Oct 08, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Gus Faiz: Pesantren Wajib Keluar dari Zona Nyaman Hadapi Perubahan

Seruan pembaruan kembali menggema dari kalangan tokoh pesantren. Gus Faiz, seorang tokoh yang kerap menyuarakan isu-isu pendidikan Islam, menegaskan bahwa pesantren tidak boleh lagi terpaku pada rutin...

Gus Faiz: Pesantren Wajib Keluar dari Zona Nyaman Hadapi Perubahan

Seruan pembaruan kembali menggema dari kalangan tokoh pesantren. Gus Faiz, seorang tokoh yang kerap menyuarakan isu-isu pendidikan Islam, menegaskan bahwa pesantren tidak boleh lagi terpaku pada rutinitas yang nyaman. Ia menyampaikan hal tersebut dalam sebuah forum yang membahas arah pendidikan pesantren di era modern, ketika teknologi dan budaya digital telah masuk ke hampir semua sendi kehidupan masyarakat.

Zona Nyaman Dinilai Menjadi Penghambat Kemajuan

Berdasarkan pemaparannya, Gus Faiz menilai zona nyaman menjadi salah satu penghambat terbesar bagi kemajuan pesantren. Selama bertahun-tahun, pesantren dikenal sebagai lembaga yang kokoh mempertahankan tradisi. Keteguhan itu memang patut dihargai, tetapi menurutnya keteguhan tidak boleh berubah menjadi kekakuan. Pesantren yang terlalu nyaman dengan kondisi yang ada akan kesulitan merespons kebutuhan santri yang terus berubah dari waktu ke waktu.

Ia mencontohkan, generasi santri saat ini lahir dan tumbuh di tengah gempuran informasi digital. Cara mereka belajar, berkomunikasi, hingga menghabiskan waktu luang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika metode pendidikan di pesantren tidak ikut menyesuaikan, maka akan muncul jurang pemisah antara dunia pesantren dan dunia yang dihuni para santri sehari-hari.

Krisis Santri dan Persoalan yang Mengiringi

Dalam kesempatan itu, Gus Faiz juga mengangkat isu yang belakangan ramai diperbincangkan, yakni krisis santri. Istilah ini merujuk pada kekhawatiran menurunnya minat masyarakat untuk menitipkan anaknya belajar di pesantren. Berbagai faktor disebut menjadi penyebab, mulai dari biaya pendidikan, persaingan dengan sekolah umum, hingga perubahan gaya hidup keluarga.

Lebih jauh, ia menyoroti persoalan budaya populer yang kini dekat dengan kehidupan santri. Salah satu yang menjadi perhatian adalah maraknya permainan gim daring seperti Mobile Legends di kalangan anak muda, termasuk santri. Alih-alih sekadar melarang, Gus Faiz menilai pesantren perlu mengambil sikap yang lebih bijak dalam menyikapi fenomena tersebut.

Media Sosial dan Gim Daring Bukan Musuh

Menurut Gus Faiz, media sosial dan gim daring sejatinya bukan musuh yang harus dijauhi secara total. Keduanya adalah realitas yang sudah mendarah daging dalam keseharian generasi muda. Yang menjadi persoalan bukan keberadaan media sosial itu sendiri, melainkan cara pesantren menyikapinya. Jika hanya berpegang pada larangan tanpa pendampingan, justru dikhawatirkan muncul resistensi di kalangan santri.

Ia menekankan pentingnya pendekatan yang lebih substantif. Pesantren bisa mengarahkan santri untuk memanfaatkan teknologi secara produktif, misalnya untuk belajar, berdakwah, hingga mengembangkan keterampilan baru. Dengan demikian, santri tidak sekadar menjadi penonton perkembangan zaman, tetapi ikut mengambil peran di dalamnya.

Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Pendidikan Pesantren

Perbincangan kemudian bergerak ke arah kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Gus Faiz menyebut kehadiran AI sebagai sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Ia memandang teknologi ini sebagai peluang besar bagi pesantren untuk memperluas jangkauan pendidikan. Materi pembelajaran, misalnya, bisa disusun dengan bantuan teknologi agar lebih mudah dipahami para santri.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa AI hanyalah alat. Nilai-nilai yang diajarkan pesantren, seperti kejujuran, kesederhanaan, dan kedisiplinan, tetap menjadi inti yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Menurutnya, justru di sinilah letak keunggulan pesantren. Di tengah era yang serba otomatis, kebutuhan akan pendidikan karakter menjadi semakin besar, dan pesantren memiliki tradisi panjang dalam hal itu.

Negara Diharapkan Hadir Memberi Dukungan

Pada bagian akhir, Gus Faiz menyoroti peran negara dalam pengembangan pesantren. Menurutnya, negara tidak bisa hanya menjadikan pesantren sebagai objek kebijakan, tetapi harus hadir sebagai mitra yang mendukung. Dukungan itu bisa berbentuk kebijakan pendidikan yang berpihak, bantuan infrastruktur, hingga program yang mendorong pesantren berinovasi.

Ia berharap pemerintah memahami bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang berakhlak dan berdaya saing. Jika pesantren didukung dengan baik, maka kontribusinya terhadap pendidikan nasional akan semakin nyata. Sebaliknya, jika dibiarkan berjalan sendiri, pesantren akan semakin tertinggal di tengah kompetisi yang kian ketat.

Pesantren Harus Menjadi Bagian dari Zaman

Gus Faiz menutup dengan pesan bahwa pesantren tidak perlu takut terhadap perubahan, selama tetap berpegang pada nilai-nilai dasarnya. Kunci utamanya adalah keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Pesantren harus menjadi bagian dari zaman, bukan sekadar penjaga masa lalu.

Menurutnya, masa depan pesantren sangat bergantung pada kemampuan pengelolanya membaca tanda zaman. Pesantren yang mampu memadukan tradisi dengan inovasi akan tetap relevan dan dicari masyarakat. Sebaliknya, pesantren yang menutup diri dari perubahan hanya akan ditinggalkan oleh para santri dan orang tua yang semakin kritis dalam memilih lembaga pendidikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User