ERIA Tunjuk Venkatachalam Anbumozhi Pimpin Riset Inovasi ASEAN

Lembaga riset kawasan, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), resmi menunjuk Venkatachalam Anbumozhi sebagai Senior Research Fellow untuk bidang Inovasi. Penunjukan ini menandai b...

Jul 12, 2026 - 01:54
0 0
ERIA Tunjuk Venkatachalam Anbumozhi Pimpin Riset Inovasi ASEAN

Lembaga riset kawasan, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), resmi menunjuk Venkatachalam Anbumozhi sebagai Senior Research Fellow untuk bidang Inovasi. Penunjukan ini menandai babak baru dalam penguatan kapasitas riset dan pengembangan kebijakan inovasi di antara negara-negara ASEAN dan Asia Timur. Anbumozhi akan memimpin sejumlah program strategis yang dirancang untuk mendorong transformasi digital, ekonomi hijau, dan peningkatan daya saing kawasan melalui pendekatan berbasis bukti.

Profil dan Rekam Jejak Sang Pakar

Venkatachalam Anbumozhi bukanlah nama asing di lingkungan penelitian ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Sebelumnya, ia telah berkecimpung selama lebih dari dua dekade dalam studi yang menghubungkan inovasi, investasi infrastruktur, dan pertumbuhan inklusif. Keterlibatannya dalam sejumlah proyek multilateral—dari mekanisme perdagangan karbon hingga integrasi rantai pasok—memberinya perspektif mendalam soal bagaimana negara berkembang bisa memanfaatkan teknologi sebagai tuas percepatan ekonomi. Dengan jabatan barunya, ia diharapkan mampu menjadi jembatan antara kebijakan publik, sektor swasta, dan komunitas akademik.

Rekam jejak Anbumozhi mencakup publikasi di jurnal internasional bereputasi, penyusunan rekomendasi kebijakan untuk G20 dan KTT ASEAN, serta kemitraan dengan institusi seperti Bank Dunia, ADB, dan PBB. Fokus risetnya selama ini berada pada persinggungan antara inovasi teknologi dan keberlanjutan, terutama bagaimana negara-negara dengan kapasitas fiskal terbatas bisa mengadopsi solusi rendah karbon tanpa mengorbankan pertumbuhan.

Agenda Riset di Bawah Kepemimpinan Baru

Sebagai Senior Research Fellow, Anbumozhi akan mengawal tiga pilar utama: digitalisasi inklusif, transisi energi bersih, dan ketahanan rantai pasok kawasan. Dalam konteks digitalisasi, ERIA melihat adanya kesenjangan yang melebar antara negara anggota, di mana infrastruktur dan literasi digital belum merata. Program yang digagas akan memetakan potensi adopsi kecerdasan buatan, Internet of Things, dan big data di sektor manufaktur dan jasa, disertai kerangka regulasi yang adaptif. Studi perdananya nanti dijadwalkan akan mengeksplorasi bagaimana UMKM di Kamboja, Laos, dan Myanmar bisa mengakses pembiayaan digital.

Pada pilar transisi energi, ERIA di bawah arahan Anbumozhi bakal meluncurkan ASEAN Green Innovation Index, sebuah alat ukur yang menilai kesiapan masing-masing negara dalam mengadopsi teknologi energi terbarukan. Indeks ini akan mencakup dimensi kebijakan, investasi, infrastruktur, dan kesiapan sumber daya manusia. Diharapkan instrumen ini menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah hingga lembaga keuangan internasional, dalam menyalurkan pendanaan hijau.

Adapun ketahanan rantai pasok menjadi perhatian setelah pandemi dan ketegangan geopolitik mengungkap kerentanan sistem logistik global. Riset yang dipimpin Anbumozhi akan mengkaji diversifikasi sumber bahan baku, digitalisasi proses logistik, dan pengembangan pusat produksi alternatif di kawasan. Kawasan ASEAN, dengan posisi geografisnya yang strategis, dinilai perlu segera merumuskan strategi kolektif agar tidak terus bergantung pada satu atau dua mitra dagang utama.

Dampak bagi Kolaborasi Riset di ASEAN

Kehadiran Anbumozhi di posisi ini diprediksi bakal mempererat jaringan peneliti di seluruh kawasan. Salah satu inisiatif yang tengah disiapkan adalah ASEAN Innovation Fellowship Programme, yang memungkinkan pertukaran ilmuwan dan peneliti muda antarnegara anggota. Program ini dirancang untuk membentuk talent pool yang mampu merespons isu-isu lintas batas, seperti keamanan siber, perubahan iklim, dan krisis kesehatan.

Lebih jauh, ERIA juga membuka ruang kolaborasi dengan universitas dan lembaga riset nasional, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia. Rencana nota kesepahaman antarlembaga sedang dalam tahap finalisasi, mencakup riset bersama tentang hidrogen hijau, mobilitas listrik, dan smart city. Dengan fondasi ini, ERIA menegaskan komitmennya agar hasil riset tidak sekadar menjadi dokumen akademik, tetapi langsung menyasar kebutuhan kebijakan yang mendesak.

Pada akhirnya, penunjukkan Venkatachalam Anbumozhi sebagai Senior Research Fellow for Innovation adalah sinyal kuat bahwa ERIA memosisikan inovasi sebagai pilar sentral dalam cetak biru ekonomi kawasan. Melalui pendekatan yang berbasis data, multidisiplin, dan inklusif, lembaga ini ingin menjawab keraguan sejumlah pihak tentang kesiapan negara-negara berkembang menghadapi disrupsi teknologi. Langkah ke depan akan menunjukkan seberapa efektif jembatan antara riset dan kebijakan itu bisa dibangun—dan Anbumozhi adalah arsitek utamanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User