Berastagi — Perajin Ulos Karo Pertahankan Tradisi Tenun Sejak Abad 14
BERASTAGI — Di Kampung Ulos, kawasan Berastagi, Kabupaten Karo, derap alat tenun tradisional terus memecah senyap pagi. Suara itu bukan sekadar ritme kerja
BERASTAGI — Di Kampung Ulos, kawasan Berastagi, Kabupaten Karo, derap alat tenun tradisional terus memecah senyap pagi. Suara itu bukan sekadar ritme kerja, melainkan penanda bahwa warisan menenun yang berusia lebih dari enam abad masih bertahan di tengah gempuran modernitas. Berdasarkan catatan etnografi, tradisi tenun masyarakat Karo telah eksis setidaknya sejak abad ke-14, ketika ulos menjadi elemen sakral dalam ritual adat, mulai dari upacara kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Hingga kini, sejumlah perajin di Kampung Ulos tetap setia memintal benang dan merajut motif-motif geometris khas Karo, seperti pinarik, tapak catur, dan tupang raja, menggunakan teknik yang sepenuhnya diwariskan secara lisan lintas generasi.
Sejarah Tenun Ulos Karo: Bukti Arkeologis dan Kontinuitas Budaya
Eksistensi tenun ulos di Tanah Karo tidak bisa dilepaskan dari temuan artefak dan manuskrip kuno. Tim peneliti dari Balai Arkeologi Sumatera Utara pernah mengidentifikasi fragmen kain tenun pada situs penguburan leluhur Karo yang menunjukkan kemiripan struktur dengan ulos modern. Sementara itu, naskah Batak bermedia kulit kayu (pustaha) yang tersimpan di koleksi museum Eropa memuat simbol-simbol yang diduga sebagai diagram motif tenun. Integrasi antara fakta arkeologis ini dengan praktik yang masih hidup di Kampung Ulos menegaskan bahwa rantai budaya tidak terputus. Ulos Karo, berbeda dari varian Toba yang lebih dikenal publik, memiliki corak warna dominan merah, hitam, dan putih, serta ornamen geometris tegas. Secara fungsional, ulos Karo digunakan sebagai abit (kain penutup tubuh), penanda status sosial, dan alat tukar dalam runggu (musyawarah adat).
Proses Produksi: Padat Karya, Minim Sentuhan Mesin
Seluruh tahap pembuatan ulos di Kampung Ulos masih mengandalkan alat tenun tradisional gedokan dan backstrap loom. Proses dimulai dari pemintalan benang katun lokal, pencelupan menggunakan pewarna alami seperti kulit kayu jengkol untuk warna hitam dan akar mengkudu untuk merah, hingga penenunan yang bisa memakan waktu hingga empat pekan untuk satu lembar ulos berukuran 2 x 1,5 meter. Tidak ada cetak biru tertulis; perajin mengandalkan ingatan visual dan pengulangan gerakan tangan yang telah diasah sejak usia dini.
“Kami tidak pernah mencatat motif. Semua ada di kepala. Ibu mengajarkan saya dengan cara menyuruh saya duduk di sampingnya selama bertahun-tahun,” ujar Rosmauli Br Ginting (52), perajin generasi keempat di Kampung Ulos.
Ketidakadaan dokumentasi baku ini menciptakan risiko kekayaan motif menghilang seiring wafatnya maestro tenun. Observasi di lapangan menunjukkan bahwa hanya 3 dari 20 perajin yang mampu membuat motif paling rumit seperti tupang raja dengan tingkat akurasi tinggi.
Ancaman: Kesenjangan Generasi dan Harga yang Tidak Kompetitif
Keberlangsungan tenun ulos kini menghadapi tekanan dari dua arah. Pertama, masalah regenerasi. Data hasil pendataan informal oleh komunitas penenun menyebutkan rata-rata usia perajin aktif di Kampung Ulos adalah 48 tahun, dengan hanya dua perajin berusia di bawah 30 tahun. Sebagian besar anak muda di Berastagi lebih memilih bekerja di sektor pariwisata atau berdagang, karena pendapatan dari menenun dinilai rendah. Satu helai ulos kualitas tinggi dijual dengan kisaran harga Rp 300 ribu hingga Rp 1,5 juta, sementara proses produksi memakan waktu 14–30 hari. Kondisi ini menghasilkan upah efektif di bawah standar upah minimum. Kedua, gempuran produk tekstil bermotif ulos buatan pabrik yang harganya hanya 20% dari ulos asli tetapi sulit dibedakan oleh konsumen awam. Imbasnya, permintaan terhadap ulos tenun konvensional merosot, dan beberapa perajin terpaksa beralih profesi.
Langkah Pelestarian dan Kebijakan Daerah
Pemerintah Kabupaten Karo melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah meluncurkan program “Rumah Ulos” yang memberikan stimulus bahan baku dan akses pemasaran daring bagi perajin terdaftar. Kepala Dinas terkait menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data.
“Kami sedang memetakan seluruh perajin berikut spesialisasi motifnya. Langkah berikutnya adalah menetapkan mereka sebagai penerima insentif dan melindungi indikasi geografis ulos Karo agar tidak bisa diklaim pihak luar,” jelas Drs. Hendrikus Tarigan, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karo, saat ditemui di sela pameran tenun di Berastagi.
Di tingkat komunitas, sejumlah perajin di Kampung Ulos membentuk koperasi untuk menstandardisasi harga dan menghimpun dana pelatihan bagi anggota baru. Namun, efektivitas langkah ini masih perlu dievaluasi karena tantangan terbesar tetap pada bagaimana membuat profesi penenun kompetitif secara ekonomi bagi generasi muda Karo.
Kampung Ulos, dengan segala kekayaan motif dan ritual di dalamnya, kini berdiri di persimpangan. Data audit budaya yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebudayaan Universitas Sumatera Utara pada 2022 mencatat hanya tersisa 16 motif asli Karo yang masih diproduksi—dari total 34 motif yang terdokumentasi pada 1978. Tanpa intervensi kebijakan yang tajam dan keterlibatan pasar, angka itu berpotensi menyusut drastis dalam satu dekade ke depan.
Comments (0)