FIFA Serius Kaji Ekspansi Piala Dunia ke 64 Negara

Badan sepak bola global, FIFA, bergerak menuju sebuah kemungkinan transformasi paling masif dalam sejarah turnamen sepak bola paling akbar. Sebuah gagasan untuk meluaskan jumlah kontestan Piala Dunia ...

Jul 13, 2026 - 17:01
0 0

Badan sepak bola global, FIFA, bergerak menuju sebuah kemungkinan transformasi paling masif dalam sejarah turnamen sepak bola paling akbar. Sebuah gagasan untuk meluaskan jumlah kontestan Piala Dunia putra menjadi 64 tim nasional kini tidak lagi sekadar wacana pinggir. Lembaga yang bermarkas di Zurich tersebut mengonfirmasi bahwa rencana ambisius ini akan menempati slot pembahasan resmi dalam agenda internal mereka dalam waktu dekat.

Langkah ekspansif ini dipertimbangkan untuk diimplementasikan setelah gelaran edisi 2026 yang akan datang. Edisi tersebut sendiri sudah menandai sebuah loncatan besar dengan format baru berisi 48 negara peserta, sebuah peningkatan signifikan dari format 32 tim yang telah menjadi norma sejak Piala Dunia 1998 di Perancis. Jika wacana 64 tim ini benar-benar terwujud, maka satu dari tiga negara anggota FIFA secara matematis akan memiliki peluang untuk tampil di panggung utama.

Pendorong di Balik Ambisi Global

Presiden FIFA, Gianni Infantino, menekankan sebuah filosofi inti yang mendorong diskursus ini. Ia berpendapat bahwa partisipasi dalam Piala Dunia tidak boleh menjadi monopoli segelintir kekuatan tradisional. Setiap federasi anggota, tanpa memandang peringkat atau sejarah, harus memiliki ruang untuk bermimpi dan berjuang meraih tempat di turnamen puncak. Perspektif ini merupakan fondasi ideologis dari upaya perluasan berkelanjutan yang telah dijalankan oleh kepemimpinan saat ini.

Argumentasi yang dibangun berpusat pada prinsip inklusivitas. Dengan membuka lebih banyak slot, terutama untuk konfederasi yang secara historis memiliki jatah terbatas seperti Afrika, Asia, dan Oseania, FIFA berupaya mengakselerasi perkembangan sepak bola di kawasan tersebut. Kehadiran di Piala Dunia dipandang bukan hanya sebagai kesempatan bertanding tiga laga di fase grup, melainkan sebagai katalis yang dapat mengubah infrastruktur, memicu gelombang minat publik, dan mengamankan pendanaan pengembangan usia muda dalam skala nasional.

Transformasi Format dan Struktur Kompetisi

Peralihan dari 48 ke 64 tim akan menuntut perombakan total terhadap kerangka logistik dan format turnamen. Jika menggunakan struktur fase grup yang seragam, jumlah pertandingan akan meroket drastis, mengubah durasi penyelenggaraan secara fundamental. Kalkulasi awal dari para analis kompetisi menunjukkan bahwa turnamen tidak akan lagi bisa muat dalam rentang satu bulan seperti tradisi yang berlaku selama ini. Durasi tambahan, pengelolaan venue yang lebih luas, dan manajemen perjalanan tim menjadi variabel kritis yang harus dipecahkan oleh tim studi kelayakan FIFA.

Kompleksitas baru ini memunculkan pertanyaan mengenai kualitas kompetisi. Para puritan sepak bola menyuarakan kekhawatiran bahwa ekspansi agresif berpotensi menipiskan tensi dan kualitas teknis pertandingan, terutama di babak awal. Fase grup dapat dipenuhi oleh kontes-kontes yang tidak kompetitif antara kekuatan elite melawan tim-tim debutan yang secara struktural belum siap. Namun, para pendukung wacana ini mengacu pada data dari perluasan Euro dan Piala Dunia sebelumnya, di mana tim-tim non-unggulan kerap menghasilkan kejutan yang justru memperkaya narasi turnamen.

Sisi komersial tidak dapat dipisahkan dari kalkulasi ini. Lebih banyak negara peserta secara langsung berkorelasi dengan basis pemirsa global yang lebih masif, nilai hak siar yang melonjak, dan lebih banyak slot kemitraan komersial. Bagi banyak federasi anggota, khususnya yang lebih kecil, peningkatan solidaritas finansial dari pendapatan Piala Dunia yang membengkak adalah daya tarik yang sulit ditolak. Ini menciptakan dinamika politik internal di Kongres FIFA di mana suara dari blok non-Eropa dan non-Amerika Selatan dapat menjadi penentu dalam proses voting nantinya.

Jalan Panjang Menuju Ratifikasi

Meskipun telah masuk ke dalam agenda pembahasan serius, transisi menuju Piala Dunia 64 tim bukanlah hal yang akan terjadi tanpa resistensi. Kalender pertandingan internasional sudah semakin padat, dan para pemain elite mulai lantang menyuarakan kelelahan fisik akibat jadwal turnamen yang tidak mengenal jeda. Organisasi seperti FIFPRO dan perwakilan klub-klub besar Eropa diperkirakan akan meminta konsesi signifikan sebelum menyetujui perluasan yang menambah beban kompetitif bagi para pemain bintang.

Proses evaluasi akan melibatkan konsultasi multi-pihak yang panjang. FIFA perlu meyakinkan para pemangku kepentingan bahwa model baru ini dapat dijalankan tanpa mengorbankan kesehatan pemain serta integritas kalender domestik. Meski demikian, sinyal dari pucuk pimpinan sangat jelas: era eksklusivitas dalam sepak bola global sedang didorong menuju titik akhir. Bagi Gianni Infantino, sepak bola adalah alat diplomasi dan pembangunan, dan Piala Dunia adalah panggung di mana setiap bangsa berhak untuk setidaknya membayangkan diri mereka berpartisipasi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User