BPOM Peringatkan Bahaya Vape Ancam Kesehatan Remaja Indonesia
Jakarta, Lurusin.com – Maraknya penggunaan rokok elektronik atau vape di kalangan remaja Indonesia menimbulkan kekhawatiran serius dari Badan Pengawas Obat
Jakarta, Lurusin.com – Maraknya penggunaan rokok elektronik atau vape di kalangan remaja Indonesia menimbulkan kekhawatiran serius dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan angka pengguna vape remaja yang berpotensi mengalami gangguan kesehatan akut dalam waktu singkat. Gaya hidup yang dianggap keren ini ternyata menyimpan ancaman berbahaya yang tidak disadari para pelajar.
Peringatan Tegas dari BPOM
BPOM menegaskan bahwa rokok elektrik bukanlah alternatif yang aman, terutama bagi generasi muda yang sistem organnya masih dalam tahap perkembangan. Kepala BPOM, Penny K. Lukito, menyoroti banyaknya produk vape yang beredar mengandung zat adiktif dan beracun yang sangat tidak layak dikonsumsi oleh remaja.
"Kami sangat prihatin dengan tren ini. Banyak remaja yang mengira vape aman, padahal risikonya sama besarnya bahkan lebih parah karena zat kimia yang tidak terstandarisasi," ungkap Penny dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (12/05/2025).
BPOM juga mengungkapkan bahwa pengawasan terhadap peredaran liquid vape ilegal terus diperketat karena banyak produk yang tidak memenuhi standar kesehatan dan justru dicampur dengan bahan berbahaya.
Lonjakan Pengguna Vape Remaja
Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan, angka remaja usia 13 hingga 18 tahun yang menggunakan vape melonjak drastis dari 3,2% pada tahun 2020 menjadi 11,8% pada tahun 2024. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, hampir satu dari lima pelajar SMA mengaku pernah mencoba vape. Kemudahan akses dan promosi masif melalui media sosial dinilai menjadi pemicu utama fenomena ini.
Bentuk vape yang modern dengan aroma buah-buahan membuat remaja sulit membedakan antara bahaya dan gaya hidup kekinian. "Anak saya mulai ngevape karena ikut-ikutan teman, katanya tidak bikin bau rokok," cerita seorang ibu di Jakarta Selatan yang enggan disebut namanya. Kondisi ini diperparah oleh minimnya edukasi mengenai kandungan dan dampak buruk rokok elektrik di lingkungan sekolah.
Kandungan Berbahaya yang Mengintai
Vape bekerja dengan memanaskan cairan (liquid) yang mengandung berbagai campuran kimia hingga menghasilkan aerosol. Banyak remaja tidak menyadari bahwa cairan yang mereka hirup dapat mengandung:
- Nikotin dosis tinggi – menyebabkan kecanduan parah dan mengganggu perkembangan otak remaja.
- Diacetyl – senyawa perasa yang dikaitkan dengan penyakit paru obstruktif kronis dan kondisi langka “popcorn lung”.
- Propilen glikol dan gliserin – ketika dipanaskan dapat membentuk senyawa karsinogenik seperti formaldehida.
- Logam berat seperti timbal, nikel, dan kromium yang berasal dari elemen pemanas alat.
BPOM bahkan menemukan produk liquid ilegal yang dicampur dengan narkotika sintetis, memperparah risiko kesehatan mental dan fisik remaja secara bersamaan.
Dampak Kesehatan yang Ngeri
Efek jangka pendek penggunaan vape antara lain batuk kronis, sesak napas, dan iritasi saluran pernapasan. Sementara dalam jangka panjang, pengguna berisiko menderita:
- EVALI (E-cigarette or Vaping Associated Lung Injury) – cedera paru akut yang bisa berakibat fatal dalam hitungan minggu. Kasus EVALI pada remaja di Indonesia kini mulai terdeteksi di beberapa rumah sakit.
- Penyakit kardiovaskular – nikotin merusak pembuluh darah dan meningkatkan tekanan darah, membuka jalan menuju serangan jantung di usia muda.
- Gangguan kognitif – otak remaja yang masih berkembang rentan terhadap efek neurotoksik nikotin, mengakibatkan penurunan daya ingat, konsentrasi, dan prestasi belajar.
Dr. Ardian Wibisono, spesialis paru RS Persahabatan, menambahkan,
"Vape tidak lebih baik dari rokok konvensional. Remaja sering menjadi korban karena ketidaktahuan, dan efek jangka panjangnya belum sepenuhnya dipahami karena produk ini relatif baru."
Langkah BPOM dan Pemerintah
Menyikapi kondisi darurat ini, BPOM bersama Kementerian Kesehatan dan KPAI menggencarkan edukasi bahaya vape ke sekolah-sekolah, memperketat pengawasan peredaran liquid ilegal, serta mengusulkan regulasi yang membatasi iklan dan penjualan vape pada anak di bawah umur. Namun, tantangan terbesar adalah mengubah persepsi remaja bahwa vape adalah simbol pergaulan modern.
Dengan semakin banyaknya korban muda, kini saatnya orang tua, sekolah, dan masyarakat bersatu mencegah gelombang kecanduan baru yang bisa menghancurkan masa depan generasi penerus.
[SOCIAL_TWEET]: BPOM peringatkan bahaya vape bagi remaja Indonesia! Pengguna remaja naik 4 kali lipat dalam 4 tahun. Rokok elektrik bukan mainan, risiko EVALI dan kerusakan otak mengancam. #StopVapeRemaja #BPOM #KesehatanAnak [SOCIAL_TG]: ⚠️ BPOM soroti peningkatan drastis pengguna vape di kalangan remaja. Ngeri! Efek jangka panjangnya bisa fatal. Lindungi masa depan anak kita dari jeratan nikotin modern. 🚭👦
Comments (0)