Belgia di Piala Dunia 2026: Ranking FIFA, Sejarah, dan Harapan Juara
Tim nasional Belgia melangkah ke Piala Dunia 2026 dengan membawa ekspektasi besar. Dijuluki Setan Merah (Red Devils), negara yang terletak di jantung Eropa ini telah lama dikenal sebagai salah satu ke...
Tim nasional Belgia melangkah ke Piala Dunia 2026 dengan membawa ekspektasi besar. Dijuluki Setan Merah (Red Devils), negara yang terletak di jantung Eropa ini telah lama dikenal sebagai salah satu kekuatan sepak bola yang belum sepenuhnya mengkonversi talenta emas menjadi trofi dunia. Saat turnamen empat tahunan kembali digelar—kali ini di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—pertanyaan yang kembali mencuat adalah: mampukah Belgia akhirnya memutus kutukan tanpa gelar?
Sejarah Piala Dunia: Kiprah Tanpa Mahkota
Belgia belum pernah meraih trofi Piala Dunia sepanjang sejarah keikutsertaannya. Prestasi terbaik mereka terjadi pada edisi 2018 di Rusia, ketika generasi emas mengakhiri turnamen di posisi ketiga setelah mengalahkan Inggris di laga perebutan tempat ketiga. Sebelumnya, capaian tertinggi adalah semifinal pada 1986 di Meksiko, saat mereka dihentikan oleh Argentina yang kelak menjadi juara. Pada Piala Dunia 2022, performa Belgia justru mengecewakan: mereka tersingkir di fase grup, memicu gelombang kritik dan introspeksi mendalam. Fakta ini menunjukkan bahwa konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi skuad asuhan pelatih yang kini menangani tim.
Meskipun belum menyentuh final, Belgia telah menjadi peserta reguler sejak debut mereka pada 1930. Total, mereka telah tampil dalam 15 edisi—sebuah rekor kehadiran yang menempatkan mereka di antara negara Eropa dengan tradisi Piala Dunia yang kuat. Perjalanan panjang ini menjadi modal berharga untuk menghadapi turnamen 2026 yang akan diikuti 48 negara untuk pertama kalinya.
Peringkat FIFA Terkini: Posisi yang Menjanjikan
Menjelang Piala Dunia 2026, Belgia tetap bertengger di papan atas peringkat FIFA. Berdasarkan data rilis FIFA per Maret 2026, Belgia menduduki posisi kelima dunia dengan koleksi 1.827 poin. Posisi ini menempatkan mereka di bawah Argentina, Prancis, Inggris, dan Brasil—empat tim yang menjadi unggulan utama. Peringkat ini menjadi bukti bahwa meskipun generasi emas mulai menua, fondasi tim nasional Belgia masih kokoh berkat regenerasi yang berjalan.
Peringkat FIFA juga memengaruhi undian grup. Dengan status sebagai salah satu unggulan, Belgia berpotensi menghindari lawan-lawan terkuat di fase awal. Namun, format baru dengan 16 grup (masing-masing tiga tim) menuntut setiap pertandingan nyaris tanpa margin kesalahan. Hanya dua tim dari setiap grup yang melaju ke babak 32 besar, sehingga setiap poin menjadi krusial.
Skuad Inti: Perpaduan Pengalaman dan Darah Muda
Kekuatan utama Belgia tetap bertumpu pada pemain-pemain kunci yang telah malang melintang di liga-liga top Eropa. Kevin De Bruyne, maestro lini tengah berusia 34 tahun, tetap menjadi kreator serangan utama dengan visi dan umpan-umpan presisinya. Di lini depan, Romelu Lukaku yang telah mengoleksi lebih dari 80 gol internasional masih diandalkan sebagai predator kotak penalti. Sementara itu, Thibaut Courtois kembali mengawal gawang setelah absen di Euro 2024 karena cedera, memberikan rasa aman di sektor pertahanan.
Selain trio senior tersebut, Belgia mulai diperkuat oleh talenta-talenta muda yang bersinar. Jérémy Doku, Lois Openda, dan Amadou Onana diyakini akan menjadi pilar penting dalam skema permainan. Di sektor belakang, Wout Faes dan Zeno Debast menawarkan agresivitas dan kemampuan build-up yang dibutuhkan untuk sepak bola modern. Pelatih tim nasional—yang telah membawa pendekatan taktikal berbasis penguasaan bola dan pressing tinggi—kini memiliki lebih banyak opsi untuk melakukan rotasi tanpa menurunkan kualitas permainan.
Rute Menuju Perempat Final: Jalan Terjal yang Menanti
Untuk mencapai babak perempat final, Belgia harus melewati dua tahapan krusial. Di fase grup, berdasarkan hasil undian, mereka tergabung bersama tim dari pot Asia dan zona Play-off Antar Konfederasi. Meskipun di atas kertas mereka diunggulkan, kejutan dari tim kuda hitam bukan hal mustahil di era modern. Jika lolos sebagai juara grup, Belgia akan menghadapi peringkat kedua dari grup lain di babak 32 besar—yang kemungkinan besar adalah tim dari Eropa atau Amerika Selatan yang juga punya ambisi besar.
Apabila berhasil mencapai 16 besar, lawan yang menanti bisa jadi lebih berat. Potensi bentrok dengan tim seperti Jerman atau Uruguay sudah membayangi, mengingat peta persaingan yang ketat. Pertandingan di babak knockout menuntut efisiensi dan ketahanan mental; dua aspek yang kerap menjadi kelemahan Belgia di momen-momen kritis. Namun, pengalaman pahit di Qatar 2022 diharapkan menjadi pelajaran berharga agar mereka tidak mengulangi kesalahan serupa.
Faktor non-teknis seperti perjalanan dan kondisi cuaca di Amerika Utara juga perlu diantisipasi. Dengan lokasi pertandingan yang tersebar di tiga negara, manajemen kebugaran skuad akan sangat menentukan. Tim pelatih telah menyusun rencana pemulihan dan adaptasi yang matang agar performa pemain tetap optimal sepanjang turnamen.
Peluang dan Harapan: Bisakah Red Devils Akhiri Puasa Gelar?
Secara keseluruhan, Belgia memasuki Piala Dunia 2026 dengan modal yang cukup: peringkat FIFA tinggi, skuad yang seimbang, dan pengalaman panjang di turnamen besar. Namun, beban psikologis sebagai "generasi emas tanpa gelar" dan format kompetisi yang padat menjadi tantangan tersendiri. Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan tim untuk tampil stabil sejak laga pertama dan mampu mengatasi tekanan di fase gugur.
Jika De Bruyne dkk. berhasil menjaga fokus dan pelatih mampu meracik strategi yang tepat, bukan tidak mungkin Belgia akhirnya bisa menorehkan sejarah baru. Publik sepak bola Belgia tentu berharap Piala Dunia 2026 menjadi panggung di mana status sebagai salah satu negara terbaik dunia benar-benar dibuktikan dengan trofi yang telah lama dinanti.
Baca juga:
Comments (0)