Sep 10, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Indonesia Didesak Bangun Sistem Deteksi Bawah Laut Selain Kapal Selam

Di kedalaman selat-selat strategis Nusantara yang sunyi, pergerakan alutsista asing kerap menjadi misteri yang sulit terpecahkan. Indonesia kini bersiap me

Indonesia Didesak Bangun Sistem Deteksi Bawah Laut Selain Kapal Selam

Di kedalaman selat-selat strategis Nusantara yang sunyi, pergerakan alutsista asing kerap menjadi misteri yang sulit terpecahkan. Indonesia kini bersiap memasuki fase krusial dalam peta jalan pembinaan kekuatan pertahanan maritimnya melalui skema Optimum Essential Force (OEF) 2025–2029. Namun, di tengah gempita rencana modernisasi dan penambahan armada kapal selam modern untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), para pakar militer mengingatkan adanya celah fatal: *kemampuan deteksi bawah laut yang belum terintegrasi secara optimal*.

Membeli kapal selam siluman berteknologi tinggi tentu memperkuat daya gentar. Tetapi tanpa jaringan pengawasan bawah air yang solid, ruang laut Indonesia yang membentang seluas 7,9 juta kilometer persegi tetap menyimpang risiko kebobolan yang tinggi. Pertahanan maritim modern tak lagi sekadar adu canggih alutsista bergerak, melainkan dominasi domain informasi di bawah permukaan laut.

Menembus Kebutuhan OEF 2025-2029: Bukan Sekadar Armada Kapal Selam

Fase OEF 2025–2029 dirancang untuk menggeser paradigma pertahanan Indonesia dari sekadar pemenuhan kebutuhan minimal (Minimum Essential Force) menuju kekuatan yang optimal. Dalam dokumen perencanaan militer, penguatan armada bawah air TNI AL kerap menjadi sorotan utama. Namun, langkah ini dinilai kurang lengkap jika berdiri sendiri tanpa sokongan *Integrated Undersea Surveillance System* (IUSS).

"Kapal selam adalah aset penyerang dan peronda yang sangat efektif, tetapi jangkauan sonarnya terbatas oleh kondisi hidrografi setempat. Tanpa sensor statis dan dinamis yang ditanam di titik-titik krusial, kita seperti berjalan di dalam kegelapan hanya dengan mengandalkan satu senter kecil," ungkap seorang analis pertahanan maritim.

Pengembangan sistem deteksi bawah laut mencakup pemasangan jaringan hidrofon dasar laut (hydrophone arrays), penggunaan *Autonomous Underwater Vehicles* (AUV), hingga integrasi radar pesisir dan sonar helikopter anti-kapal selam. Investasi pada teknologi jaringan bawah laut ini diperkirakan jauh lebih efisien dibanding hanya terus menambah unit kapal selam tanpa dukungan infrastruktur intelijen laut yang memadai.

Celah Kritis di ALKI dan Strategi Sensor Terintegrasi

Indonesia memiliki tiga Jalur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi perlintasan kapal-kapal internasional, termasuk kapal selam nuklir milik negara-negara kekuatan besar. Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Ombai-Wetar merupakan chokepoint (titik jepit) dunia yang berpotensi dijadikan lintasan senyap tanpa izin.

Kedaulatan maritim tidak bisa hanya bergantung pada patroli fisik yang terbatas oleh jam operasional dan bahan bakar. Di sinilah peran penting sensor bawah laut persisten yang mampu bekerja 24 jam nonstop untuk mendeteksi jejak akustik kapal asing yang melintas.

Komponen Pertahanan Fungsi Utama Keterbatasan Tanpa Sistem Terintegrasi
Armada Kapal Selam Penyerangan presisi, perondaan jarak jauh, penggentar utama Jangkauan deteksi terbatas pada area sekitar kapal saja
Jaringan Sensor Bawah Laut (IUSS) Pengawasan pasif 24/7 di chokepoint strategis secara real-time Membutuhkan proteksi fisik & pemeliharaan infrastruktur kabel laut
AUV & Drone Laut Patroli bergerak otonom di wilayah laut dangkal dan terpencil Tergantung pada kapasitas baterai dan integrasi data pemprosesan

Investasi Masa Depan: Integrasi Teknologi Bawah Laut

Membangun sistem deteksi bawah laut yang modern membutuhkan kolaborasi erat antara alokasi anggaran Kementerian Pertahanan dan riset industri dalam negeri. Pengadaan kabel serat optik bawah laut bersensor akustik (SOSUS modern) harus dipadukan dengan pemrosesan data berbasis Kecerdasan Buatan (AI) untuk mengenali *tanda akustik* (acoustic signature) setiap kapal yang melintas.

Jika Indonesia berhasil merealisasikan kombinasi antara armada kapal selam baru dan sistem deteksi bawah laut yang tangguh pada periode OEF 2025–2029, maka visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang berdaulat secara penuh bukan lagi sekadar retorika politik, melainkan benteng pertahanan nyata di kedalaman samudra.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User