Bandara Husein Ditargetkan Layani Jet Lagi Mulai 17 Agustus 2026
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan memasang tenggat yang ambisius: Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung harus sudah bisa kembali melayani pesawat berbadan jet pada 17 Agustus 2026. Targ...
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan memasang tenggat yang ambisius: Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung harus sudah bisa kembali melayani pesawat berbadan jet pada 17 Agustus 2026. Target ini bukan sekadar penanda kalender, melainkan simbol konektivitas yang sempat terputus sejak pusat penerbangan komersial Jawa Barat dialihkan ke Bandara Internasional Kertajati di Majalengka.
Sejak 2018, seluruh rute jet domestik maupun internasional dari dan menuju Bandung praktis hanya beroperasi melalui Kertajati. Husein yang berada di tengah kota hanya menyisakan layanan turboprop seperti ATR 72 untuk rute pendek. Kini, rencana mengembalikan fungsi penuh bandara bersejarah itu memasuki tahap finalisasi, dengan harapan tepat saat peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, warga Bandung dapat lagi merasakan deru mesin jet di langit cekungan Bandung.
Sejarah Panjang Bandara Kota Kembang
Bandara Husein Sastranegara sudah beroperasi sejak masa kolonial Belanda dengan nama Lapangan Terbang Andir. Landas pacu aslinya adalah hamparan rumput yang kemudian diperkeras seiring perkembangan penerbangan sipil dan militer. Nama Husein Sastranegara diambil dari perintis TNI AU asal Bandung, dan hingga kini bandara ini tetap digunakan bersama oleh TNI AU dan penerbangan komersial.
Keterbatasan fisik telah lama menjadi kendala. Landas pacu sepanjang sekitar 2.250 meter hanya mampu didarati pesawat jet berbadan sedang seperti Boeing 737-800 dan Airbus A320 dengan pembatasan beban. Kondisi geografis berupa pegunungan di utara dan permukiman padat di sekitar bandara menyulitkan setiap upaya perpanjangan landasan. Hal inilah yang mendorong pemerintah membangun Kertajati sebagai solusi jangka panjang, dengan landas pacu 3.000 meter dan area pengembangan yang jauh lebih luas.
Alasan Kembalinya Jet ke Husein
Meski Kertajati unggul dari sisi kapasitas, kenyamanan akses menjadi titik lemah. Bandara yang terletak sekitar 68 kilometer dari pusat Kota Bandung itu memerlukan waktu tempuh darat hingga dua jam lebih pada jam sibuk. Survei berbagai lembaga menunjukkan penurunan minat penumpang korporasi dan wisatawan untuk terbang langsung ke Bandung, justru banyak yang memilih mendarat di Jakarta lalu melanjutkan perjalanan darat. Kondisi ini dinilai menggerus potensi ekonomi dan pariwisata kawasan Bandung Raya.
Oleh karena itu, sejak 2022 wacana reaktivasi Husein untuk penerbangan jet kembali menguat. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah Jawa Barat sepakat bahwa kedua bandara harus saling melengkapi, bukan saling mematikan. Kertajati tetap menjadi hub utama untuk penerbangan internasional, kargo, dan haji-umrah, sementara Husein akan menangani penerbangan jet rute domestik padat seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Denpasar dengan frekuensi terbatas.
Perkuatan Infrastruktur yang Dikebut
Agar target 17 Agustus 2026 tercapai, sejumlah pekerjaan fisik dan nonfisik sedang dipercepat. Data dari otoritas bandar udara menyebutkan bahwa landas pacu akan menjalani penguatan struktur (overlay) untuk menaikkan nilai Pavement Classification Number (PCN), sehingga mampu menahan beban pesawat jet secara reguler. Selain itu, sistem pendaratan instrumen (Instrument Landing System atau ILS) kategori I yang ada akan ditingkatkan ke kategori II untuk meningkatkan keandalan saat cuaca buruk.
Perluasan runway end safety area (RESA) di kedua ujung landasan juga menjadi fokus agar memenuhi standar keselamatan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Di sisi terminal, perluasan ruang tunggu keberangkatan dan penambahan garbarata (aerobridge) direncanakan untuk mengakomodasi peningkatan kapasitas penumpang. Proyek-proyek ini ditopang oleh pendanaan APBN dan APBD dengan total investasi yang diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Kembalinya jet komersial ke Husein diproyeksikan membawa efek pengganda yang signifikan. Para pelaku usaha di sektor perhotelan, restoran, dan ekonomi kreatif di Bandung Raya sudah lama menanti kepastian ini. Dengan jarak tempuh dari bandara ke pusat kota yang hanya sekitar 15–20 menit, pelaku perjalanan bisnis dapat melakukan pertemuan dalam satu hari tanpa harus menginap, sementara wisatawan akhir pekan dari kota-kota besar mendapatkan efisiensi waktu yang besar.
Asosiasi agen perjalanan memperkirakan kenaikan jumlah wisatawan domestik sebesar 20–30 persen pada tahun pertama setelah jet kembali beroperasi di Husein. Rute seperti Jakarta–Bandung yang hanya memakan waktu terbang sekitar 25 menit akan kembali menjadi primadona, terutama bagi mereka yang enggan terjebak kemacetan di Tol Cipularang saat akhir pekan panjang.
Tantangan Koordinasi dengan Militer
Salah satu kerumitan utama adalah status Husein sebagai pangkalan udara militer TNI AU. Seluruh jadwal penerbangan sipil harus berbagi slot dengan kegiatan operasional dan latihan militer. Untuk mewujudkan target 2026, Kementerian Perhubungan dan TNI AU sedang merampungkan nota kesepahaman baru tentang pembagian ruang udara, jam operasional, serta prosedur penanganan darurat. Sejumlah sumber menyebutkan kemungkinan pembatasan jumlah pergerakan pesawat per jam, sehingga maskapai harus mengajukan slot secara ketat.
Di sisi lain, aspek lingkungan juga menjadi perhatian. Warga di sekitar bandara telah lama mengeluhkan kebisingan. Pemerintah kota diminta menyiapkan kebijakan insulasi suara bagi permukiman terdampak, sekaligus memastikan bahwa pengembangan bandara tidak melanggar tata ruang wilayah yang sudah ditetapkan.
Harapan di Ujung Landasan
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, 17 Agustus 2026 bukan sekadar seremoni kemerdekaan yang ke-81, melainkan juga momentum kembalinya konektivitas penuh ibu kota provinsi Jawa Barat. Pemerintah provinsi optimistis bahwa sinergi antara Husein dan Kertajati akan menjadi model pengelolaan dua bandara yang saling mengisi untuk wilayah metropolitan yang kompleks. Namun demikian, pekerjaan besar masih menanti: dari penyelesaian konstruksi, sertifikasi keselamatan, hingga penyesuaian rute oleh maskapai penerbangan.
Masyarakat Bandung dan sekitarnya kini hanya bisa menunggu, berharap kali ini jadwal tidak kembali mundur. Di tengah gempuran proyek infrastruktur nasional, kembalinya pesawat jet ke Bandara Husein Sastranegara akan menjadi ujian nyata kemampuan pemerintah mengeksekusi rencana besar dengan tenggat yang pasti.
Baca juga:
Comments (0)