Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan eskalasi signifikan. Gunung api tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut dilaporkan mengalami serangkaian letusan beruntun sejak dini hari. Laporan pos pengamatan mencatat setidaknya terjadi empat kali erupsi berturut-turut yang disertai suara gemuruh serta dentuman bertekanan sedang hingga kuat, memicu kewaspadaan tinggi di kalangan warga lereng gunung.
Getaran dan suara gemuruh yang terdengar hingga radius puluhan kilometer tersebut mengindikasikan adanya pelepasan akumulasi gas magmatik dari kawah aktif Jonggring Saloko. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau fluktuasi data kegempaan yang tercatat pada seismograf di Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Gunung Sawur.
Kronologi Rangkaian Erupsi
Berdasarkan catatan visual dan instrumentasi seismik, berikut adalah rangkaian rentetan aktivitas erupsi yang terekam pada periode dini hari:
- Erupsi Pembuka (Pukul 01.15 WIB): Kolom letusan teramati membubung setinggi kurang lebih 500 meter di atas puncak kawah, mengarah ke sisi tenggara membawa material abu vulkanik tipis.
- Erupsi Kedua (Pukul 02.48 WIB): Terjadi letusan lanjutan dengan amplitudo maksimal 22 milimeter dan durasi gempa mencapai 115 detik. Suara dentuman terekam cukup kuat pada fase ini.
- Erupsi Ketiga (Pukul 04.10 WIB): Kolom abu vulkanik pekat berwarna kelabu kecokelatan teramati melonjak hingga ketinggian 800 hingga 1.000 meter dari puncak kawah.
- Erupsi Susulan (Pukul 05.32 WIB): Guguran lava pijar teramati meluncur ke arah Besuk Kobokan sejauh 500–800 meter dari bibir kawah aktif.
Kajian Bahaya dan Analisis Seismik
Tim mitigasi bencana menegaskan bahwa letusan eksplosif yang diselingi suara gemuruh menunjukkan saluran magma masih bersifat terbuka dengan dinamika suplai material dari kedalaman yang fluktuatif. Getaran akustik yang dirasakan warga di pemukiman terdekat membuktikan pelepasan energi kinetik gas yang intens.
"Masyarakat diimbau tidak panik namun harus tetap disiplin mematuhi batas aman. Suara gemuruh adalah fenomena pelepasan energi wajar saat erupsi eksplosif berlangsung, namun potensi awan panas guguran (APG) tetap menjadi ancaman utama yang harus diwaspadai," ungkap petugas pos pantau dalam laporan resminya.
Rekomendasi dan Larangan Aktivitas
Mengingat tingkat aktivitas Gunung Semeru yang masih berada pada Level III (Siaga), PVMBG mengeluarkan sejumlah instruksi keselamatan yang mengikat bagi masyarakat dan pelaku usaha tambang pasir:
- Zona Sektor Tenggara: Dilarang keras melakukan aktivitas apa pun di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak pusat erupsi.
- Sempadan Sungai: Tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena ancaman perluasan awan panas dan aliran lahar.
- Radius Kawah: Mensterilkan area dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak aktif Semeru guna menghindari lontaran batu pijar.
- Waspada Lahar Hujan: Masyarakat di sekitar bantaran sungai yang berhulu di Semeru diminta siaga terhadap ancaman lahar dingin saat intensitas hujan tinggi mengguyur kawasan puncak.
Pemerintah daerah melalui BPBD Kabupaten Lumajang telah menyiagakan jalur evakuasi dan pos pantau darurat di tingkat desa guna mengantisipasi eskalasi yang sewaktu-waktu dapat meningkat.
Comments (0)