timur, serta kawasan perbukitan Ijen-Raung.

"Kondisi topografi yang sangat terjal dengan kemiringan lebih dari 60 derajat menjadi hambatan utama. Tim gabungan harus mendaki berjam-jam membawa peralatan manual untuk membuat sekat bakar agar api tidak meluas ke permukiman dan zona inti konservasi," ungkap perwakilan tim reaksi cepat BPBD Jatim.

Kronologi dan Tahapan Penanganan Karhutla di Lapangan

  1. Tahap Deteksi Awal: Citra satelit dan pos pantau kehutanan mendeteksi anomali termal (hotspot) di 14 titik pegunungan secara bertahap selama puncak musim kemarau.
  2. Penerjunan Tim Gabungan: Ratusan personel dari unsur BPBD, TNI, Polri, Polisi Hutan, relawan, dan masyarakat peduli api dikerahkan ke titik-titik koordinat api yang dapat diakses melalui jalur darat.
  3. Pembuatan Sekat Bakar (Ilaran): Petugas memfokuskan strategi pada pembersihan vegetasi kering selebar 3 hingga 5 meter di sekitar kepala api guna memutus suplai bahan bakar alami.
  4. Operasi Pemadaman Manual: Mengingat ketiadaan sumber air di puncak tebing, petugas memanfaatkan metode gepyok (memukul api menggunakan ranting basah) dan penyemprotan punggung (jet shooter).
  5. Koordinasi Water Bombing: BPBD terus berkoordinasi dengan BNPB untuk menyiapkan opsi helikopter pengebom air pada area jurang yang mustahil ditembus regu darat.

Ancaman Kerusakan Ekologis dan Jalur Pendakian Ditutup

Dampak langsung dari rentetan kebakaran ini memaksa otoritas pengelola menutup total sejumlah jalur pendakian resmi demi keselamatan wisatawan. Selain menghanguskan puluhan hektare vegetasi endemik seperti cantigi, edelweis, dan cemara gunung, karhutla ini mengancam keanekaragaman hayati satwa liar yang terpaksa bermigrasi mendekati kawasan pemukiman warga.

Penyelidikan mendalam kini tengah dijalankan oleh aparat penegak hukum untuk memastikan penyebab kebakaran, baik akibat faktor kelalaian aktivitas manusia maupun faktor api unggun pendaki ilegal dan perburuan liar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User