Dari Modal Rp 600 Ribu, Dewi Bawa Batik Garutan Tembus Pasar Amerika

Jakarta – Sebuah keinginan sederhana untuk tetap mandiri secara finansial di masa senja menjadi titik awal perjalanan inspiratif Dewi Agustiati. Perempuan berusia 59 tahun ini membuktikan bahwa ket

Jul 06, 2026 - 13:20
0 0
Dari Modal Rp 600 Ribu, Dewi Bawa Batik Garutan Tembus Pasar Amerika

Jakarta – Sebuah keinginan sederhana untuk tetap mandiri secara finansial di masa senja menjadi titik awal perjalanan inspiratif Dewi Agustiati. Perempuan berusia 59 tahun ini membuktikan bahwa keterbatasan modal bukanlah halangan untuk meraih kesuksesan besar. Berawal dari dana yang sangat minim, hanya Rp 600 ribu, ia berhasil membangun bisnis mode yang kini produknya telah menyeberangi lautan hingga ke Amerika Serikat.

Tim liputan Lurusin.com berkesempatan mengunjungi kediaman Dewi di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Rumah itu menjadi saksi bisu sekaligus markas utama bagi lahirnya jenama fesyen miliknya, Kaaseeh Apparel. Dari sudut ruangan yang sederhana itulah, Dewi memutar otak dan menenun mimpi besarnya, meskipun ia awalnya adalah seorang pemula yang sama sekali tidak memiliki latar belakang di industri mode atau tekstil.

Awal Mula: Permintaan dari Keluarga dan Teman

Pagi itu, dengan semangat yang membara, Dewi membagikan kisah naik-turun usahanya. Ingatannya melayang pada momen-momen awal ketika ia hanya sekadar iseng mencoba peruntungan. Semua berawal bukan dari rencana bisnis yang muluk-muluk, melainkan dari permintaan sederhana. Sejumlah keluarga dan teman-temannya yang berada di Amerika Serikat kerap meminta tolong untuk dikirimkan batik khas Indonesia. Melihat adanya celah dan potensi pasar di sana, Dewi pun mulai serius menekuni usaha ini seorang diri.

“Dari modal Rp 600 ribu, penghasilan pertama yang saya terima sampai Rp 30 juta. Itu uang yang sangat besar bagi saya saat itu, dan di situlah saya sadar bahwa batik kita sangat dihargai di luar negeri,” ungkap Dewi kepada media kami dengan mata berbinar.

Dari modal Rp 600 ribu, penghasilan pertama yang saya terima sampai Rp 30 juta. Itu uang yang sangat besar bagi saya saat itu, dan di situlah saya sadar bahwa batik kita sangat dihargai di luar negeri.

Perlahan tapi pasti, usaha yang dirintisnya mulai menemukan bentuk. Fokus Dewi adalah mengangkat batik Garutan, sebuah warisan budaya asal Garut yang memiliki motif dan ciri khas tersendiri. Ia melihat batik Garutan memiliki potensi besar untuk bersaing di kancah global. Dengan kegigihan mempelajari selera pasar internasional melalui internet dan masukan dari para pelanggannya, Dewi mulai mendesain sendiri produk-produk yang lebih modern dan sesuai selera pasar Amerika. Proses produksi ia lakukan dengan menggandeng para perajin batik di daerah Garut secara langsung, sehingga rantai ekonominya tetap terjaga.

Kini, perjalanan Dewi bukan hanya tentang keuntungan pribadi. Di usianya yang hampir menginjak enam dekade, ia telah sukses membuktikan bahwa produk lokal mampu berdiri sejajar di etalase mode global. Rumah di Tanjung Barat yang dulu hanya menjadi tempat tinggal, kini menjelma menjadi saksi bagaimana mimpi besar dapat tumbuh dari modal yang tidak sampai sejuta rupiah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
oky-pratista

Editor Edukasi Media. Editor konten literasi media bagi pembaca.

Comments (0)

User