Kota Palembang kembali berduka ketika kabut tebal dari kebakaran hutan dan lahan menutup langit, menekan kualitas udara ke level yang berbahaya. Di tengah kondisi itu, seorang pengemudi transportasi daring bernama Hardiansyah kehilangan nyawanya. Pria yang sehari-hari mengaspal di jalanan kota itu dilaporkan mengalami sesak napas parah sebelum akhirnya meninggal.
Kisahnya bukan sekadar angka dalam rekor kesehatan masyarakat. Ia adalah wajah dari krisis yang berulang setiap musim kemarau, ketika lahan Gambut di Sumatera Selatan terbakar dan asapnya menyebar hingga memasuki paru-paru warga tanpa pandang bulu.
Kronologi Kronis yang Berujung Maut
Berdasarkan keterangan yang beredar di lingkungan komunitas pengemudi daring, Hardiansyah mulai mengeluhkan keluhan pernapasan beberapa hari sebelum meninggal. Udara yang dihirup setiap kali ia keluar mencari penumpang semakin berat, dengan jarak pandang yang menyusut dan aroma hangus yang menyengat.
Ia sempat berusaha bertahan. Seperti kebanyakan pekerja jalanan lainnya, keputusan untuk tetap beroperasi bukanlah pilihan melainkan kebutuhan. Setiap jam yang dilewatkan tanpa mengemudi berarti pendapatan yang hilang, sementara tagihan kebutuhan hidup tetap berjalan.
Faktanya adalah, paparan asap karhutla dalam jangka waktu lama dapat memicu peradangan saluran napas, memperburuk asma, hingga menyebabkan gagal napas pada individu yang rentan. Gejala awal sering dianggap sepele: batuk kering, tenggorokan gatal, dan rasa lelah yang berkepanjangan.
Ketika keluhan memburuk, kondisi udara di sekitar kota membuat ruang gerak terbatas. Jarak ke fasilitas kesehatan, antrean di puskesmas yang dipenuhi pasien serupa, serta terbatasnya masker berkualitas semuanya menumpuk menjadi penghalang.
Ancaman yang Berulang Setiap Tahun
Sumatera Selatan, termasuk Palembang, bukan wilayah yang asing dengan kabut asap. Tahun demi tahun, musim kemarau datang bersamaan dengan titik api di kawasan hutan dan lahan. Pola ini berulang dengan prediktabilitas yang nyaris sempurna, namun mitigasinya selalu tertinggal di belakang kecepatan api menyebar.
Data kualitas udara dari pemantauan daring menunjukkan bahwa indeks pencemar udara di kota-kota Sumatera Selatan secara konsisten masuk kategori tidak sehat selama puncak kebakaran. Untuk pekerja luar ruang seperti pengemudi ojek daring, kurir makanan, dan pekerja konstruksi, angka tersebut bukan statistik abstrak — ia adalah dosis paparan yang mereka hirup selama berjam-jam.
Data menunjukkan bahwa kelompok pekerja ini memiliki durasi paparan tertinggi dibanding warga yang sebagian besar beraktivitas di dalam ruangan berpendingin. Masker kain yang lazim dipakai tidak dirancang untuk menyaring partikel halus asap, sehingga perlindungannya sangat terbatas.
Ekonomi Menekan, Tubuh Menyerah
Pertanyaan yang muncul setelah setiap korban berjatuhan selalu sama: mengapa mereka tetap bekerja? Jawabannya terletak pada struktur ekonomi pekerja harian. Tanpa gaji tetap, tanpa jaminan sakit yang berarti, setiap hari absen adalah kerugian langsung.
Sistem kerja berbasis aplikasi memperkuat tekanan itu. Algoritma menentukan poin-poin promosi, dan penurunan rating berujung pada berkurangnya pesanan. Bagi Hardiansyah dan rekan-rekannya, berhenti bekerja walau hanya beberapa hari bisa berarti kehilangan posisi di antara ribuan pengemudi lain yang siap mengambil alih.
Bukti kunci dari kisah ini adalah ketidakseimbangan antara risiko kesehatan dan perlindungan yang diterima pekerja. Asap datang dari kebakaran lahan yang jarang dituntut hingga ke akarnya, sementara orang yang menghirupnya setiap hari tidak memiliki jaring pengaman yang layak.
Siapa yang Bertanggung Jawab
Kematian seorang pengemudi daring akibat asap karhutla memaksa publik menghadapi pertanyaan tentang tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah memegang peran dalam penanganan titik api dan distribusi masker. Pihak berwenang di tingkat nasional mengawasi penegakan hukum terhadap pembakaran lahan. Sementara itu, perusahaan teknologi yang menghubungkan pekerja dengan pelanggan memiliki akses terhadap data operasional yang dapat dipakai untuk melindungi pengemudinya.
Kebijakan pembatasan aktivitas luar ruang memang kerap diberlakukan ketika indeks pencemar udara memburuk. Namun aturan semacam itu efektif hanya jika disertai kompensasi yang memungkinkan pekerja harian tetap memenuhi kebutuhan tanpa harus turun ke jalan.
Tanpa kombinasi antara penegakan hukum terhadap pembakar lahan, perbaikan kualitas udara jangka panjang, dan perlindungan ekonomi bagi pekerja rentan, korban berikutnya hanyalah soal waktu. Asap akan datang lagi tahun depan, dan orang-orang seperti Hardiansyah akan kembali berhadapan dengannya — kali ini tanpa pilihan untuk menjauh.
Kisah seorang ojek daring di Palembang ini adalah pengingat keras bahwa krisis iklim tidak berhenti pada pemanasan suhu atau hilangnya ekosistem. Ia merasuk ke dapur, ke jalanan, dan ke dalam paru-paru mereka yang paling tidak berdaya menghadapinya.
Comments (0)