Casablanca 1937 — Sejarah Bertemu di Perempat Final Piala Dunia 2026
FOXBOROUGH, RADARBANDUNG.ID — Arsip kolonial mencatat laga di Casablanca pada 1 April 1937 sebagai pertemuan simbolik antara patrie—tanah air—melawan apa y
FOXBOROUGH, RADARBANDUNG.ID — Arsip kolonial mencatat laga di Casablanca pada 1 April 1937 sebagai pertemuan simbolik antara patrie—tanah air—melawan apa yang disebut pers prokolonialis sebagai “anak-anak sekolah yang tunduk.” Namun, realitas di lapangan membalikkan seluruh narasi hegemoni yang dibangun kekuasaan protektorat Prancis atas Maroko.
Dokumen historis yang dirujuk dari riset sejarawan Catherine Pipps dalam New Lines Magazine mengonfirmasi bahwa sebelum pertandingan tersebut, Prancis telah tiga kali mengirim tim ke Maroko dan selalu pulang sebagai pemenang. Pola kemenangan itu digunakan sebagai instrumen legitimasi superioritas Eropa atas rakyat negeri jajahan.
Data Lapangan Membalikkan Narasi
Pada 1 April 1937, di kota terbesar Maroko, tim tuan rumah yang para pemainnya ditempa melalui liga lokal yang telah bergulir sejak 1916 menampilkan permainan cepat dan trengginas. Hasil akhir: Maroko 4, Prancis B 2. Sebuah kemenangan teknis yang mematahkan konstruksi naratif penjajah tentang bangsa yang “membutuhkan bimbingan.”
Satu abad dan satu dekade setelah peristiwa itu, kedua negara kembali bertemu. Kali ini di perempat final Piala Dunia 2026, bertempat di Gillette Stadium, Foxborough, Amerika Serikat. Ini merupakan ulangan dari semifinal edisi sebelumnya yang dimenangkan Prancis.
“Kami bukan lagi tim kejutan sekarang dan itu membanggakan,” ujar pelatih Maroko Mohamed Ouahbi setelah timnya menundukkan Kanada 3-0 di babak 16 besar, sebagaimana dikutip Al Jazeera.
Komposisi Pemain: Realitas Pascakolonial
Analisis komposisi skuad kedua tim menunjukkan kompleksitas yang tak dapat direduksi dalam biner sederhana penjajah melawan bekas jajahan:
- Enam pemain Timnas Maroko lahir dan besar di Prancis. Ayyoub Bouaddi adalah salah satunya.
- Mayoritas skuad Les Bleus merupakan keturunan Afrika. Ousmane Dembele termasuk di antaranya.
- Klub-klub Liga Prancis menjadi jalur penemuan bakat bagi pemain keturunan Maroko, baik yang berdomisili di Prancis maupun yang berasal langsung dari Maroko.
Fakta-fakta ini menunjukkan mekanisme “tungkar tangkap” yang terus beroperasi antara kedua negara hingga dekade terkini.
Penafsiran Ulang Konsep Tanah Air
Kasus Ayyoub Bouaddi menjadi preseden signifikan. Gelandang berusia 18 tahun itu lahir dan besar di Prancis, membela timnas kelompok umur Les Bleus dari U-16 hingga U-21, namun memilih bergabung dengan Singa Atlas sebulan sebelum Piala Dunia 2026. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana identitas nasional dinegosiasikan di luar parameter kewarganegaraan formal dan prestise institusional.
Fenomena serupa teramati pada Rayan Cherki, yang memiliki darah Aljazair dan Italia, menunjukkan bahwa konstruksi “tanah air” tidak bersifat statis melainkan terus-menerus mengalami reinterpretasi oleh individu di tengah benturan identitas dan afiliasi transnasional.
Data kewarganegaraan ganda dan pilihan tim nasional menjadi dokumen hidup tentang bagaimana sejarah kolonial terus membentuk realitas kontemporer—bukan sebagai narasi balas dendam, melainkan sebagai negosiasi identitas yang berlangsung terus-menerus.
Comments (0)