BRIN Paparkan Penguasaan Nuklir dan Pesawat Nirawak kepada Prabowo
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan sejumlah capaian riset strategis nasional kepada Presiden Prabowo Subianto. Paparan tersebut mencakup upaya penguasaan teknologi energi nuklir, penge...
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan sejumlah capaian riset strategis nasional kepada Presiden Prabowo Subianto. Paparan tersebut mencakup upaya penguasaan teknologi energi nuklir, pengembangan pesawat udara nirawak PUNA MALE, hingga rancangan kapal yang selama ini dimanfaatkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pertemuan itu menjadi penanda bahwa riset dan inovasi menempati posisi penting dalam agenda pembangunan nasional. BRIN menegaskan komitmennya mendukung kemandirian teknologi melalui serangkaian program hilirisasi yang melibatkan lintas kementerian dan lembaga.
Penguasaan Teknologi Energi Nuklir
Salah satu fokus utama yang disampaikan kepada Presiden adalah peta jalan penguasaan energi nuklir di Tanah Air. BRIN menilai nuklir merupakan sumber energi bersih yang mampu menopang kebutuhan listrik nasional dalam jangka panjang, sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon yang telah ditetapkan pemerintah.
Menurut BRIN, penguasaan teknologi nuklir tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, tetapi juga mencakup pemanfaatan di bidang kesehatan, pertanian, dan industri. Riset reaktor nuklir generasi terbaru disebut terus dikembangkan agar Indonesia tidak bergantung pada teknologi asing di masa depan.
BRIN juga menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia. Penguasaan nuklir membutuhkan peneliti, insinyur, dan regulator yang kompeten, sehingga pembinaan talenta menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi yang dipaparkan kepada Presiden.
Pesawat Nirawak PUNA MALE
Selain nuklir, BRIN memaparkan perkembangan Pesawat Udara Nirawak (PUNA) kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE). Pesawat tanpa awak ini dirancang oleh konsorsium nasional dan menjadi salah satu produk unggulan riset kedirgantaraan Indonesia.
PUNA MALE dirancang untuk mampu terbang dalam waktu lama pada ketinggian menengah, sehingga cocok untuk kebutuhan pengawasan wilayah, pemantauan bencana, hingga mendukung operasi pertahanan. Pengembangan pesawat nirawak ini melibatkan kolaborasi antara lembaga riset, industri pertahanan, dan perguruan tinggi, mencerminkan ekosistem inovasi yang mulai terbangun di dalam negeri.
Kehadiran PUNA MALE dinilai strategis karena selama ini kebutuhan pesawat nirawak berdaya jelajah jauh masih dipenuhi melalui impor. Dengan produk dalam negeri, Indonesia berpeluang menghemat devisa sekaligus menguasai teknologi kunci di sektor dirgantara.
Desain Kapal untuk Bea Cukai dan KKP
Paparan kepada Presiden juga menyentuh sektor kemaritiman. BRIN menunjukkan desain kapal yang selama ini diadopsi oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan serta KKP untuk mendukung operasional di laut.
Kapal-kapal rancangan tersebut digunakan antara lain untuk patroli pengawasan perbatasan, penindakan penyelundupan, serta pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan. Desain kapal hasil riset dalam negeri terbukti mampu memenuhi kebutuhan operasional penegakan hukum di laut dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan pembelian dari luar negeri.
Bagi KKP, kapal pengawasan menjadi tulang punggung pemberantasan penangkapan ikan ilegal. Sementara bagi Bea Cukai, kapal patroli cepat sangat dibutuhkan untuk mencegah masuknya barang ilegal melalui jalur laut Indonesia yang sangat luas.
Riset untuk Kemandirian Bangsa
Paparan BRIN kepada Presiden Prabowo mencerminkan satu benang merah: riset nasional diarahkan untuk memperkuat kemandirian bangsa. Energi nuklir menjamin ketahanan energi, pesawat nirawak memperkuat pertahanan dan pengawasan udara, sedangkan kapal patroli menjaga kedaulatan maritim.
BRIN berharap dukungan politik dari pemerintah dapat mempercepat hilirisasi hasil riset ke sektor industri. Dengan demikian, inovasi yang lahir dari laboratorium tidak berhenti sebagai prototipe, melainkan benar-benar dimanfaatkan oleh kementerian, lembaga, dan masyarakat luas.
Ke depan, kolaborasi antara lembaga riset, industri strategis, dan pengguna akhir disebut akan terus diperkuat agar Indonesia mampu bersaing dalam penguasaan teknologi tinggi di tingkat global.
Comments (0)