Hajat Bumi Situ Rawabinong: Wujud Lestari Budaya dan Gotong Royong Warga Bekasi

Semangat kolektif warga Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, kembali terpancar dalam perhelatan adat tahunan yang telah diwariskan turun-temurun. Hajat Bumi Situ Rawabinong buk...

Jul 12, 2026 - 14:43
0 0

Semangat kolektif warga Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, kembali terpancar dalam perhelatan adat tahunan yang telah diwariskan turun-temurun. Hajat Bumi Situ Rawabinong bukan sekadar ritual seremonial, melainkan cerminan hidup harmoni antara manusia, alam, dan leluhur yang terus dijaga di tengah arus modernisasi. Ribuan warga tumplek blek di sekitar kawasan situ (danau) alami tersebut, menggelar doa bersama, kirab hasil bumi, hingga pentas kesenian lokal yang semuanya digerakkan oleh gotong royong murni.

Apresiasi Pemerintah dan Komitmen Pelestarian

Pemerintah Kabupaten Bekasi memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif warga ini. Dalam sambutan tertulisnya, pejabat daerah menekankan bahwa Hajat Bumi Situ Rawabinong tidak hanya memperkuat identitas kultural, tetapi juga menjadi aset pariwisata berbasis komunitas yang berpotensi menggerakkan ekonomi lokal. "Kami sangat mengapresiasi warga Hegarmukti yang secara mandiri terus merawat tradisi ini. Ini adalah model pelestarian yang ideal: masyarakat sebagai aktor utama, pemerintah sebagai fasilitator," ujar seorang pejabat setempat, seraya menambahkan bahwa situs ini akan dimasukkan dalam kalender tetap kegiatan budaya daerah.

Bentuk dukungan teknis diberikan melalui perbaikan akses jalan menuju lokasi, penyediaan sarana kebersihan, dan promosi melalui kanal-kanal resmi pemkab. Kendati begitu, seluruh prosesi adat—mulai dari penanaman pohon simbolis hingga ngarumat lembur (membersihkan lingkungan)—tetap dipimpin para tokoh adat dan sesepuh desa, memastikan substansi ritual tidak tergerus intervensi formal.

Akar Tradisi dan Simbolisme Ekologis

Hajat Bumi di Situ Rawabinong diyakini telah berlangsung sejak abad ke-19, bermula dari ritual syukur atas limpahan air danau yang menjadi sumber irigasi dan perikanan warga. Dalam perkembangannya, tradisi ini semakin sarat makna ekologis: menolak bala kekeringan, sekaligus berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial untuk menjaga kelestarian situ. Tumpeng raksasa dari hasil pertanian setempat dan aneka jajanan pasar yang diarak warga menjadi penanda dominasi agraris Bekasi pada masa lalu—yang kini kian tergerus kawasan industri.

Data Balai Pelestarian Kebudayaan setempat mencatat bahwa tradisi ini merupakan salah satu dari sedikit praktik hajat bumi yang masih utuh di kawasan Jabodetabek. Keunikan lainnya adalah keterlibatan penuh lintas generasi. Para pemuda bukan hanya bertugas dalam logistik, tetapi juga menjadi panitia inti yang memadukan sentuhan digital seperti siaran langsung prosesi dan dokumentasi berbasis fotografi drone, sehingga narasi tradisional bisa menjangkau warganet.

Gotong Royong Sebagai Perekat Sosial

Aspek paling mencolok dari Hajat Bumi Situ Rawabinong adalah semangat kegotongroyongan yang menyatu dalam setiap tahapan. Tidak ada panitia berbayar; seluruh warga dari enam RW secara sukarela menyumbang bahan pangan, tenaga, dan kreativitas. Dapur umum dadakan didirikan di beberapa titik untuk menyajikan hidangan gratis bagi semua pengunjung—sebuah pemandangan langka di era individualisme urban.

Budayawan lokal menyebut fenomena ini sebagai “resiliensi komunal” yang langgeng. “Di desa ini, gotong royong bukan komoditas untuk dilombakan, melainkan napas keseharian. Hajat Bumi hanyalah puncak ekspresinya,” jelas seorang pengamat budaya. Solidaritas semacam ini pula yang dinilai menjadi benteng sosial menghadapi fragmentasi akibat pembangunan industri di sekitar Bekasi.

Menjawab Tantangan Zaman

Di tengah tekanan alih fungsi lahan dan pendangkalan situ, warga Hegarmukti justru menggunakan momentum Hajat Bumi untuk menyuarakan kepedulian lingkungan. Pada edisi terbaru, agenda ritual dilengkapi dengan penebaran benih ikan endemik dan penanaman bibit pohon keras di daerah tangkapan air situ. Langkah ini mendapat sambutan dari aktivis lingkungan yang melihat tradisi lokal sebagai jalur efektif edukasi konservasi.

Pemerintah daerah melalui dinas terkait berencana menggandeng para pemuda desa untuk menyusun dokumen pencatatan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional. Jika berhasil, status tersebut akan memberi proteksi hukum dan akses pendanaan pemeliharaan yang lebih pasti, tanpa menghilangkan kepemilikan komunitas atas tradisi tersebut.

Hajat Bumi Situ Rawabinong membuktikan bahwa modernisasi dan tradisi bisa berjalan berdampingan ketika komunitas memegang kendali atas narasi budayanya sendiri. Lebih dari sekadar acara adat, ini adalah pernyataan sikap: bahwa warga Bekasi masih menempatkan kebersamaan dan rasa syukur pada alam di atas segalanya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User