Sep 18, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

MANILA — 14,1 Persen Warga Filipina Masih Gunakan Kontrasepsi Tradisional

Di balik gemerlap modernisasi kota Manila hingga pelosok pedesaan Kepulauan Visayas, sebuah realitas kesehatan reproduksi yang kontradiktif tengah berlangs

MANILA — 14,1 Persen Warga Filipina Masih Gunakan Kontrasepsi Tradisional

Di balik gemerlap modernisasi kota Manila hingga pelosok pedesaan Kepulauan Visayas, sebuah realitas kesehatan reproduksi yang kontradiktif tengah berlangsung. Kendati akses terhadap alat kontrasepsi modern dipromosikan secara masif oleh pemerintah, jutaan pasangan di Filipina ternyata masih menggantungkan perencanaan keluarga mereka pada metode-metode tradisional yang rawan kegagalan.

Komisi Populasi dan Pembangunan Filipina (Commission on Population and Development/CPD) mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sebanyak 14,1 persen warga Filipina masih mengandalkan metode perencanaan keluarga tradisional, seperti senggama terputus (withdrawal) dan perhitungan kalender (rhythm method). Angka ini bertahan di tengah tren peningkatan penggunaan kontrasepsi medis modern di tingkat nasional.

Angka Nyata di Balik Tradisi Perencanaan Keluarga

Pernyataan resmi ini disampaikan oleh Mylin Mirasol Quiray, Kepala Divisi Manajemen Informasi dan Komunikasi CPD. Menurut Quiray, meskipun edukasi kesehatan reproduksi terus digalakkan, resistensi masyarakat untuk beralih penuh ke metode modern masih menjadi tantangan sistematis yang mengakar kuat.

Penggunaan metode tradisional ini kerap kali membawa risiko kehamilan yang tidak direncanakan secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan kontrasepsi medis seperti pil, suntik, maupun alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD).

Kategori Metode Jenis Kontrasepsi Tingkat Estimasi Efektivitas
Tradisional Kalender, Senggama Terputus 76% - 80% (Rentan Kesalahan Manusia)
Modern Pil, Implan, IUD, Kondom 91% - 99% (Perlindungan Medis Tinggi)

Mitos, Aksesibilitas, dan Stigma yang Mengakar

Mengapa masyarakat masih bertahan dengan cara lama di era medis modern? Penelusuran menunjukkan adanya jalinan rumit antara keterbatasan ekonomi, norma budaya, norma keagamaan yang kuat, serta disinformasi medis yang beredar luas di tengah warga.

Banyak perempuan di kawasan rural mengaku khawatir akan efek samping dari penggunaan obat-obatan hormonal. "Ketakutan akan efek samping fisik sering kali mengalahkan logika efektivitas medis," ujar seorang pakar kesehatan masyarakat lokal. Rumor bahwa kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan kanker atau kemandulan permanen kerap kali dipercaya tanpa konfirmasi medis.

"Metode tradisional tidak memerlukan biaya dan tidak membutuhkan kunjungan ke klinik, tetapi harganya bisa sangat mahal jika memperhitungkan risiko kehamilan yang tak terencana serta dampaknya terhadap kesejahteraan keluarga."

— Mylin Mirasol Quiray, Pejabat Komunikasi CPD Filipina

Selain faktor ketakutan medis, faktor geografis Filipina yang terdiri dari ribuan pulau turut menyulitkan rantai pasok alat kesehatan ke puskesmas terpencil. Akibatnya, pasangan suami istri di daerah terisolasi memilih metode praktis tanpa biaya, meskipun efektivitasnya sangat rendah.

Tantangan Berat Mencapai Target Kesehatan Reproduksi

Tingginya angka ketergantungan pada metode tradisional ini menjadi ujian berat bagi implementasi Undang-Undang Orang Tua Bertanggung Jawab dan Kesehatan Reproduksi (RH Law) di Filipina. Pemerintah terus berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi dengan meningkatkan penggunaan kontrasepsi modern (mCPR).

CPD menegaskan bahwa strategi ke depan tidak hanya berfokus pada penyediaan stok alat kontrasepsi gratis, tetapi juga pada pembongkaran mitos-mitos kesehatan melalui pendekatan komunitas yang lebih personal dan edukatif.

  • Intensifikasi Edukasi Lapangan: Menjangkau pasangan muda di daerah terpencil untuk meluruskan mitos seputar KB modern.
  • Penguatan Rantai Pasok: Memastikan ketersediaan pil, implan, dan IUD di seluruh fasilitas kesehatan primer tanpa terputus.
  • Pelatihan Tenaga Kesehatan: Meningkatkan kapasitas konselor lokal dalam memberikan konseling kesehatan reproduksi yang ramah dan non-judgmental.

Selama hambatan edukasi dan stigma belum teratasi sepenuhnya, angka 14,1 persen tersebut akan tetap menjadi cermin retak dalam upaya Filipina mencapai kesejahteraan keluarga yang merata dan aman bagi seluruh warganya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User