Gletser Papua Diprediksi Punah Sebelum 2030, Hanya Tersisa 0,19 Km²

Sisa es abadi di Puncak Jaya, Papua, terus mengalami penyusutan drastis. Berdasarkan pemantauan terbaru, hamparan salju yang menjadi ikon tropis di Indonesia itu kini menyisakan dua gletser dengan kon...

Jul 13, 2026 - 08:33
0 0
Gletser Papua Diprediksi Punah Sebelum 2030, Hanya Tersisa 0,19 Km²

Sisa es abadi di Puncak Jaya, Papua, terus mengalami penyusutan drastis. Berdasarkan pemantauan terbaru, hamparan salju yang menjadi ikon tropis di Indonesia itu kini menyisakan dua gletser dengan kondisi kritis. Para peneliti menyebut bahwa fenomena ini menjadi sinyal paling nyata dari percepatan perubahan iklim di kawasan khatulistiwa.

Dua Gletser Terakhir yang Terus Mengecil

Data mutakhir menunjukkan bahwa hanya Gletser Cartensz dan East Northwall yang masih dapat diidentifikasi di area Pegunungan Jayawijaya. Keduanya merupakan sisa dari bentangan es yang dulunya menutupi sebagian besar puncak tertinggi di Indonesia tersebut. Luas gabungannya kini mencapai sekitar 0,19 kilometer persegi, sebuah angka yang jauh menyusut dibandingkan beberapa dekade lalu.

Pantauan citra satelit dan survei langsung di lapangan mengonfirmasi bahwa proses pencairan berlangsung lebih cepat dari perkiraan semula. Es yang semula tebal dan padat berubah menjadi lapisan tipis yang rentan retak, menyisakan potongan-potongan kecil yang makin sulit bertahan.

Proyeksi: Lenyap Sebelum 2030

Sejumlah pakar iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta peneliti glasiologi dari berbagai lembaga memproyeksikan bahwa dua gletser tersebut tidak akan mampu bertahan melewati tahun 2030. Prediksi ini didasarkan pada laju penyusutan rata-rata yang mencapai lebih dari satu hektar per tahun dalam satu dekade terakhir. Jika tren ini berlanjut tanpa jeda, seluruh es di Puncak Jaya akan berubah menjadi air sepenuhnya dalam waktu kurang dari tujuh tahun.

"Apa yang terjadi di Papua adalah cermin dari krisis iklim global. Gletser tropis sangat sensitif terhadap kenaikan suhu udara sekecil apa pun," demikian ungkap salah satu peneliti yang telah mempelajari dinamika es di Puncak Jaya sejak awal 2000-an. Meskipun berada di ketinggian di atas 4.000 meter di atas permukaan laut, ambang batas pembekuan tidak lagi cukup untuk mempertahankan massa es akibat pemanasan atmosfer yang terus menumpuk.

Penyebab: Suhu Naik, Salju Menghilang

Faktor utama penyusutan gletser Papua adalah kenaikan suhu rata-rata global yang memicu peningkatan titik beku di pegunungan tropis. Selain itu, fenomena El Nino yang terjadi semakin sering memperkuat efek penguapan dan mengurangi akumulasi salju baru. Sebenarnya, gletser di Puncak Jaya terbentuk dari salju yang turun setiap tahun dan memadat menjadi es. Namun, dalam dua dasawarsa terakhir, curah salju turun drastis, sementara suhu udara menghangat sehingga lebih banyak es yang meleleh daripada yang terbentuk.

Data historis dari BMKG menunjukkan bahwa suhu permukaan di sekitar Puncak Jaya telah meningkat sekitar 0,9 derajat Celsius sejak tahun 1970-an. Kenaikan tersebut mungkin terdengar kecil, tetapi bagi gletser yang hidup di zona ambang batas, perubahan ini mematikan. Setiap setengah derajat tambahan berarti perbedaan antara salju yang bertahan dan salju yang langsung mencair.

Dari Empat Menjadi Dua: Sejarah Kemunduran

Beberapa dekade lalu, setidaknya terdapat empat gletser yang tercatat di Pegunungan Jayawijaya. Selain Cartensz dan East Northwall, ada pula Gletser Meren dan Gletser Hanging yang sudah lebih dulu lenyap pada awal abad ke-21. Penyusutan ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak ekspedisi ilmiah tahun 1930-an, tetapi lajunya semakin cepat mulai tahun 1980-an. Luas total es pada 1850-an diperkirakan mencapai lebih dari 13 kilometer persegi, lalu menyusut menjadi sekitar 7 kilometer persegi pada 1970-an, dan terus menciut drastis hingga hanya tersisa 0,19 kilometer persegi saat ini.

Kehilangan gletser di Papua bukan hanya kehilangan bentang alam, tetapi juga catatan iklim purba yang tersimpan dalam lapisan es. Es di Puncak Jaya telah menyimpan data tentang komposisi atmosfer kuno selama ribuan tahun. Ketika ia meleleh, seluruh arsip itu ikut lenyap bersama air yang mengalir ke sungai-sungai di bawahnya.

Dampak pada Lingkungan dan Masyarakat

Meskipun gletser Papua tidak secara langsung menjadi sumber air utama bagi penduduk di dataran rendah, lenyapnya es abadi ini akan mengubah keseimbangan hidrologi di kawasan sekitar. Aliran air lelehan es yang selama ini menjadi sebagian pasokan bagi sungai-sungai di wilayah Mimika dan sekitarnya akan berkurang drastis. Perubahan ini dapat mempengaruhi ekosistem lembah dan masyarakat adat yang bergantung pada ketersediaan air di musim kemarau.

Selain itu, hilangnya gletser juga menghapus potensi penelitian ilmiah. Sejumlah tim ekspedisi, baik nasional maupun internasional, telah menjadikan Puncak Jaya sebagai laboratorium alam untuk mempelajari adaptasi iklim tropis. Ketika es terakhir mencair, maka kesempatan untuk memahami rekam jejak iklim masa lalu di kawasan ini akan tertutup selamanya.

Kesimpulan: Bukti Nyata Darurat Iklim

Penyusutan gletser di Papua hingga menyisakan hanya 0,19 kilometer persegi adalah peringatan keras bahwa perubahan iklim bukan isu masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung. Proyeksi kepunahan sebelum tahun 2030 bukanlah sensasi, melainkan hasil kalkulasi ilmiah berdasarkan data yang dihimpun secara konsisten. Jika tidak ada aksi global yang signifikan untuk menekan emisi gas rumah kaca, maka generasi mendatang hanya akan mengenal Gletser Cartensz dan East Northwall melalui foto dan catatan sejarah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User