Gen Z Diajak Bonnie Triyana Kaji Ulang Marhaenisme di Era Digital
Sejarawan dan pegiat literasi Bonnie Triyana menginisiasi sebuah forum diskusi untuk membedah pemikiran Bung Karno tentang Marhaenisme dalam konteks kekinian. Bertempat di salah satu kampus swasta di ...
Sejarawan dan pegiat literasi Bonnie Triyana menginisiasi sebuah forum diskusi untuk membedah pemikiran Bung Karno tentang Marhaenisme dalam konteks kekinian. Bertempat di salah satu kampus swasta di bilangan Jakarta Selatan, acara itu tidak sekadar mengupas buku, melainkan juga menjadi ruang hidup bagi generasi muda untuk mempertanyakan ulang realitas sosial di tengah gempuran ekonomi digital.
Menghidupkan Kembali Semangat Marhaenisme Lebak
Inti diskusi bertolak dari studi kasus masyarakat Lebak, Banten. Bonnie menggambarkan bagaimana petani kecil di wilayah tersebut masih berhadapan dengan ketimpangan struktural yang serupa dengan yang diamati Bung Karno pada awal abad ke-20. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa walaupun bentuk penindasan telah bermetamorfosis, esensi kaum marhaen—yakni kelompok masyarakat yang memiliki alat produksi sendiri tetapi tetap hidup dalam kemiskinan—tetap relevan.
“Marhaenisme bukan romantisasi masa lalu, melainkan lensa untuk membaca siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dalam sistem hari ini,” ujar Bonnie di hadapan puluhan mahasiswa yang memadati ruang diskusi. Pernyataan itu memantik antusiasme peserta untuk menggali lebih dalam relasi kuasa yang tersembunyi di balik platform digital yang sehari-hari mereka gunakan.
Membaca Sejarah Kudatuli dalam Kerangka Berpikir Kritis
Bagian lain dari bedah buku menyoroti peristiwa penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996, yang dikenal sebagai Kudatuli. Bonnie mengajak peserta tidak hanya menghafal kronologi, tetapi juga mempertanyakan struktur kekuasaan yang memungkinkan kekerasan politik itu terjadi. Pendekatan ini membuat sejarah tidak berhenti sebagai hafalan tanggal, melainkan sebagai laboratorium untuk melatih kemampuan analitis.
Dengan membandingkan represi masa lalu dan bentuk kontrol kontemporer, Bonnie menunjukkan bahwa mekanisme pembungkaman bisa berubah wujud—dulu melalui militer, kini melalui algoritma yang menyempitkan ruang perbedaan pendapat. Pemahaman kontekstual semacam inilah yang, menurutnya, diperlukan agar generasi muda tidak mudah terpolarisasi oleh narasi tunggal di media sosial.
Kapitalisme Digital dan Bentuk Baru Eksploitasi
Sesi paling interaktif terjadi ketika diskusi masuk ke kritik terhadap kapitalisme ekonomi digital. Bonnie menguraikan bagaimana perusahaan teknologi raksasa mengekstraksi data pribadi pengguna sebagai komoditas tanpa kompensasi yang adil. Pola ini, katanya, adalah wajah kontemporer dari akumulasi modal yang dulu dikritik oleh para pemikir marhaenis.
Ia memaparkan contoh konkret: petani di Lebak yang kini harus bergantung pada aplikasi pinjaman daring dengan bunga tinggi karena akses ke perbankan formal terbatas. Ironisnya, aplikasi tersebut beroperasi di atas infrastruktur digital yang sama yang seharusnya bisa memberdayakan mereka. “Ekonomi digital sering dipuji sebagai solusi, padahal ia bisa menjadi alat yang memiskinkan dengan cara yang lebih halus,” tegasnya. Para peserta diajak untuk memetakan rantai nilai di balik layanan harian, dari transportasi daring hingga belanja online, dan menemukan di titik mana surplus dikuasai oleh segelintir pemilik platform.
Merawat Daya Kritis di Tengah Banjir Informasi
Menjelang akhir acara, fokus beralih pada pertanyaan fundamental: bagaimana merawat kemampuan berpikir kritis di era informasi yang serba cepat. Bonnie menolak gagasan bahwa generasi muda saat ini apatis; sebaliknya, mereka dibanjiri oleh begitu banyak distraksi sehingga energi untuk mendalami satu isu terkuras habis. Solusinya bukan mengurangi konsumsi informasi, melainkan membangun kebiasaan memverifikasi dan mengontekstualisasi setiap klaim yang diterima.
Ia menyarankan tiga praktik sederhana: pertama, membaca sumber primer sebelum menyimpulkan suatu peristiwa; kedua, mendiskusikan temuan dengan komunitas kecil secara tatap muka untuk menguji argumen; ketiga, membiasakan diri menulis tanggapan terhadap isu publik sebagai latihan sistematisasi pikiran. “Ruang diskusi seperti malam ini adalah oase yang harus terus kita hidupkan,” pungkasnya, disambut tepuk tangan panjang dari peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa semester awal.
Acara bedah buku itu ditutup dengan komitmen untuk membentuk kelompok baca mandiri di berbagai kampus. Bonnie berjanji akan menyediakan panduan dan pendampingan, karena menurutnya, perubahan sosial yang berakar pada kesadaran kritis hanya mungkin tumbuh dari tradisi diskusi yang kokoh dan berkelanjutan.
Baca juga:
Comments (0)