Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, kembali menjadi pusat perhatian. Bandara yang selama ini dikenal sepi aktivitas penerbangan dikabarkan bakal dialihkan fungsinya menjadi pusat perawatan pesawat, khususnya untuk armada Hercules. Gagasan ini muncul di tengah upaya pengelola mencari cara agar aset infrastruktur yang nilainya sangat besar tidak terus-terusan menganggur.
Wacana tersebut seketika menyulut perdebatan di berbagai kalangan. Sebagian menilai langkah ini merupakan solusi cerdas untuk menghidupkan kembali bandara yang sempat nyaris tak beroperasi. Namun, sebagian lainnya mempertanyakan arah kebijakan yang dinilai menggeser peran bandara sebagai gerbang transportasi udara bagi masyarakat.
Bandara yang Sempat Kehilangan Pamor
Perjalanan Kertajati memang penuh liku. Diresmikan dengan target menjadi bandara internasional yang membanggakan, kenyataannya frekuensi penerbangan di bandara ini jauh dari harapan. Berbagai insentif ditawarkan maskapai, mulai dari keringanan tarif hingga kemudahan operasional, tetapi animo penumpang tetap sulit digenjot. Sebagian besar calon penumpang masih memilih terbang dari bandara di wilayah Jabodetabek yang memiliki jaringan rute jauh lebih luas.
Akibatnya, bandara yang dibangun dengan dana besar ini kerap disebut sebagai salah satu proyek infrastruktur yang pemanfaatannya belum optimal. Kondisi itu mendorong pengelola berpikir ulang. Alih-alih terus mengejar target penumpang yang sulit tercapai, mereka mulai melihat potensi lain yang bisa ditawarkan bandara: menjadi tempat perawatan pesawat kelas berat.
Siasat Menjadi Pangkalan Perawatan Hercules
Konsep yang ditawarkan bukan sekadar perubahan status, melainkan pergeseran model bisnis. Dalam industri penerbangan, perawatan pesawat atau yang dikenal dengan istilah MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) merupakan bisnis dengan nilai ekonomi yang besar. Setiap pesawat yang dioperasikan wajib menjalani perawatan rutin sesuai standar keselamatan, dan kebutuhan itu terus tumbuh seiring bertambahnya armada.
Hercules, atau C-130, merupakan pesawat angkut berat yang banyak digunakan oleh militer. Armada ini membutuhkan perawatan berkala dengan standar khusus, sementara fasilitas perawatan domestik untuk kategori tersebut masih terbatas. Di sinilah peluang Kertajati berada. Dengan landasan pacu yang panjang dan area yang luas, bandara ini dinilai layak difungsikan sebagai bengkel raksasa tempat pesawat dirawat, diperbaiki, hingga dirombak.
Keuntungan yang ditawarkan pun berlapis. Fasilitas yang selama ini menganggur bisa kembali produktif, menyerap tenaga kerja, sekaligus membuka ruang tumbuhnya industri pendukung aviasi di sekitar bandara. Dalam jangka panjang, jika dikelola serius, kawasan itu berpotensi menjadi ekosistem perawatan pesawat yang bernilai strategis, bukan hanya bagi satu operator, tetapi bagi seluruh industri penerbangan di dalam negeri.
Perdebatan yang Belum Tuntas
Kendati menjanjikan, gagasan ini tidak luput dari kritik. Sejumlah pihak mengkhawatirkan perubahan fungsi tersebut akan semakin menjauhkan Kertajati dari perannya sebagai bandara penumpang. Ada kekhawatiran pula bahwa rencana ini hanya akan menguntungkan segelintir pihak tanpa diiringi kajian yang matang mengenai kebutuhan pasar dan kesiapan teknis.
Pertanyaan lain menyangkut kesiapan sumber daya manusia. Perawatan pesawat Hercules menuntut teknisi dengan sertifikasi khusus yang tidak bisa didapat dalam waktu singkat. Tanpa investasi pelatihan yang serius, impian menjadikan Kertajati sebagai pusat MRO hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi. Regulasi juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri, mengingat perawatan pesawat militer melibatkan aturan dan otoritas yang berbeda dari penerbangan sipil.
Menunggu Kajian dan Kepastian
Sampai saat ini, status rencana tersebut masih berada pada tahap wacana. Belum ada keputusan final, dan sejumlah instansi terkait masih melakukan pembahasan. Yang jelas, publik menunggu kejelasan: apakah bandara ini akan diarahkan sepenuhnya menjadi pusat perawatan, atau tetap mempertahankan fungsi utamanya sebagai bandara penumpang dengan tambahan layanan MRO.
Terlepas dari pilihan yang akan diambil, keputusan akhir sebaiknya berpijak pada data dan kajian yang transparan. Jika skenario MRO terbukti lebih realistis dan menguntungkan, tidak ada alasan untuk menolaknya. Sebaliknya, jika temuan lapangan menunjukkan hambatan yang besar, rencana itu sebaiknya dievaluasi ulang. Yang terpenting, aset negara senilai triliunan rupiah ini tidak kembali menjadi monumen yang hanya ramai saat diresmikan, tetapi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian.
Comments (0)