BEI Resmi Buka Fitur Repo SBSN, Likuiditas Pasar Syariah Dikebut
Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menghadirkan fitur transaksi Repurchase Agreement (Repo) berbasis Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) di Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SP
Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menghadirkan fitur transaksi Repurchase Agreement (Repo) berbasis Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) di Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) mulai Senin (6/7/2026). Inovasi ini menjadi tonggak baru dalam memperkuat likuiditas dan pendalaman pasar keuangan syariah di Indonesia. Repo sendiri merupakan skema jual beli efek dengan janji pembelian kembali pada harga dan tenggat waktu yang telah disepakati, lazim digunakan untuk pengelolaan pendanaan jangka pendek.
Berdasarkan data yang dihimpun Lurusin.com, transaksi Repo SBSN antardealer selama ini masih menunjukkan nilai yang relatif minim, yakni di bawah Rp1 triliun. Bandingkan dengan total transaksi Repo Surat Utang Negara (SUN) konvensional antardealer yang telah melampaui Rp2.500 triliun. Kesenjangan ini menunjukkan betapa besar potensi pengembangan pasar sekunder SBSN melalui dukungan infrastruktur elektronik yang terintegrasi seperti SPPA. Fitur Repo SBSN di platform ini diharapkan akan mengubah pola likuiditas yang selama ini terpusat pada SUN.
Menutup Jarak Likuiditas dengan Pasar Konvensional
Peluncuran fitur Repo SBSN menjadi jawaban atas kebutuhan pelaku pasar akan mekanisme transaksi yang lebih efisien, transparan, dan syariah-komplen. SPPA sebagai sistem perdagangan elektronik memungkinkan dealer dan investor institusi untuk melakukan transaksi secara langsung, memangkas biaya, serta mempercepat penyelesaian. Langkah ini merupakan bagian dari strategi BEI dalam menyamakan level likuiditas instrumen syariah dengan pasar konvensional, sejalan dengan ambisi pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan syariah global.
Direktur Pengembangan BEI, dalam keterangan resmi yang diterima Lurusin.com, Senin (6/7), menyatakan optimisme bahwa Repo SBSN akan menjadi katalisator utama. “Kami ingin likuiditas SBSN bertumbuh pesat. Kehadiran Repo di SPPA menyediakan alat vital bagi dealer untuk manajemen portofolio dan pendanaan jangka pendek secara lebih fleksibel, sesuai prinsip syariah,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa BEI tidak hanya berfokus pada volume transaksi, tetapi juga pada kesehatan ekosistem perdagangan yang berkelanjutan.
Inisiatif ini melengkapi serangkaian dukungan BEI sebelumnya, seperti penyelenggaraan lelang SBSN dan penguatan kerangka regulasi pasar syariah. Pelaku pasar menyambut positif karena fitur Repo memperluas alternatif investasi dan lindung nilai, sekaligus membuka pintu bagi investor institusi, termasuk dana pensiun dan asuransi, yang memerlukan instrumen likuid dengan prinsip syariah. Dengan infrastruktur yang semakin matang, SBSN diyakini akan semakin kompetitif menarik minat investor domestik maupun asing, memperdalam pasar keuangan syariah nasional.
Comments (0)