Hatice Çelik, Direktur Pusat Kajian ASEAN Universitas Ilmu Sosial Ankara

Hatice Çelik merupakan akademisi asal Turki yang menjabat sebagai Direktur Pusat Kajian ASEAN di Universitas Ilmu Sosial Ankara, dikenal juga sebagai Ankara Sosyal Bilimler Üniversitesi (ASBÜ). Pos...

Hatice Çelik, Direktur Pusat Kajian ASEAN Universitas Ilmu Sosial Ankara

Hatice Çelik merupakan akademisi asal Turki yang menjabat sebagai Direktur Pusat Kajian ASEAN di Universitas Ilmu Sosial Ankara, dikenal juga sebagai Ankara Sosyal Bilimler Üniversitesi (ASBÜ). Posisi tersebut menempatkannya sebagai salah satu figur penting dalam pengembangan kajian Asia Tenggara di Turki, sebuah bidang yang tergolong relatif baru namun berkembang pesat seiring meningkatnya perhatian Ankara terhadap kawasan Indo-Pasifik. Berdasarkan penelusuran informasi publik, sosok Çelik sebagian besar teridentifikasi melalui peran kelembagaannya, sementara detail biografi pribadinya belum banyak tersedia di ruang publik internasional.

Universitas Ilmu Sosial Ankara

Universitas Ilmu Sosial Ankara didirikan pada 2013 dan dikenal sebagai universitas negeri pertama di Turki yang berfokus secara khusus pada ilmu-ilmu sosial. Kampusnya berlokasi di kawasan Ulus, jantung ibu kota Ankara, tidak jauh dari kompleks pemerintahan serta lembaga-lembaga negara. Sejak berdiri, universitas ini memposisikan diri sebagai pusat penelitian sosial, humaniora, dan kajian kawasan, dengan berbagai pusat studi yang meneliti wilayah-wilayah strategis dunia, mulai dari Timur Tengah, Afrika, hingga Asia.

Keberadaan pusat kajian yang berdedikasi pada ASEAN di lingkungan universitas ini mencerminkan arah kebijakan akademik Turki yang semakin terbuka terhadap kawasan di luar lingkup tradisionalnya. Kajian Asia Tenggara di Turki memang belum memiliki tradisi sepanjang kajian serupa di Eropa Barat atau Amerika Serikat, tetapi minat terhadap kawasan ini tumbuh signifikan dalam satu dekade terakhir, ditopang oleh kebijakan luar negeri dan ekspansi diplomatik Turki.

Pusat Kajian ASEAN sebagai Jembatan Akademik

Sebagai direktur, Çelik memimpin lembaga yang berfungsi sebagai simpul penelitian, publikasi, dan dialog akademik mengenai sepuluh negara anggota ASEAN. Pusat kajian semacam ini umumnya menjalankan sejumlah fungsi strategis: menghasilkan analisis mengenai perkembangan politik dan ekonomi kawasan, menyelenggarakan seminar serta konferensi, membangun jejaring dengan universitas dan lembaga penelitian di Asia Tenggara, serta menyediakan rujukan intelektual bagi pengambil kebijakan di Turki.

Peran tersebut menjadi relevan karena ASEAN, yang didirikan pada 1967 dan kini beranggotakan Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, dan Myanmar, merupakan salah satu kelompok regional paling dinamis di dunia. Dengan total penduduk lebih dari 650 juta jiwa dan ekonomi gabungan yang terus tumbuh, kawasan ini menarik perhatian banyak negara mitra, termasuk Turki.

Konteks Hubungan Turki dan ASEAN

Kiprah Pusat Kajian ASEAN di Ankara tidak dapat dilepaskan dari perkembangan hubungan resmi antara Turki dan ASEAN. Data menunjukkan bahwa Turki menandatangani Traktat Persahabatan dan Kerja Sama atau Treaty of Amity and Cooperation pada 2010, langkah awal yang menandai keseriusan Ankara menjalin hubungan institusional dengan blok tersebut. Pada 2017, dalam Sidang Menteri Luar Negeri ASEAN ke-50 di Manila, Turki resmi diterima sebagai mitra wicara sektoral, status yang membuka kerja sama terstruktur di berbagai bidang.

Dua tahun berselang, pada 2019, Kementerian Luar Negeri Turki meluncurkan Inisiatif Asia Anew atau Yeniden Asya, kerangka kebijakan yang menegaskan keinginan Ankara memperdalam hubungan dengan negara-negara Asia, termasuk kawasan Asia Tenggara. Turki juga telah membuka perwakilan diplomatik di seluruh sepuluh negara anggota ASEAN dan mengakreditasi duta besar untuk ASEAN yang berkedudukan di Jakarta, kota yang juga menjadi lokasi Sekretariat ASEAN.

Konektivitas turut menopang kedekatan kedua kawasan. Maskapai penerbangan nasional Turki melayani rute ke sejumlah ibu kota Asia Tenggara, sementara program beasiswa pemerintah Turki setiap tahun menerima mahasiswa dari negara-negara ASEAN. Dalam konteks tersebut, lembaga kajian seperti yang dipimpin Çelik berfungsi sebagai infrastruktur intelektual: menyediakan analisis, melatih sumber daya manusia yang memahami kawasan, dan memfasilitasi pertukaran akademik. Hubungan antarnegara yang kuat hampir selalu ditopang oleh komunitas peneliti yang memahami bahasa, budaya, dan dinamika kawasan mitra.

Keterbatasan Informasi Publik

Berdasarkan penelusuran yang tersedia, informasi mengenai latar belakang pendidikan, riwayat karier, maupun publikasi spesifik Çelik masih terbatas di kanal-kanal publik berbahasa internasional. Profil kelembagaannya sebagai direktur pusat kajian menjadi rujukan utama yang dapat diverifikasi saat ini. Kondisi semacam ini tidak lazim bagi akademisi yang bekerja di bidang kajian kawasan di luar arus utama media berbahasa Inggris.

Kendati demikian, posisi yang diembannya menegaskan satu hal: kajian ASEAN kini memiliki rumah institusional di ibu kota Turki. Figur seperti Hatice Çelik berada di garda depan upaya mempertemukan dua kawasan yang secara geografis berjauhan namun semakin terhubung oleh kepentingan ekonomi, diplomatik, dan akademik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User