Hajat Bumi Situ Rawabinong: Merawat Tradisi, Merajut Kebersamaan Warga Hegarmukti

Ritual Hajat Bumi Situ Rawabinong kembali digelar di Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar seremoni tahunan,...

Jul 12, 2026 - 14:53
0 0

Ritual Hajat Bumi Situ Rawabinong kembali digelar di Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ekspresi syukur masyarakat atas hasil bumi dan upaya merawat keseimbangan alam, khususnya ekosistem Situ Rawabinong yang menjadi sumber penghidupan. Ribuan warga dari berbagai penjuru desa tumpah ruah mengikuti prosesi adat yang sarat makna spiritual dan sosial tersebut.

Kegiatan ini berlangsung meriah dengan rangkaian acara berupa kirab tumpeng, pagelaran seni tradisional, hingga penebaran benih ikan di perairan situ. Suasana kekeluargaan begitu kental terasa, memperlihatkan bagaimana tradisi ini menjadi pengikat yang mempererat ikatan antarwarga. Kehadiran tokoh masyarakat, pemuka adat, hingga perwakilan pemerintah daerah menambah semarak suasana, sekaligus menegaskan bahwa warisan leluhur ini diakui sebagai aset budaya yang berharga.

Akar Sejarah dan Makna Filosofis

Menurut para sesepuh Desa Hegarmukti, Hajat Bumi Situ Rawabinong telah ada sejak abad ke-19, berawal dari kebiasaan para petani dan nelayan yang menggantungkan hidup pada limpahan air situ. Ritual ini dijadwalkan setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa, sebagai bentuk persembahan kepada Sang Pencipta agar dijauhkan dari bala bencana dan diberikan keberkahan dalam setiap panen. Makna mendalam juga tercermin dari sesaji yang diarak: hasil pertanian seperti padi dan buah-buahan, serta simbol-simbol kehidupan yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Prosesi inti berupa larung kepala kerbau dan tumpeng ke tengah situ menjadi momen puncak. Masyarakat percaya, tindakan ini adalah wujud “mulihkeun ka lemah cai” atau mengembalikan apa yang telah diambil dari alam. Filosofi ini mengajarkan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan lingkungannya, sebuah nilai yang kian relevan di tengah isu kerusakan ekosistem. Tak heran, tradisi ini turut menjadi media edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya konservasi sumber daya air.

Gotong Royong yang Menghidupkan Tradisi

Salah satu elemen paling mencolok dari Hajat Bumi Situ Rawabinong adalah semangat gotong royong yang menjadi denyut nadi penyelenggaraannya. Sejak sebulan sebelum acara, warga dari berbagai RT dan RW membentuk panitia adat secara swadaya. Kaum lelaki bergotong royong membersihkan area situ, mendirikan panggung, dan menyiapkan dekorasi dari janur. Perempuan-perempuan sibuk di dapur umum, memasak ribuan pincuk nasi untuk dibagikan gratis kepada seluruh pengunjung.

“Di sini tidak ada yang dibayar. Semua bekerja atas dasar rasa handarbeni, rasa memiliki. Inilah kekayaan kami sesungguhnya,” ujar seorang tokoh pemuda yang turut mengkoordinasi kegiatan. Data dari panitia mencatat, lebih dari 2.500 relawan terlibat langsung, mulai dari anak-anak yang bertugas menjadi pembawa bendera adat hingga orang tua yang memimpin doa. Gotong royong semacam ini menjadi bukti bahwa tradisi bukan hanya urusan seremoni, melainkan praktik sosial yang membangun solidaritas dan kemandirian warga.

Kekompakan ini juga terlihat dalam pendanaan. Tidak ada sponsor korporasi besar, seluruh biaya ditanggung melalui urunan warga dan sumbangan sukarela. Bahkan, para petani dan nelayan setempat menyisihkan sebagian hasil tangkapan atau panen untuk menyokong jalannya acara. Model ekonomi kerakyatan ini memastikan bahwa tradisi tetap hidup tanpa ketergantungan pada pihak luar, sekaligus memperkuat ikatan sosial antarwarga.

Apresiasi Pemerintah dan Langkah Pelestarian

Keteguhan masyarakat Hegarmukti dalam menjaga Hajat Bumi Situ Rawabinong menuai apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. Dalam sambutannya, seorang pejabat daerah menyatakan bahwa tradisi ini merupakan cermin identitas budaya Bekasi yang harus terus dirawat dan dipromosikan. Pemerintah berkomitmen untuk mendukung melalui penganggaran pembinaan, fasilitasi pencatatan sebagai Warisan Budaya Takbenda, serta promosi ke tingkat provinsi dan nasional.

Upaya pelestarian juga didorong melalui jalur pendidikan. Sejumlah sekolah di sekitar Kecamatan Cikarang Pusat telah menjadikan Hajat Bumi sebagai bagian dari materi muatan lokal, dengan mengajak siswa mengamati langsung prosesi ritual. Dukungan ini diperkuat dengan keterlibatan dinas pariwisata yang mulai merancang paket wisata budaya berbasis komunitas, dengan Hajat Bumi Situ Rawabinong sebagai salah satu unggulan. Tujuannya bukan sekadar mendatangkan wisatawan, tetapi memastikan bahwa generasi muda tidak asing dengan akar budayanya sendiri.

Namun, para pemangku adat mengingatkan, pelestarian sejati terletak pada konsistensi masyarakat menjalankan ritual, bukan semata-mata pada pengakuan formal. Mereka terus mendorong agar kaum muda dilibatkan dalam setiap tahapan, agar transfer pengetahuan tentang makna simbolis dan tata cara ritual dapat berjalan alamiah. “Jika anak-cucu kami sudah tak lagi paham mengapa harus ada sesaji atau mengapa harus menebar benih ikan, maka pelan-pelan tradisi ini akan kehilangan ruhnya,” tutur seorang sesepuh desa.

Di era modernisasi yang serba cepat, Hajat Bumi Situ Rawabinong menjadi oase yang mengingatkan akan kekuatan lokalitas. Ia menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan tradisi, dan bahwa gotong royong adalah modal sosial yang tak ternilai harganya. Dari tepian Situ Rawabinong, warga Hegarmukti mengirimkan pesan kepada dunia: melestarikan budaya adalah cara menjaga masa depan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User