Hari ke-9 Kebakaran TPA Jatiwaringin, Petugas Gabungan Berjuang Hilangkan Asap Tebal

Gundukan sampah setinggi 15 meter di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kota Tangerang, masih menyemburkan asap pekat berwarna kelabu kecokelatan

Jul 08, 2026 - 15:23
0 0
Hari ke-9 Kebakaran TPA Jatiwaringin, Petugas Gabungan Berjuang Hilangkan Asap Tebal

Gundukan sampah setinggi 15 meter di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kota Tangerang, masih menyemburkan asap pekat berwarna kelabu kecokelatan pada Selasa pagi. Meski titik api utama telah berhasil dikuasai, bara di lapisan dalam tumpukan sampah terus menghasilkan asap yang menyelimuti permukiman warga dalam radius 2 kilometer. Operasi pemadaman telah memasuki hari ke-9, melibatkan 120 personel gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Tangerang, BPBD, TNI, Polri, serta relawan lingkungan. Hingga pukul 10.00 WIB, sembilan unit mobil pemadam masih berjibaku menyiramkan air dan cairan pemadam khusus ke titik-titik yang terindikasi menyimpan bara bawah permukaan.

Api di Bawah Permukaan: Tantangan Utama

Kebakaran TPA bukan fenomena permukaan biasa. Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Irwan Setiawan, menjelaskan bahwa gas metana yang terperangkap dalam rongga sampah organik menjadi pemicu api abadi yang sulit dijangkau. “Kami hadapi api bawah tanah (subsurface fire) yang bisa bertahan berminggu-minggu,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di posko darurat. Data Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa tumpukan sampah setinggi 15 meter di TPA Jatiwaringin memiliki suhu inti yang masih mencapai 210 derajat Celsius di beberapa titik, turun dari 350 derajat Celsius saat puncak kebakaran pada hari ketiga.

“Kami menggunakan metode injeksi air bertekanan tinggi ke dalam retakan-retakan yang kami buat dengan alat berat. Tapi kendalanya, air mudah menguap sebelum mencapai pusat bara. Sekarang kami kombinasikan dengan foam class A yang lebih mampu menembus pori-pori sampah,” jelas Komandan Regu Damkar Tangerang, Agus Purnomo, sambil menunjuk ke arah ekskavator yang sedang membongkar tumpukan sampah.

Petugas di lapangan juga menerapkan teknik cold trailing: menggali lapisan sampah yang didinginkan dengan air, lalu memisahkan material yang sudah tidak membara. Namun, metana yang terus terbentuk dari dekomposisi anaerobik tetap menjadi ancaman penyalaan ulang. Hingga hari ke-9, setidaknya dua kali titik api kecil muncul kembali di zona yang telah dinyatakan aman pada hari sebelumnya.

Dampak Kesehatan: Warga Mengungsi Mandiri

Asap tebal yang didominasi partikulat PM2.5 dan gas berbahaya seperti karbon monoksida serta hidrogen sulfida telah memaksa 47 keluarga di Perumahan Pondok Permai dan Kampung Bulak—dua permukiman terdekat—mengungsi ke rumah kerabat atau posko kesehatan yang didirikan Dinas Kesehatan. Dinas Kesehatan Kota Tangerang mencatat 83 kasus ISPA dalam sepekan terakhir, naik 320 persen dibandingkan rerata bulanan. Balita dan lansia menjadi kelompok paling rentan.

“Bau menyengat itu bikin anak saya muntah tiap malam. Kami sudah empat hari tidur di rumah saudara di Cipondoh. Mau balik, tapi takut,” ujar Siti Maimunah (34), warga Perumahan Pondok Permai, saat mengambil masker N95 yang dibagikan petugas di posko.

Hasil pemantauan kualitas udara oleh Dinas Lingkungan Hidup menggunakan alat low volume air sampler di tiga titik menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 187 µg/m³ — jauh di atas ambang aman 15 µg/m³ yang ditetapkan WHO. Pemerintah kota telah mendistribusikan 2.000 masker N95 dan menyiapkan layanan kesehatan keliling di dua titik.

Kronologi dan Penyebab: Menanti Hasil Investigasi

Kebakaran pertama kali dilaporkan oleh petugas jaga TPA pada Senin dini hari pukul 02.35 WIB, 23 Juni 2025. Api diduga berasal dari zona penimbunan baru yang mengandung material mudah terbakar, namun penyelidikan resmi masih berlangsung. Kepolisian Resor Metro Tangerang telah memeriksa enam saksi dan mengambil sampel material untuk uji laboratorium forensik. Dugaan sementara mengarah pada spontaneous combustion — pembakaran spontan akibat akumulasi panas dalam tumpukan sampah kering yang bercampur limbah organik — namun belum ada kesimpulan final.

Data dari Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa TPA Jatiwaringin menerima rata-rata 850 ton sampah per hari dari Kota Tangerang dan sekitarnya. Kapasitas tampungnya sudah terlampaui sejak 2023, dengan ketinggian sampah di zona aktif mencapai 18 meter, melebihi batas aman 12 meter yang direkomendasikan dalam studi lingkungan 2021.

Respons dan Mitigasi: Komitmen Jangka Pendek

Pemerintah Kota Tangerang telah mengalihkan seluruh pengiriman sampah ke TPA Rawa Kucing sejak hari kedua kebakaran. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Budi Hartono, mengumumkan bahwa upaya pemadaman akan terus dilakukan hingga minggu depan, dengan target menurunkan suhu inti di bawah 80 derajat Celsius. Selain itu, akan dipasang 24 titik sumur pantau gas untuk mendeteksi akumulasi metana di masa mendatang.

Namun, persoalan struktural belum tersentuh. TPA Jatiwaringin masih beroperasi dengan sistem open dumping, bukan sanitary landfill yang lebih aman. Rencana pembangunan instalasi pengolahan gas metana yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah 2022-2042 belum juga terealisasi. Pengamat lingkungan dari Universitas Tangerang, Dr. Hendra Kusuma, menekankan bahwa insiden ini adalah “bencana ekologis yang terprediksi”—akibat dari pengelolaan sampah yang tidak berkelanjutan selama bertahun-tahun.

“Selama kita masih menumpuk sampah setinggi gunung tanpa pengolahan gas dan lapisan penutup, kebakaran seperti ini akan berulang. Ini bukan soal pemadaman, tapi soal tata kelola sampah yang harus diubah total,” tegas Hendra.

Sementara itu, prakiraan cuaca dari BMKG menyebutkan potensi hujan ringan di kawasan Tangerang pada Kamis nanti. Jika terjadi, hujan dapat membantu mengurangi asap dan menurunkan suhu permukaan, namun juga berisiko meningkatkan aliran lindi ke saluran air sekitar. Petugas tetap bersiaga. Hari ini, pertempuran melawan asap tebal masih berlangsung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User