Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Verifikasi: El Nino Bukan Biang Utama Karhutla di Lahan Gambut

Berdasarkan verifikasi terhadap klaim bahwa El Nino merupakan biang utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ditemukan bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuhnya akurat. Klaim ini mereduksi persoal...

Verifikasi: El Nino Bukan Biang Utama Karhutla di Lahan Gambut

Berdasarkan verifikasi terhadap klaim bahwa El Nino merupakan biang utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ditemukan bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuhnya akurat. Klaim ini mereduksi persoalan yang kompleks menjadi satu variabel iklim, padahal data menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem gambut, pengeringan lahan, perubahan tata guna lahan, dan aktivitas manusia merupakan faktor yang jauh lebih menentukan dalam memperbesar risiko kebakaran. El Nino hanya berperan sebagai pemicu penguat, bukan penyebab utama.

Konteks Klaim dan Sumber Klaim

Klaim bahwa El Nino menjadi biang utama karhutla beredar luas dalam diskursus publik, termasuk di media sosial dan sejumlah pemberitaan. Narasi ini biasanya menguat pada periode musim kemarau ketika konsentrasi asap mulai terpantau di berbagai wilayah. Namun, verifikasi terhadap sumber resmi menunjukkan bahwa penjelasan satu-faktor semacam ini bertentangan dengan temuan lembaga pemantau, di antaranya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Klaim: "El Nino adalah biang utama karhutla." Faktanya: El Nino memperparah kekeringan, tetapi kondisi lahan yang rusak dan aktivitas manusia yang menentukan besarnya kebakaran.

Verifikasi: Peran El Nino dalam Risiko Kebakaran

El Nino adalah anomali iklim yang ditandai dengan pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Menurut BMKG, fenomena ini menyebabkan penurunan curah hujan dan perpanjangan musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia. Secara mekanisme, kondisi tersebut memang menurunkan kadar air tanah dan membuat bahan bakar alami, termasuk serasah gambut, menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Dengan kata lain, El Nino memperbesar kerentanan, tetapi tidak menciptakan kebakaran dengan sendirinya.

Data menunjukkan bahwa kekuatan El Nino tidak selalu berbanding lurus dengan luas kebakaran. Pada 2019, ketika El Nino relatif lemah, kebakaran lahan gambut tetap meluas secara signifikan dan menimbulkan kabut asap lintas batas. Sebaliknya, musim kebakaran paling parah dalam dua dekade terakhir, seperti pada 2015, memang terjadi bersamaan dengan El Nino kuat — tetapi saat itu lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan telah mengalami kerusakan masif akibat pengeringan dan konversi lahan selama bertahun-tahun. Perbandingan dua musim kebakaran tersebut menegaskan bahwa iklim hanya menjadi pemicu, sementara kondisi lapangan yang menentukan skala kebakaran.

Fakta di Lapangan: Gambut Rusak, Drainase, dan Perubahan Lahan

Faktanya adalah gambut yang sehat dan tergenang tidak mudah terbakar, bahkan pada musim kemarau. Kebakaran menjadi mungkin terjadi ketika kanal drainase mengeringkan lapisan gambut, sehingga material organik yang seharusnya jenuh air berubah menjadi bahan bakar kering yang mudah terbakar hingga ke lapisan dalam. Pembangunan kanal untuk perkebunan dan pertanian, sebagaimana tercatat dalam dokumen restorasi BRGM, menjadi salah satu penyebab utama pengeringan lahan gambut.

Selain itu, perubahan tata guna lahan — dari hutan rawa gambut menjadi perkebunan, khususnya sawit dan akasia — menghilangkan fungsi penahan air alami dan memperbesar area yang terpapar panas. Data pemantauan titik panas melalui sistem SIPONGI milik BRGM menunjukkan bahwa mayoritas hotspot terdeteksi pada lahan gambut yang telah dibuka. Aktivitas manusia menjadi variabel terakhir yang tidak bisa diabaikan: pembukaan lahan dengan cara membakar masih terjadi meskipun dilarang tegas dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan. Bukti lapangan dan laporan investigasi menunjukkan bahwa sebagian besar titik api berawal dari aktivitas penyiapan lahan, bukan dari sambaran petir atau sebab alamiah lainnya.

Kesimpulan dan Rating

Berdasarkan verifikasi terhadap seluruh bukti yang tersedia, klaim bahwa El Nino merupakan biang utama karhutla dinilai menyesatkan. El Nino memang berkontribusi memperparah kondisi kekeringan, tetapi penyebab utama kebakaran terletak pada kerusakan ekosistem gambut, pengeringan lahan, perubahan tata guna lahan, dan aktivitas manusia. Menempatkan El Nino sebagai biang utama tidak akurat secara kausal dan berisiko mengalihkan perhatian dari langkah penegakan hukum serta restorasi gambut yang justru menjadi kunci pencegahan karhutla jangka panjang.

Rating: MENYESATKAN

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User