Irsyad Al Ghifari: Merawat Kepercayaan Publik lewat Komunikasi Kebijakan yang Cermat
Di persimpangan antara ruang pengambil keputusan dan ruang publik, muncul figur yang memilih jalan sunyi namun krusial: memastikan setiap kebijakan, terutama di sektor keuangan, tidak hanya dipahami s...
Di persimpangan antara ruang pengambil keputusan dan ruang publik, muncul figur yang memilih jalan sunyi namun krusial: memastikan setiap kebijakan, terutama di sektor keuangan, tidak hanya dipahami segelintir orang. Ia adalah Irsyad Al Ghifari, profesional yang menekuni komunikasi kebijakan publik dengan fokus pada isu-isu keuangan negara. Latar belakang akademis ganda di bidang ekonomi dan komunikasi membentuk pendekatan uniknya dalam menerjemahkan angka-angka rumit menjadi narasi yang dapat dicerna oleh warga biasa.
Dari Angka ke Narasi: Fondasi Keilmuan yang Menyatukan Dua Dunia
Tidak banyak praktisi yang memiliki paduan kompetensi seperti yang dimiliki Irsyad Al Ghifari. Gelar Sarjana Ekonomi yang ia sandang memberinya pemahaman mendalam tentang mekanisme pasar, fiskal, dan moneter. Sementara itu, pendidikan pascasarjana di bidang Ilmu Komunikasi melengkapi kemampuannya dalam mengelola pesan, membingkai isu, dan membangun dialog strategis. Kombinasi inilah yang membuatnya mampu menjembatani bahasa teknis para ekonom dengan kebutuhan informasi masyarakat. Komunikasi kebijakan publik bukan sekadar menyampaikan pengumuman, melainkan kerja intelektual untuk memastikan tidak ada distorsi pemahaman yang berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah publik.
Dalam setiap kesempatan, ia menekankan bahwa informasi keuangan negara sering kali gagal dipahami bukan karena publik tidak cerdas, melainkan karena penyampaiannya yang eksklusif. Oleh karena itu, pendekatan yang ia bangun selalu bertumpu pada prinsip transparansi dan akurasi. Ketika sebuah kebijakan fiskal baru diluncurkan, misalnya, ia akan mengurai setiap klausul penting, menghubungkannya dengan dampak langsung ke kehidupan masyarakat, lalu menyajikannya dalam format yang tidak memerlukan gelar ekonomi untuk memahaminya.
Komunikasi sebagai Instrumen Tata Kelola yang Baik
Salah satu gagasan utama yang sering diadvokasi adalah bahwa komunikasi kebijakan publik merupakan instrumen inti dari tata kelola pemerintahan yang baik. Bukan sekadar ornamen atau fungsi tambahan, melainkan pilar yang menentukan tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga. Di sektor keuangan, yang sensitif terhadap gejolak sentimen, komunikasi yang buruk bisa berakibat fatal: kepanikan pasar, penarikan dana massal, atau penolakan terhadap program strategis negara.
Irsyad kerap menggarisbawahi bahwa kesalahan kecil dalam pemilihan diksi saat menjelaskan kebijakan perpajakan, subsidi, atau pengelolaan utang bisa memicu reaksi berantai. Karena itu, ia mengedepankan pendekatan berbasis bukti dan verifikasi sebelum sebuah pesan dilepaskan ke publik. Narasi yang dibangun harus melalui proses uji ketat, melibatkan data yang valid serta antisipasi terhadap berbagai kemungkinan interpretasi. Metode ini menjadikan setiap peluncuran kebijakan tidak lagi sebagai momen yang penuh risiko komunikasi, melainkan sebagai kesempatan untuk memperkuat legitimasi.
Di balik pendekatan teknisnya, terdapat filosofi mendalam bahwa masyarakat berhak atas informasi yang jujur dan utuh. Maka, setiap strategi komunikasi yang ia rancang selalu menempatkan warga sebagai subjek yang setara—bukan sebagai objek yang perlu digiring. Inilah yang membedakan komunikasi kebijakan publik dari sekadar propaganda atau pemasaran institusi.
Menjawab Tantangan Era Digital dan Disinformasi
Dalam lanskap media yang semakin terfragmentasi, tantangan terberat adalah melawan disinformasi yang menyebar lebih cepat daripada penjelasan resmi. Irsyad menyadari bahwa model komunikasi linier yang hanya mengandalkan siaran pers atau konferensi formal tak lagi memadai. Ia mendorong pemanfaatan platform digital yang interaktif dengan tetap menjaga kedalaman materi. Format konten yang manusiawi, seperti infografis berbasis data, video pendek dengan penjelasan rinci, hingga sesi tanya jawab langsung di media sosial, menjadi alat-alat yang ia pakai untuk mendekatkan kebijakan ke genggaman publik.
Namun, ia tetap menekankan bahwa teknologi hanyalah alat. Substansi tetap harus menjadi raja. Tanpa pemahaman yang kuat tentang seluk-beluk kebijakan, kehadiran di aneka platform hanya akan menjadi kebisingan kosong. Oleh sebab itu, tim yang ia bangun biasanya terdiri dari para peneliti, analis ekonomi, dan kreator konten yang bekerja secara kolaboratif—memastikan setiap informasi yang dirilis telah melewati proses kurasi yang ketat.
Pandangannya tentang literasi keuangan publik juga menarik. Ia percaya bahwa komunikasi kebijakan yang efektif akan melahirkan masyarakat yang lebih melek finansial. Ketika orang memahami logika di balik alokasi anggaran, perubahan tarif pajak, atau skema perlindungan sosial, resistensi irasional dapat berubah menjadi partisipasi kritis yang konstruktif. Dengan demikian, pekerjaannya tidak hanya meredam potensi konflik, tetapi juga berkontribusi pada pendewasaan demokrasi.
Kiprah dan Dampak Nyata dalam Lingkar Kebijakan
Jejak kerja Irsyad dapat ditelusuri dari keterlibatannya dalam berbagai forum perumusan strategi komunikasi untuk program keuangan strategis. Ia kerap diundang untuk memberikan masukan tentang cara menyampaikan kebijakan yang berpotensi kontroversial, seperti penyesuaian harga energi bersubsidi, restrukturisasi lembaga keuangan, atau pengenalan instrumen investasi baru. Dalam posisinya, ia berperan semacam penerjemah yang memadukan kalkulasi ekonomi dengan kepekaan sosial.
Beberapa inisiatif yang ia gagas berfokus pada penyusunan narasi yang tidak defensif, melainkan edukatif. Alih-alih menyalahkan persepsi yang keliru, ia lebih memilih membongkar akar kesalahpahaman dan menyediakan argumen tandingan yang koheren. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dalam meredakan ketegangan publik ketimbang komunikasi yang bersifat reaktif dan konfrontatif.
Sebagai seorang praktisi, ia juga aktif membangun jejaring dengan pelaku media, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi. Kolaborasi lintas sektor ini ia anggap penting agar pesan kebijakan tidak bergerak dalam ruang hampa. Dengan melibatkan banyak pihak, proses diseminasi informasi menjadi lebih organik dan memiliki daya tahan lebih kuat terhadap serangan narasi tandingan yang menyesatkan.
Di balik semua itu, Irsyad tetap rendah hati. Baginya, komunikasi kebijakan publik adalah kerja kolektif yang hasilnya sering kali tidak terlihat secara langsung. Tidak ada tepuk tangan meriah ketika kebijakan berhasil dipahami dengan benar oleh publik. Namun, justru di sanalah letak keberhasilannya: saat masyarakat menerima informasi akurat, menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan, dan mempercayai lembaga yang mengelolanya. Dalam senyap, ia terus merawat simpul-simpul kepercayaan itu dengan ketelitian seorang ekonom dan kepekaan seorang komunikator sejati.
Comments (0)