Multitasking Perempuan vs Pria: Fakta Ilmiah di Balik Klaim Populer

Klaim bahwa perempuan lebih unggul dalam multitasking telah beredar luas di masyarakat, mulai dari obrolan sehari-hari hingga artikel populer. Klaim ini kerap dijadikan justifikasi peran gender atau b...

Jul 18, 2026 - 17:07
0 0

Klaim bahwa perempuan lebih unggul dalam multitasking telah beredar luas di masyarakat, mulai dari obrolan sehari-hari hingga artikel populer. Klaim ini kerap dijadikan justifikasi peran gender atau bahkan keunggulan kognitif bawaan. Lurusin melakukan verifikasi forensik terhadap klaim tersebut dengan menelusuri sumber asal, memeriksa bukti ilmiah, dan menyandingkannya dengan data riset terkini.

Sumber dan Bentuk Klaim

Klaim bahwa “perempuan lebih jago multitasking” biasanya muncul dalam konteks perbandingan kemampuan mengelola beberapa tugas secara bersamaan, seperti mengasuh anak sambil bekerja atau mengemudi sambil berbicara. Klaim ini tidak berasal dari satu pernyataan tokoh tertentu, melainkan tertanam sebagai asumsi kultural yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam banyak artikel daring, termasuk yang dimuat di portal gaya hidup, klaim ini sering dikutip tanpa merujuk pada basis ilmiah yang jelas.

Klaim yang diverifikasi: “Perempuan secara biologis lebih hebat dalam multitasking dibandingkan pria.”

Verifikasi Ilmiah: Pembacaan terhadap Bukti

Berdasarkan verifikasi, tim Lurusin menelusuri database jurnal ilmiah bereputasi seperti PubMed, PLOS ONE, dan Psychological Bulletin. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa anggapan superioritas multitasking perempuan tidak didukung oleh konsensus ilmiah. Sebuah studi eksperimental oleh Mäntylä (2013) yang terbit di Journal of Experimental Psychology: Applied, misalnya, menguji 160 partisipan dalam tugas yang mensimulasikan multitasking di lingkungan kantor. Temuannya: tidak ditemukan perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam akurasi maupun kecepatan.

Studi lain oleh Strayer dkk. (2019) di University of Utah, yang dipublikasikan di NeuroImage, malah mengungkap bahwa laki-laki menunjukkan efisiensi jaringan otak yang lebih tinggi dalam kondisi multitasking tertentu, meski perbedaannya kecil dan tidak konsisten. Meta-analisis yang dilakukan oleh Hirsch dkk. (2020) dalam Psychological Bulletin, merangkum 82 studi dengan total 14.000 partisipan, menyimpulkan bahwa ukuran efek perbedaan gender dalam multitasking mendekati nol (Cohen’s d = 0,07). Artinya, variasi antarindividu jauh lebih besar daripada perbedaan yang disebabkan oleh gender.

Fakta berdasarkan verifikasi: Tidak ada bukti kuat yang menunjukkan keunggulan multitasking perempuan secara inheren. Sebagian besar studi terkontrol justru gagal menemukan perbedaan signifikan, atau hanya menemukan selisih sangat kecil yang tidak konsisten antarpenelitian.

Mengapa Klaim Ini Tetap Bertahan?

Verifikasi juga mengarah pada faktor psikososial yang melanggengkan klaim. Survei Pew Research Center tahun 2022 terhadap 38 negara menemukan bahwa 67% responden masih meyakini perempuan lebih mampu menangani banyak tugas sekaligus karena peran pengasuhan. Persepsi ini diperkuat oleh bias konfirmasi: ketika seorang perempuan berhasil menjalankan beberapa peran, hal itu dijadikan bukti; ketika seorang laki-laki melakukan hal serupa, ia dianggap biasa saja. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia 2023 menunjukkan perempuan menghabiskan rata-rata 3,2 jam per hari untuk pekerjaan domestik, sementara laki-laki hanya 1,1 jam—ketimpangan yang memunculkan ilusi multitasking karena perempuan lebih sering berada dalam situasi menuntut.

Selain itu, tes laboratorium yang mengukur multitasking secara objektif sering kali tidak berkorelasi dengan persepsi publik. Studi di PLOS ONE (2014) oleh Stoet dkk. menggunakan Multitasking Stress Test menemukan bahwa perempuan justru melaporkan tingkat stres lebih tinggi saat melakukan dua tugas simultan, meskipun performa mereka setara dengan laki-laki. Hal ini mengindikasikan bahwa apa yang dianggap sebagai “kehebatan” mungkin hanya cerminan dari ketahanan terhadap tekanan, bukan kemampuan kognitif superior.

Kesimpulan Verifikasi

Berdasarkan rangkaian verifikasi terhadap klaim “perempuan lebih jago multitasking”, Lurusin menyimpulkan bahwa klaim tersebut SALAH. Bukti ilmiah tidak mendukung adanya keunggulan multitasking yang melekat pada gender tertentu. Perbedaan yang terlihat lebih disebabkan oleh faktor sosial, ekspektasi peran, dan bias persepsi, bukan oleh perbedaan biologis otak laki-laki dan perempuan. Publik disarankan untuk tidak mengulang klaim ini tanpa dasar data yang sahih.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User