FIFA Beri Klarifikasi Gol Kontroversial Bellingham di Perempat Final
Laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Norwegia menyisakan perdebatan panjang usai gol penyeimbang Jude Bellingham dinilai kontroversial. FIFA akhirnya angkat bicara melalui pernyataa...
Laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Norwegia menyisakan perdebatan panjang usai gol penyeimbang Jude Bellingham dinilai kontroversial. FIFA akhirnya angkat bicara melalui pernyataan resmi yang dirilis beberapa jam setelah pertandingan berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Inggris.
Kontroversi bermula pada menit ke-67 ketika Bellingham menyambar bola liar di dalam kotak penalti Norwegia dan menceploskannya ke gawang. Gol tersebut menyamakan kedudukan menjadi 1-1, membalikkan momentum yang sebelumnya dikuasai tim Skandinavia lewat gol cepat Erling Haaland di babak pertama. Namun, proses terjadinya gol langsung memicu protes keras dari para pemain dan staf pelatih Norwegia.
Kronologi Insiden yang Memicu Perdebatan
Dalam tayangan ulang, terlihat Bellingham berada dalam posisi yang sangat tipis saat bola terlepas dari kemelut situasi sepak pojok. Asisten wasit sempat mengangkat bendera tanda offside, tetapi wasit utama menganulir sinyal tersebut setelah berkonsultasi dengan tim VAR. Proses peninjauan berlangsung hampir empat menit, menciptakan ketegangan di Stadion MetLife, New Jersey.
Pihak Norwegia menilai Bellingham berada dalam posisi offside ketika bola mengenai bahu bek kanan Julian Ryerson sebelum jatuh di kaki sang gelandang. Selain itu, mereka juga mempertanyakan potensi pelanggaran terhadap kiper Orjan Nyland yang dinilai terhalang oleh Declan Rice dalam duel udara sesaat sebelum gol tercipta. Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, langsung menghampiri ofisial keempat dan menyampaikan protes keras yang membuatnya diganjar kartu kuning.
Penjelasan Teknis dari FIFA
FIFA merilis pernyataan melalui Kepala Wasit Pierluigi Collina yang menegaskan bahwa keputusan mengesahkan gol sudah melalui prosedur yang benar. Berdasarkan data dari sistem semi-automated offside technology yang terintegrasi dengan bola resmi Piala Dunia, posisi Bellingham dinyatakan onside dengan selisih 2,7 sentimeter dari pemain bertahan terakhir Norwegia. Teknologi tersebut menggunakan 12 kamera pelacak dan sensor dalam bola yang mengirimkan data 500 kali per detik, sehingga margin kesalahan diklaim hanya beberapa milimeter.
Terkait dugaan pelanggaran terhadap Nyland, Collina menjelaskan bahwa VAR telah memeriksa semua sudut kamera dan menyimpulkan kontak antara Rice dan Nyland terjadi setelah bola sudah lepas dari jangkauan kiper, serta bersifat insidental dalam dinamika perebutan bola udara. "Wasit di lapangan dan tim VAR sepakat bahwa tidak ada pelanggaran yang cukup signifikan untuk membatalkan gol," tulis pernyataan tersebut. FIFA juga mengacu pada Laws of the Game pasal 12 tentang pelanggaran, di mana kontak fisik ringan dalam situasi duel bola tidak otomatis dianggap sebagai foul jika tidak ada unsur dorongan, hambatan, atau bahaya berlebihan.
Analisis Independen dan Reaksi Publik
Sejumlah mantan wasit dan analis sepak bola memberikan pandangan terpisah. Mantan wasit Premier League, Dermot Gallagher, dalam program analisis pascapertandingan menyebut keputusan tersebut "tepat secara teknis tetapi sangat kontroversial secara persepsi". Ia menambahkan, "Toleransi 2,7 sentimeter memang masuk akal dalam protokol VAR, namun bagi mata telanjang situasi seperti ini akan selalu memicu perdebatan karena batasnya yang sangat kabur."
Di media sosial, warganet terbelah. Tagar #BellinghamOffside sempat menjadi trending topic global, sementara pihak pendukung Inggris menekankan bahwa keputusan akhir mengacu pada bukti objektif. Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) menyatakan akan mengajukan surat resmi kepada FIFA untuk meminta transparansi lebih lanjut, namun mengakui hasil pertandingan tidak dapat diubah.
Sementara itu, gol kontroversial tersebut menjadi titik balik bagi Inggris. Hanya sembilan menit berselang, Harry Kane mencetak gol kemenangan lewat titik penalti setelah pelanggaran terhadap Bukayo Saka. Inggris pun melaju ke semifinal dan akan berhadapan dengan Prancis, sedangkan Norwegia harus pulang dengan rasa pahit meski tampil heroik sepanjang turnamen.
Dampak pada Kredibilitas Teknologi Wasit
Insiden ini kembali menghidupkan diskusi tentang sejauh mana teknologi sepantasnya mengambil alih keputusan manusia. Meskipun akurasi teknis memberikan kepastian, persepsi keadilan di lapangan seringkali tak sejalan dengan angka. Peneliti etika olahraga dari Universitas Oslo, Dr. Mette Andersen, menyebutkan bahwa ketergantungan pada angka dua desimal justru dapat mengikis elemen subjektivitas yang selama ini menjadi bagian dari sepak bola. "Ketika keputusan ditentukan oleh selisih milimeter, pertandingan berubah menjadi laboratorium data, bukan lagi kontes manusia," ujarnya dalam wawancara dengan media setempat.
FIFA sendiri berencana mengevaluasi protokol komunikasi keputusan VAR di fase gugur, termasuk kemungkinan menyiarkan percakapan langsung antara wasit dan operator video, seperti yang diuji coba di beberapa liga domestik. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan mengurangi spekulasi liar pascapertandingan. Namun demikian, untuk laga Inggris versus Norwegia, tidak ada revisi hasil atau sanksi disiplin yang akan dikenakan, menegaskan bahwa secara regulasi, gol Bellingham adalah sah.
Baca juga:
Comments (0)