Ekosistem Industri Baterai Jadi Kunci, Pemanfaatan Nikel Indonesia Masih Menanti

Pabrikan otomotif global yang memproduksi mobil listrik, termasuk Wuling, saat ini masih dominan menggunakan baterai berjenis lithium iron phosphate (LFP). Teknologi baterai ini tidak memerlukan nikel

Jul 08, 2026 - 08:42
0 0
Ekosistem Industri Baterai Jadi Kunci, Pemanfaatan Nikel Indonesia Masih Menanti
Pabrikan otomotif global yang memproduksi mobil listrik, termasuk Wuling, saat ini masih dominan menggunakan baterai berjenis lithium iron phosphate (LFP). Teknologi baterai ini tidak memerlukan nikel sebagai bahan baku utama, berbeda dengan baterai NMC (nikel mangan kobalt) yang banyak dipakai pada generasi awal kendaraan listrik. Kondisi tersebut membuat potensi cadangan nikel Indonesia yang melimpah belum bisa terserap secara langsung oleh produsen mobil setingkat Wuling. Dalam kunjungan ke Liuzhou, Tiongkok, Vice President SAIC-GM-Wuling (SGMW) Han Dehong menjawab pertanyaan awak media mengenai kapan industri otomotif akan mulai memanfaatkan nikel dari Indonesia. Ia menegaskan bahwa keputusan penggunaan bahan baku nikel sangat bergantung pada kesiapan rantai pasok dan industri pendukung di Tanah Air.
“Menurut saya itu tergantung pada ekosistem. Kita perlu meminta partner ekosistem kita untuk membangun industri terlebih dahulu,” ujar Han Dehong.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa Wuling tidak akan begitu saja beralih ke baterai berbasis nikel sebelum infrastruktur produksi yang memadai tersedia. Perusahaan yang merupakan bagian dari kongsi SAIC-GM-Wuling ini menyerahkan sebagian besar kebutuhan baterai kepada mitra penyedia, sehingga hilirisasi nikel dari hulu ke hilir harus terbentuk terlebih dahulu di dalam negeri. Dengan kata lain, pabrik pemurnian, pabrik prekursor, hingga pabrik katoda perlu beroperasi secara optimal sebelum Wuling dapat menyerap nikel lokal untuk baterai kendaraannya. Saat ini, mayoritas produsen mobil listrik global memang menggantungkan pasokan baterai pada perusahaan pihak ketiga yang telah memiliki ekosistem dan pabrik di berbagai negara. Wuling tidak sendiri dalam hal ini; model bisnis serupa juga diterapkan oleh banyak pabrikan demi efisiensi dan kepastian rantai pasok. Akibatnya, meskipun Indonesia merupakan salah satu produsen nikel terbesar di dunia, pemanfaatan komoditas ini untuk baterai mobil listrik masih harus melewati proses hilirisasi yang panjang dan kompleks. Pemerintah Indonesia sendiri tengah gencar mendorong percepatan pembangunan pabrik pengolahan nikel, termasuk menarik investasi dari pemain global untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik. Namun, hingga ekosistem yang dimaksud benar-benar matang, Wuling dan pabrikan lain yang menggunakan teknologi LFP akan tetap bertahan dengan strategi saat ini. Baterai LFP yang bebas nikel justru kian populer karena harganya lebih terjangkau dan memiliki siklus hidup lebih panjang, meskipun kepadatan energinya lebih rendah dibanding baterai berbasis nikel. Dengan demikian, kapan tepatnya nikel Indonesia akan digunakan untuk produksi baterai mobil listrik sangat bergantung pada seberapa cepat ekosistem industri baterai nasional terbangun dan mampu memenuhi standar mitra global. Lurusin.com akan terus memantau perkembangan rencana hilirisasi nikel dan kesiapan industri baterai dalam negeri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Pemimpin Redaksi. Memimpin tim redaksi cek fakta dan akurasi.

Comments (0)

User